
"Ternyata kamu tidak setampan yang aku pikirkan!" elak Tania yang memutarkan pandanganya dan menatap kearah sebelah kirinya. Kini Tania yang merasakan risih ditetap oleh Lendra dengan seksama, jiwa percaya diri dalam dirinya membuat dia tak nyaman.
"Kenapa Mas menatap ku seperti itu? dan kenapa Mas menghentikan mobilnya bukankah perjalanan kita masih jauh?" tanya Tania ragu ragu.
"Kamu kepedean!" singkat Lendra setelah menarik nafasnya dan menegelengkan kepalanya mendengar ucapan Tania dan ia kembali melanjutkan menyetir mobilnya. Tania mengerti maksud Lendra ketika ia menatap kearah depan, ternyata tadi sedang lampu merah makanya Lendra menghentikan mobilnya.
Didalam mobil Tania merasa sangat tidak nyaman, ac yang dinyalakan Lendra terlalu tinggi, ia mulai merasa kedinginan dan mulutnya juga sangat sulit untuk dikontrol, ia merasakan mual yang terus terulang ulang.
"Kamu kenapa?" tanya Lendra tak mengerti.
Uweekkkkkk
Untungnya Tania dengan cepat mengambil kantong plastik yang ada didekatnya dan memuntahkan seluruh isi perutnya kedalam plastik itu, jadi mobil Lendra tidak kotor, seketika lelaki itu kembali menghentikan mobilnya dan menatap tajam pada wanita yang duduk disebelahnya, Tania hanya dapat tertunduk, pasti Lendra marah besar padanya dan ia harus menerima semua resiko itu.
Betul saja Lendra langsung menarik tangan Tania keluar dari dalam mobilnya dan mengambil kantong plastik yang dipegang Tania dan membuangnya. Sudahlah habislah riwayat Tania, pasti Lendra akan meninggalkanya ditempat ini dan Tania sudah pasrah dengan hal itu.
"Kamu kenapa ngk bilang kalau kamu ngk tahan sama ac?" mendengar pertanyaan Lendra, Tania langsung menatap lelaki itu tercenggang, ternyata Lendra tidak marah sedikit pun, bahkan kini lelaki itu memijat lehernya yang terasa kaku.
"Kamu ngk marah Mas?" tanya Tania takut.
"Buat apa aku marah, wajar kok hal seperti ini terjadi tapi kenapa kamu ngk bilang kalau kamu ngk tahan kalau kek ginikan nyusahin aku!" ucap Lendra yang kembali masuk kedalam mobilnya dan Tabia hanya dapat menatapnya dari tempatnya.
__ADS_1
"Lain kali kalau ngk tahan itu ngomong, jangan diam diam aja, akukan ngk tau!" ucap Lendra yang sudah kembali dihadapan Tania dan mengoles leher Tania dengan minyak kayu putih yang diambil ya dari dalam mobil.
"Nih kamu olesin kebagian perut kamu!" Tania segera mengambil benda itu dari tangan Lendra dan melaksanakan apa yang pria itu perintahkan padanya dengan mata yang tidak lepas dari wajah Lendra yang juga menatapnya.
"Nih sudah Mas!" ucap Tania seraya menyerahkan kembali minyak kayu putih pada Lendra dan hendak masuk kembali kedalam mobil karena kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, namun Lendra mencengkal tangan Tania, kini Tania menatap tangan Lendra yang melingkar dipergelangan tanganya dan kemudian menatap wajah Lendra dengan penuh tanya.
"Kita duduk disini saja dulu, kasihan kamu baru muntah gitu!" ucap Lendra yang mulai sadar dengan sikapnya dan segera melepaskan tanganya dari tangan Tania.
Keduanya duduk ditepi jalan yang tidak terlalu ramai, Kini hanya ada keheningan diantara dua sejoli itu. Lendra hanya membungkam dan Tania yang tidak tau harus mengatakan apa, tapi secara diam diam gadis itu menatap Lendra tersenyum malu malu, ia masih tidak menyangka jika Lendra bersikap semanis ini padanya, sungguh diluar ekspetasinya.
Dengan mengunakan jas berwarna cream, kemeja putih dan celana yang senada dengan atasanya, tak lupa dengan sepatu kulit berwarna hitam, Lendra berjongkok dihadapan Tania yang mengenakan gaun berwarna putih sembari memegang bunga tersenyum pada lelaki itu.
"Maukah kamu menjadi bagian dari hidupku!" ucap Lendra menatap Tania penuh harap dengan tangan yang sudah memajangkan cincin emas beserta kotak merahnya ditanganya, Tania hanya mengangguk dan Lendra segera memasangkan cincin itu di jari manisnya.
"Kamu kenapa senyum senyum?" tanya Lendra binggung dengan sikap Tania yang tidak jelas dan tidak tau senyum pada siapa.
"Ha? Ngk Mas! Tania ngk ada senyum, Mas mungkin salah lihat!" elak Tania setengah malu, ternyata tadi hanya haluanya semata bukan hal yang benar benar terjadi, bagaimana bisa di perlakukan manis oleh Lendra hanya beberapa menit saja sudah membuatnya mengkhayalkan hal yang tidak akan mungkin terjadi.
Untung saja Lendra tidak melanjutkan pertanyaanya dan memilih untuk diam, jika tidak, Tania harus menanggung malu yang tebih besar lagi, ia menepuk jidatnya pelan dan menyadari kebod*ohan yang terjadi dalam dirinya, sekarang menatap kearah Lendra saja ia tidak memiliki keberanian.
"Kamu sudah sarapan?" Tania mengeleng.
__ADS_1
"Kita cari makan dulu yuk!"ajak Lendra yang langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil, Tania hanya mengikuti saja apa yang diperintahkan lelaki ini.
"Mas itu ada warung makan!" ucap Tania bersemangat dengan tangan yang menunjuk kearah tempat yang ia maksud melalui jendela yang berada disebelah kirinyanya, Lendra mengeleng.
"Itu Mas ada warung makan!" lagi lagi Lendra mengeleng, ia tidak mungkin makan ditempat seperti itu, sebagai seorang ceo tiga perusahaan besar, tidak layak rasanya makan dilokasi yang sangat dekat dengan jalan seperti itu, walau pun harganya yang terbilang murah, pasti cita rasa dan kebersihaanya tidak terjamin seperti yang biasa ia makan direstoraan yang mengutamakan kenyamanan.
Tania sekarang hanya terdiam ditempatnya, percuma saja dia mengoceh sepanjang perjalanan, mengajak Lendra makan ditempat yang ia mau, pasti suaminya akan menolaknya, tapi rasa lapar tidak bisa dibohongi oleh Tania, perutnya mulai bersuara dan mengeluarkan pendapat masing masing setiap cacing, ia memegangi perutnya yang mulai terasa perih tampa berani mengatakannya pada Lendra.
"Mas kita jadinya mau makan dimana?" tanya Tania memberanikan diri setelah sejak tadi Lendra hanya mengajaknya mutar mutar dijalan seperti ini.
"Lokasinya masih terbilang cukup jauh!"
Tania langsung menatap Lendra bisa bisanya lelaki ini mengatakan hal ini sesantai ini padanya, disaat ia sudah kelaparan seperti ini, haruskah ia menahan laparnya demi makan direstoran mewah yang menjadi tempat favorite Lendra. Lendra menyadari betul jika Tania menatapnya dan ia juga memperhatikan tangan Tania yang tidak lepas dari perutnya.
"Kenapa mau mual lagi?"
"Mas,Tania lapar bukan mau mual, semua isi makanan Tania tadikan sudah Tania keluarkan dan Mas masih mau mencari restoran mewah disekitaran sini? kalau begitu nanti setelah Mama dan Papa keluar dari rumah sakit biar aku yang mengantikan mereka diranjangnya!" ucap Tanja ngasal.
"Emang kamu pengen sakit, kalau kamu sakit emang ada yang peduli sama kamu? sudah mending sehat saja biar tidak menyusahkan orang!"
"Iya tapi Tania lapar Mas, Mas mau makan dimana sih sebenarnya?" kesal Tania.
__ADS_1
"Ntar lagi nyampe kok!" Tania hanya dapat menghembuskan nafasnya gusar, ia menatap kearah perutnya dan mengelusnya.