Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 137 - Rumah Baru


__ADS_3

Selih waktu berganti. Malam kini membalut rumah baru Lendra dan sekitarnya. Lendra dengan ditemani minuman dingin dan beberapa cemilan yang disediakan Tania di meja yang berada di depan televisi. Ia menghampiri suaminya dengan rok yang panjangnya hanya selutut.


"Mas!" panggil Tania. Lendra hanya berdehen tanpa menoleh menatap kearah istrinya dan masih fokus pada layar televisi.


"Aku boleh tidak Mas bekerja di kantor Vania?" seketika Lendra langsung menatap Tania dengan intens dan meletakan cemilan yang dipegangnya di atas meja.


"Buat apa kamu kerja?" tanya Lendra enteng.


"Mas, kamu masih sakit dan sekarang kita harus mandiri dan kamu juga harus berobat. Mau ngk mau aku harus kerja buat kehidupan kita sehari hari. Aku yakin kok Mas, Vania pasti bakal ngeizinin. Vania itu baik Mas walau pun sering bentrok sama kamu!"


Lendra hanya diam mendengar ucapan Tania. Ia sedikit tersinggung dengan ucapan istrinya. Ia merasa tidak berguna menjadi seorang suami yang membiarkan istrinya bekerja tapi, apalah dayanya dengan kondisinya yang belum stabil dan ia juga masih berada di kursi roda. Bagaimana ia dapat menghidupi Tania?.


"Kamu ngk ada jalan lain selain bekerja di kantor Vania?"


"Mas, Vania pasti izinin kok Mas?"


"Bukan masalah diizinin atau tidak Tania, aku tau Vania itu sepupu sekaligus sahabat kamu jadi tidak mungkin dia tidak menerima kamu. Kamu juga harus memikirkan jarak antara kantor Vania dengan rumah kita itu tidak dekat. Kalau kamu terjadi apa apa bagaimana?, siapa yang bakal jagain kamu?" khawatir Lendra.


"Mas, kamu tenang saja aku akan baik baik saja kok dan aku akan jaga diri!"


"Ngk, aku ngk izinin!"


"Mas, hayolah Mas!"


"Ngk!"


"Aku ngk izinin!"


"Terus kita hidup dengan cara apa Mas?"


"Sekali ngk tetap ngk Tania!" kekeh Lendra pasa pendirianya setelah beberapa menit terjadi jeda.


Tidak mau berdebat lebih panjang lagi. Lendra bersama kursi roda masuk kedalam kamar dan meninggalkan Tania yang tampak kecewa dengan keputusan suaminya yang tidak memikirkan kedepanya.

__ADS_1


"Kalau begini bagaimana aku dan kamu bisa bertahan hidup Mas. Uang yang di berikan Papa tidak akan cukup untuk keperluan kita kalau kita tidak bekerja!" teriak Tania di tempatnya yang masih di dengar jelas oleh Lendra.


Seolah tidak mendengarkan ucapan Tania. Lendra malah merebahkan tubuhnya diatas kasur dan tidak menghiraukan Tania.


Lama berfikir membuat Tania terpejam diatas sofa dengan televisi yang masih menyala. Lendra tidak langsung memejamkan matanya. Ia kembali menghampiri istrinya dan melihat Tania yang sudah terlelap. Ia mematikan televisi dan mengambilkan selimut untuk Tania. Ia tidak tega untuk membangunkan istrinya dan ia juga tidak kuat untuk mengangkat Tania.


Malam berganti pagi. Dinginnya subuh menyengat tubuh Tania. Ia terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang di lihatnya adalah suaminya yang masih tertidur di sebelahnya. Tania sangat tidak meyangka kalau Lendra akan memperlakukanya selembut ini. Ia juga melihat tubuhnya yang sudah di balut selimut. Selimu itu kemudian dialihkanya keatas tubuh Lendra.


Selesai dengan ritual mandinya. Tania membangunkan Lendra dengan lembut untuk menyuruh lelaki itu melaksanakan kewajibanya sebagai umat muslim.


"Hmm.... hmmm entar Tan!" raum Lendra dengan suara khas bangun tidur.


"Mas sudah masuk subuh!"


"Iya entar aku bangun masih juga jam lima entar aku bangun jam tujuh!"


"Kamu mau solat apa jam tujuh Mas?"


"Yaudah besok aja Tan!"


"Tania aku masih ngantuk!"


"Mas, kamu yang butuh Allah bukan Allah yang butuh kamu!"


"Iya, iya!" kesal Lendra terpaksa membuka matanya secara sempurna dan mulai mengerakan kursi rodanya. Sembari menunggu suaminya membersihkan diri Tania menyiapkan tempat dan melebarkan sajadah untuk tempat mereka solat.


Tak sampai tiga puluh menit keduanya selesai melaksanakan solat. Tania mencoum telapak tangan Lendra dan Lendra mengecup kening Tania dengan lembut. Sungguh saat tenang rasanya meletakan ujung bibirnya di kening istrinya hingga ia membiarkan hal itu berlangsung cukup lama.


"Aku tidak tau bagaimana rumah tangga kita kedepanya Mas, aku hanya berharap semua adalah jalan terbaik untuk mu dan juga untuk ku. Ku harapkan takdir Allah yang paling indah untuk kita!" gumam Tania dengan mata terpejam menikmati sentuhan suaminya.


"Kenapa aku baru menyadari kesolehan dan kesabaraan istri ku saat ini dan kenapa aku selalu mengabaikanya?" gumam Lendra pula.


Huekk hueekkk

__ADS_1


Spontan Tania langsung berlari kearah wastafel. Perutnya terasa tidak enak. Ia merasakan mual tidak seperti biasa. Lidahnya terasa pahit dan tidak ada yang di muntahkanya namun perasaanya saat ini sangat tidak nyaman.


Lendra tidak hanya tinggal diam. Ia menghampiri Tania yang berada di dapur dan mengurut bagian leher istrinya namun, tetap Tania tidak mengeluarkan apa pun.


"Tan, kamu kenapa?" tanya Lendra khawatir setelah Tania membersihkan mulutnya. Tania hanya mengeleng dan berjalan menuju meja makan.


"Kamu kenapa Tan?" tanya Lendra dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.


"Sepertinya aku tidak enak badan Mas!"


"Maaf ya tadi malam aku bukanya banguni kamu malah biarin kamu tidur diluar jadi, sekarang kamu masuk angin gini!" ujar Lendra tak enak hati.


"Mas ini bukan salah kamu kok. Lagian kamu sudah selimutin aku semalam. Aku juga sering kok tidur di luar tapi tidak apa apa kok. Mungkin ini memang tubuh aku yang kurang fitt. Kamu ngk perlu merasa bersalah seperti itu!"


"Ya sudah mending kamu istirahat!"


"Aku ngk bisa istirahat Mas, aku harus masak untuk kita!"


"Kamu harus istirahat biar makanan aku beli di luar!"


"Memang kamu mau beli makanan dimana? Kamu mau makanan warteg?"


"Kenapa ngk?" ujar Lendra dengan wajah sok beraninya dan menaikan kedua pundaknya serta tersenyum manis pada istrinya.


"Yakin?"


"Tapi kamu yang bilang kita sudah tidak memiliki apa apa jadi kita ngk bisa hidup seperti dulu apalagi bermewah mewah!" ucap Lendra dengan percaya dirinya.


"Aku ngk yakin Mas kamu bisa makanan makanan seperti itu. Sudahlah Mas jangan memaksakan diri biar aku yang masak!"


"Ngk Tan, kamu harus istirahat. Aku ngk izininin kamu masak. Kamu taukan apa hukumnya membantah larangan suaminya!"


"Baik Pak Bos!" ujar Tania melebarkan tangan kananya dan meletakanya di sebelah telinganya. Seperti seorang bawahanya yang sedang menuruti perintah atasanya. Melihat kelakuan Tania Lendra hanya tertawa lebar seperti tidak ada beban dan untuk kesekian kalinya ia memeluk Tania dengan erat.

__ADS_1


"Mas jangan kuat kuat tau, sesak nafas aku nih!"


"Lah terserah aku dong yang aku pelukan istri aku!"


__ADS_2