
Tania sedikit terkejut mendengar ucapan Lendra. Apakah yang baru saja di dengarnya adalah sebuah mimpi atau halusinasinya saja yang terlalu tinggi berharap?. Tania mendekatkan tubuhnya dengan Lendra untuk memastikanya namun, lelaki itu justru menyingkirkan tubuh Tania yang sudah sangat dekat denganya.
"Tidak salah kamu menyuruh ku untuk mencabut foto foto Safania dari dalam kamar kamu, Mas?" tanya Tania dengan mata tepelongo.
"Kamu istri ku jadi, kamu lebih berhak dari pada Safania!"
"Safania juga istri kamu, Mas!"
"Aku akan menalaknya!"
"Aku juga sudah mengugat kamu, Mas dan sebentar lagi kita akan berpisah jadi, aku tidak perlu memajang foto foto aku di dinding kamar kamu yang estetik ini!" ujar Tania tersenyum sembari mengusapkan tanganya pada figura yang menampakan foto Lendra dan Safania yang saling tatap dan bergandeng tangan yang sedikit berdebu.
"Tan kamu yakin dengan keputusan kamu?, aku janji Tan, aku akan berubah dan aku akan berusaha semaksimal mungkin buat kamu bahagia tapi, aku mohon Tan jangan tinggalin aku di saat aku seperti ini. Aku janji aku hanya akan mencintai kamu tanpa ada orang lama atau pun orang baru. Plisss Tan ubah keputusan kamu hentikan semua urusan kamu di pengadilan agama!" mohon Lendra mengadahkan kedua tanganya di hadapan Tania yang tidak menoleh kearahnya. Dari binaran mata lelaki itu, Lendra terlihat sangat tulus meminta maaf dan tidak sedikit pun ada bayangan kebohongan terpencar.
"Safania cantik ya Mas sampai aku segila itu padanya. Andai aku berada di posisinya mungkin aku akan jadi wanita paling bahagia dan pastinya tidak akan terlintas di pikiran aku buat ninggalin kamu tapi, sayangnya aku tidak pernah di posisi Safania sebagai gadis yang kamu cintai!"
"Kamu bisa berada di posisi itu Tan asalkan kamu beri aku kesempatan Tan buat perbaiki semuanya. Aku akan meratukan mu setelah pahitnya pernikahaan yang aku beri ke kamu!" Tania hanya mengeleng.
"Kamu terlambat Mas kecewa ku sudah terlalu dalam, luka ku sudah terlalu perih, hati ku sudah tertancap bekas yang melekat dan akan sangat sulit untuk menghapusnya!" balas Tania.
"Tan!" Lendra meraih tangan Tania dan mengecupnya lembut.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan terbaik kamu aku iklhas tapi sebelum surat itu keluar dari pengadilan izinkan aku membahagiakan mu sejenak sebelum posisi kita menjadi orang asing!" Tania hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kita sudah tidak perlu menunggu lama Mas, surat dari pengadilan paling lama akan keluar dua minggu lagi dan setelah itu hubungan kita sebagai suami istri akan berakhir. Aku berharap setelah ini kamu banyak mendapat pelajaran dan dapat mengubah hidup kamu lebih baik!" Tania melepaskan gengaman tangan Lendra dari pergelangan tanganya.
"Tania kamu mau kemana?" tanya Lendra melihat Tania yang sudah melewati pintu kamar.
"Aku mau masak Mas!"
"Kenapa di saat aku sudah begitu yakin dengan keputusan ku, kamu malah berubah Mas dan kamu meminta ku untuk memulainya lagi. Aku sebenarnya bisa Mas tapi, aku ngk yakin kamu benar benar berubah, aku takut di saat kita sudah bahagia dan kamu bangkit dari keterpurukan kamu, kamu justru balik ke Safania dan meninggalkan aku kembali. Aku tidak sekuat itu Mas dan aku sangat yakin kamu meminta ku bertahan hanya karena kamu tidak kesepian dan hati kamu masih melekat pada istri kedua mu!" gumam Tania dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Tania!"
"Awwhhhh!" wanita usia muda itu memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat terbentur dinding dapur.
"Kamu ngkpp Sayang?" Liora memperhatikan seluruh kepala menantunya untuk memastikan tidak ada bahaya yang mengenai istri anaknya itu.
"Tania ngkpp Ma!"
"Tania tau kok Ma!"
"Tania lain kali jangan bermain main dengan api, kamu jangan kebanyakan melamun!, Lihat itu ikan yang kamu goreng, percikan minyaknya hampir saja mengenai kamu, kamu juga tadi hampir mengiris tangan kamu sendiri, kamu ngk sadar ya kalau yang kamu potong itu bukan bawang lagi!" Tania melihat kearah bawah benar saja telenan yang di pakainya untuk mengiris bawang sudah berlumur darah.
"Lihat tuh tangan kamu sudah berdsrah begitu!"
Tania mulai menyadari kebod*hanya, ia sudah mengirisnya cukup panjang tapi, ia tidak merasakan perih sama sekali. Ia melihat darah segar mengucur dengan deras dari jarinya. Liora langsung mengambil lap bersih dan menbalutkanya pada luka Tania.
__ADS_1
"Pa, Mama minta tolong bawakan kotak p3k!" teriak Liora kencang.
"Kotak P3k?, buat apa?" gumam Lendra mendengar terikan Mamanya. Ia segera keluar dari kamar setelah mengambil benda yang di inginkan Liora dari laci meja yang berada di sebelah ranjangnya.
"Pa kotak P3k mama minta tolong tangan Tania berdarah!" mendengar nama istrinya Lendra mempercepat pergerakan kursi rodanya menuju sumber suara yang di duganya berada di dapur.
"Ma, Tania kok bisa gini sih Ma?, kamu ngk hati hati ya Tan, kalau kamu ngk bisa masak yaudah biar Bibi saja dari pada kamu luka seperti ini!" panik Lendra mulai meneteskan obat biru pada luka Tania. Tania hanya terdiam dan pasrah melihat kekhawatiran Lendra. Liora juga tidak menyangka anaknya akan sepanik ini.
"Mama gimana sih Ma kok bisa biarin Tania sampai kek gini seharusnya biar bibi saja yang masak!"
"Ma ini kotak p3knya!" ucap Delino yang baru saja sampai dan memberikan kotak itu pada istrinya.
"Papa telat, Lendra sudah mengantarkanya dan Papa lihat anak Papa ini sudah menyalahkan Mama karena Tania yang kurang berhati hati!" aduh Liora pada suaminya dan meletakan benda yang di berikan Delino di atas westafel cuci piring.
"Benar begitu Lendra?" tanya Delino memasang wajah murkanya.
"Mama membiarkan Tania terluka dan hanya membalutnya dengan lap saja, darahnya tetap mengalir Pah, seandainya Mama yang seperti itu, apakah Papa akan membiarkan Mama terluka?" ujar Lendra setelah membalut luka Tania dengan perban, ia juga menatap kedua orang tuanya dengan malas secara bergantian.
"Tapi kamu juga tidak boleh menyalahkan mama kamu Lendra, bagaimana pun dia tetap orang tua kamu dan tidak mungkin Mama membiarkan Tania dalam bahaya. Kamu taukan bagaimana sayangnya mama mu ini pada menantunya?, buat apa juga mama kamu teriak teriak seperti tadi kalau tidak khawatir dengan Tania?"
"Pa!"
"Mas!" Tania memotong pembicaraan Lendra.
__ADS_1
"Aku cuma ngk mau kamu kenapa kenapa!"
"Aku ngkpp Mas, justru tadi Mama yang nolongin aku kalau Mama ngk nyamperin aku mungkin aku sudah ngiris semua jari aku ini dan wajah aku ini pasti kenak percikan minyak!" jelas Tania. Seketika tatapan Lendra terhadap mama dan papanya berubah menjadi wajah permintaan maaf.