
Lagi, lagi di pandangnya handphone milik Lendra berdering. Tania segera menutup layar ponsel Lendra agar tidak terus terus melihat nama orang yang yang menghubunginya pagi pagi seperti ini.
Sembari menunggu makanannya, ia mendudukan bokongnya di tepi ranjang, di sebelah tubuh Lendra. Dielusnya kepala suaminya dengan lembut kemudian di kecupnya kening Lendra penuh kasih sayang. Hal itu di saksikan langsung oleh air mata Tania, ia menjadi saksi kalau Lendra memiliki seorang istri yang amat sangat mencintainya.
"Mas ini pertama dan terakhir buat aku mencium kamu seperti ini. Aku sebenarnya tidak ingin semua ini terjadi tapi, aku juga tidak tahan dengan semua perlakuan kamu. Awal awal pernikahan kita, aku kira aku bisa bertahan dengan semua ini dan bisa membuat kamu mencintai aku ternyata, aku gagal untuk semua itu Mas. Seperti ucapan mu, akan ku turut keinginan mu, kita akhiri rumah tangga kita biar aku yang pergi dan nanti aku juga yang bakalĀ bilang ke mama. Kamu baik baik ya, Mas. Aku pamit!"
Setelah menyajikan semua makanannya yang sudah datang. Tania memutuskan untuk segera meninggalkan apartemen dan mengakhiri hubungannya dengan Lendra. Segera di langkahkanya kakinya keluar kamar dengan membawa koper bersama air mata yang ikut mengalir.
Dengan berat hati dan berulang kali menoleh kebelakang menatap Lendra yang masih tertidur pulas. Tania benar benar tidak siap untuk meninggalkan suaminya tapi, apalah dayanya sebagai manusia biasa yang juga mengharapkan kebahagiaan dan itu tidak akan di temukanya pada Lendra yang masih mencintai wanita lain.
Secara kertas sempat di tuliskan Tania dan di letakanya di atas meja yang tak jauh dari ranjang tempat tidur mereka agar Lendra dapat membacanya setelah nanti ia terbangun pasti itu akan menjadi kado terindah yang dapat Tania berikan pada suaminya. Secara tidak langsung Lendra sudah lama meminta agar Tania melakukan hal ini.
Ditelusurinya jalanan yang terasa menyengat kepalanya hingga bagian ubun ubunya. Di gerakan kakinya untuk terus melangkah menjauh dari sekitaran apartemen. Dengan beberapa lembar uang yang ia punya Tania memilih untuk sejenak mengisi perutnya, makan di pinggir jalan.
Tak lama setelah kepergian Tania, Lendra terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa sangat lapar, apalagi matahari yang mulai menaik dan semalam ia juga belum sempat mengisi perutnya di malam hari. Betapa lengkapnya hidup Lendra ketika ia terbangun ia sudah melihat makanan terbilang dengan rapi.
__ADS_1
Segera di hampirnya makanan makanan itu setelah mencuci muka. Baru memakan setengah dari makananya Lendra mulai tersadar ada yang kurang darinya tapi, apa? Siapa?. Akhh, sudah ia memilih untuk melanjutkan makananya.
Terdiam ia kembali. Ia benar benar merasakan ada kekosongan dalam dirinya namun, ot*knya juga belum mendapat respon yang baik dari pikiran laki laki ini.
Belum sempat menghabiskan makananya Lendra mendengar suara deringan telpon dan ia sudah dapat menduga bahwa hp yang berbunyi itu miliknya karena sudah tidak ada orang di tempat ini kecuali dirinya. Lendra segera mengambil benda itu dan mengangkat telpon dari Safania.
"Kamu gimana sih katanya mau ngabari aku kalau sudah sampai ternyata, apa kamu malah ngk ada hubungi aku, kamu malah asik asikan sama perempuan lain di belakang aku, pantas saja perginya tidak izin dulu baru bilang ketika sudah di perjalanan. Perempuan mana saja yang sudah berhasil kamu goda." Baru saja mengangkat telponya Lendra sudah di sambut okelah tidak jelas dari istri keduanya yang tidak tau apa yang sudah terjadi sebenarnya.
"Saya nih aku baru bangun lho, kamu sudah marah marah seperti ini. Sayang jangan rusak pagi indah ku yang dengan ocehan tidak jelas mu itu!" ucap lendra yang langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.
"Ihhhh apaan sih Lendra!" kesal Safania menekan tombol handponenya dengan kasar. Lendra memang bukan tipe lelaki yang mau marah atau main tangan pada wanita tapi, Safania tau betul jika, suaminya itu paling tidak suka ketika ia baru terbangun dan di suruh untuk membahas hal hal lain!"
Deringan suara telponya benar benar mengangu pendengaranya. Terpaksa ia harus mengangkat panggilan dari Safania.
"Kamu benar benar keterlaluan ya bisa bisanya kamu mematikan telponya belum selesai aku bicara. Kamu sadar tidak dengan kesalahan kamu. kamu tau tidak sudah berbuat apa?"
__ADS_1
"apaan sih Saf? aku baru bangun dan kamu sudah marah marah seperti ini. Kamukan tau aku paling tidak suka dan benci ketika ada orang yang memarahi ku ketika aku baru bangun seperti ini!" ucap Lendra tampa dosa.
"Apa kamu bilang? masih bisa yang kamu bicara seperti itu setelah apa yang kamu lakuin. masih bisa dengan mudahnya kamu ngomong kek gitu. ngk merasa bersalah banget kamu. Dimana suh hati kamu Lendra?"
Safania yang tidak pernah menamakanya semakin mengoceh di telinganya. Memaksakanya untuk mengerti dengan dengan ucapanya padahal emang ia tidak tau apa yang sudah terjadi. Ia memang mengingat kalau ia mengatakan pada Safania akan menghubunginya namun, tidak seharusnya Safania marah seperti ini tampa menanyakan penyebabnya terlebih dahulu.
"Safania tolong jangan buat aku semakin marah!"
"Oh kamu ingin marah, silahkan saja!, kamu pikir aku takut. Dasar lelaki tidak cukup dengan satu wanita!" sindir Safania. Lendra sudah mengatakan kalau dia baru saja bangun tetapi, Safania tetap saja tidak mengerti dan terus menyalahkan apalagi dengan mengatakan hal seperti ini yang sudah pasti menyinggung perasaanga.
"Apa maksud kamu? Aku tidak cukup dengan satu wanita? lalu, apa kabar dengan kamu yang mau dinikahi oleh lelaki yang memiliki istri?" sindir balik Lendra.
"Tapi aku tidak berkhianat seperti seperti kamu!"
"Aku berkhianat dimana bahkan aku rela mengabaikan Tania demi kamu. Aku rela membantah orang tua aku demi kamu tapi, kamu tega bicara seperti itu ke aku!"
__ADS_1
"Demi aku? lalu, apa kabar dengan foto yang yang sudah beredar dengan jelas di media sosial. Apakah itu yang dinamakan setia? Sudahlah jangan terlalu banyak mengelak, aku bukan Tania yang bisa kamu bohongi, sakiti dan Luka. Aku jauh lebih pintar dari istri pertama kamu itu!"
"Aku benar benar tidak mengerti dengan maksud kamu Safania!" ujar Lendra yang langsung mematikan ponselnya dan melemparkan kesembarang arah.