Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 48 - Memberikan ginjal


__ADS_3

Lendra dan Tabia sampai lebih dulu di rumah sakit. Secara spontan dan tak sadarkan diri, Lendra menarik tangan Tabia menuju ruangan orang tuanya di rawat, dalam kondisi yang genting, Tania juga tidak menyadari tangan Lendra yang melingkar di pergelangan tanganya.


"Suster bagaimana kondisi pasien yang berada di ruangan icu no 3?" tanya Lendra pada seorang wanita yang mengenangkan pakaian serba putih di ruang administrasi dengan tangan yang masih mengengam tanganTania.


"Pasien sedang di tangani Dokter!"


Tampa bertanya lagi Lendra segera menarik Tania dan berlari menuju ruangan orang tuanya. Ia hanya dapat menatap wajah tenang Liora dan Delino dari balik kaca bening yang menjadi pembatas di antara mereka.


"Pa cepat sadar ya!" lirih Lendra kini tubuhnya sudah melemah dan hanya dapat bersandar di balik kaca itu dengan buliran bening yang mengalir di wajahnya.


"Ma jangan tinggalin Lendra dan Naila, Lendra lakuin semua ini demi Mama, Lendra sayang sama Mama!"


Tania mengelus punggung Lendra dengan lembut mengunakan tangan kirinya yang tidak di gengam oleh Lendra. Ia tidak tau harus mengatakan apa pada suaminya, ia ikut merasakan kesedihaan yang di rasakan oleh Lendra, walau Liora menjadi mertuanya baru beberapa hari dan ia juga baru saja mengenal keluarga ini.


"Aku ngk mau kehilangan Mama, Tania!" ucap Lendra yang kini menatap kedua bola mata Tania dengan lekat. Dalam keadaan seperti itu, rasa empati Tania semakin mendalam. Air matanya ikut menetes saat menatap wajah tampan Lendra yang kini tampak lusuh.


"Aku juga yang kenal Mama baru beberapa hari ikut merasakan kesedihan yang Mas rasakan, bagaimana pun Mama dan Papa adalah orang tua yang sudah menjadi bagian dari hidup aku!" ucap Tania.


"Aku tidak akan iklas jika Mama pergi!" ucap Lendra yang kini menatap kembali kearah Liora yang kini masih terbaring lemah di atas kasurnya dan sedang di tangani oleh dua Dokter bersama beberapa anggota medis lainya.

__ADS_1


"Jika pendonor ginjal buat Mama belum juga di temukan, aku bersedia mendonorkan ginjal ku buat Mama dan aku juga akan tetap memberikan darah ku pada Mama!" ucap Tania yang juga menatap pada Liora.


"Kamu gila? Atau kamu sedang tidak sadar?" tanya Lendra spontan dan langsung kembali menatap Tania yang berdiri di sebelahnya. Tiba tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia hanya tidak menyangka bagaimana bisa seseorang memberikan ginjal pada orang lain.


"Aku sudah anggap Mama seperti Mama aku Mas, aku bersedia ngelakuin apa pun demi Mama!" ucap Tania.


Lendra benar benar tidak habis pikir, bagaimana di jaman seperti ini ada orang sebaik dan setulus Tania. Ia tidak lagi memikirkan kondisi kesehatanya dan bagaimana keadaannya kedepannya demi orang lain. Sungguh manusia yang sangat langkah untuk di temukan.


Langkah Rusdi dan Naila secara serentak terhenti, keduanya saling lempar pandang satu sama lain saat melihat Tania dan Lendra yang terlihat dekat apalagi Lendra yang terus mengarahkan pandanganya pada Tania.


"Kak Lendra sudah bisa menerima kak Tania?" tanya Naila pada Rusdi yang selangkah di belakang sampingnya. Rusdi kembali menatap kearah Lendra dan Tania, keduanya tampak berdekatan dan tidak ada jarak di antara keduanya, bahkan Rusdi juga melihat ada lingkaran di pergelangan tangan Tania, Lendra belum juga melepas gengamanya dari Tania.


"Sebaiknya kita tunggu dulu di sini, biar mereka memiliki waktu berdua dan seiring berjalannya waktu, Kakak yakin Tania bisa membuat Kakak Lendra jatuh cinta padanya!" ujar Rusdi yang kini menyamakan langkahnya dengan Naila dan berdiri sejajar dengan wanita itu.


"Mama masih bisa bertahan dan aku yakin bakal ada orang baik yang akan mendonorkan ginjalnya untuk Mama dan kamu jangan berniat untuk hal itu, karena kesehatan bukanlah suatu candaan!" ujar Lendra.


"Kesehatan Mama nomor satu!" singkat Tania.


"Setulus itu hati kamu Tan!" gumam Lendra yang masih saja memandang wajah Tania.

__ADS_1


"Maaf, aku sering nyakitin kamu!" ujar Lendra yang kini meraih wajah Tania dan mengelusnya dengan lembut. Tatapanya pada Tania benar benar tulus, tidak ada kebohongan yang tersimpan


"Apa apaan kalian!" teriak Safania yang baru saja tiba di antara mereka, entah dari arah mana ia berasal tetapi saja wanita ini sudah berada di tempat ini. Naila dan Rusdi juga merasa terkejut dengan kehadiran Safania tetapi, mereka memilih untuk berdiam diri di tempatnya dan melihat apa reaksi Lendra terhadap peristiwa ini.


"Safania!" lirih Lendra pelan namun, masih dapat di dengar oleh mereka, ia segera menurunkan tangan dari Tania dan membalikan tubuhnya agar tidak lagi menatap Tania.


"Apa yang kalian perbuat?" tanya Safania yang kini menatap Lendra dan Tania dengan tajam secara bergantian dan mengelilingi dua sejoli itu, Lendra hanya dapat terdiam dan tertunduk sedangkan Tania bersikap biasa saja, tidak ada rasa takut dalam dirinya karena menurutnya Lendra juga miliknya dan ia juga berhak mendapat perlakuan yang sama dari suami mereka.


"Kamu bisa jelasin semua ini keaku?" tanya Safania yang kini berdiri di hadapan Lendra, Lendra hanya menarik nafasnya panjang dan kemudian menghembuskanya.


"Kamu mengoda Lendra?" tanya Safania yang kini menatap Tania dengan tajam karena kekasihnya itu tidak menjawab pertanyaan darinya.


"Aku tidak mengoda Lendra dan kamu perlu ingat jika Lendra juga suami ku, meski ia tidak mencintai ku tapi, secara agama dan negara kami sah!" ucap Tania dengan tegas dan dengan nada sedikit sombong.


"Apa maksud mu?" tanya Safania dengan kedua bola mata melotot dan emosi yang mulai tertuju pada gadis yang ada di depanya.


"Aku pikir harusnya kamu sudah mengerti dan aku tidak perlu untuk menjelaskanya dari awal!" balas Tania.


"Kamu ingin mencoba meminta hak mu?, dasar tidak tau malu, harusnya kamu sadar kalau Lendra tidak mencintai mu dan kalian menikah hanya karena orang tua Lendra menyukai mu bukan karena Lendra memiliki rasa sama kamu, harusnya kamu malu dan sadar dengan posisi mu dan meminta pada Lendra agar segera menalak kamu. Aku kasihan lihat posisi kamu, ada tapi tidak di anggap!" ucap Safania panjang lebar dan kemudian melibat kedua tanganya di atas dadanya, membuat kesombongan pada dirinya semakin terlihat.

__ADS_1


"Kamu pikir dengan kamu mengatakan hal itu aku akan menyerah? Tidak, aku akan tetap perjuangkan pernikahaan aku, kamau memang wanita yang si cintai Mas Lendra, tapi kamu juga harus ingat posisi aku lebih kuat di sini, aku istri yang di akui secara agama maupun hukum dalam negeri ini dan aku yakin dengan bantuan dan doa dari Mama Liora aku secepatnya dapat mengubah rumah tangga aku menjadi lebih baik!" balas Tania yang sebenarnya ia sakit hati mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Safania, namun ia juga tidak boleh menampakan kesedihannya jika, tidak ingin semakin di tertawakan oleh gadis ini.


"Sudahlah!, Jangan terlalu yakin Nyonya nanti jatuh mu terlalu sakit!" ujar Safania.


__ADS_2