
"Isshhh kak Tania dan kak Lendra lama banget sih keluar dari ruangan mama kan aku juga pengen ngejenguk Mama, lama banget, emang mereka pikir anaknya tuh mereka aja, aku ngk!" kesal Naila memajukan bibirnya tiga centimeter kedepan dan menghentakan kakinya ketanah.
Rusdi hanya dapat tersenyum melihat Naila, tingkahnya sangat mengemaskan. Selain cantik, Naila jika selalu terlihat lucu walau pun sifat usil anak ini sangat besar. Naila merogoh saku roknya dan menghubungi nomor kakaknya, panggilanya di tolak oleh Lendra dan ia memutuskan untuk tetap menghubunginya melalui Tania.
"Iya Nai, Ada apa?" tanya Tania dengan lembut.
"Kak, Naila juga pengen jenguk Mama, Kakak sama Kak Lendra jangan kelamaan dong di dalam Naila juga mau tau kondisi Mama!" ucap Naila.
"Kenapa ruanganya kosong?" tanya Vandir kembali keluar dari dalam ruangan Nadya dan menemui Fikri yang berada diluar ruangan. Selepas dari kantor Polisi, Vandir tak ingin membuang waktunya lebih lama, ia segera meminta Fikri mengantarnya ketempat Nadya berada dan Fikri mengatakan jika putrinya sudah berada di rumah sakit dan sudah ditangani oleh Dokter, hanya menunggu sadarnya saja, Vandir sedikit lega mendengarnya.
Namun, sesampainya di tempat itu ia tidak menemukan orang yang dicarinya, kemana putriku. Vandir tidak memperpanjang masalah dengan polisi itu untuk menuntutnya balik, ia lebih baik mengakhirinya dan segera menemui putri dari pada harus berurusan dengan polisi yang akan membuang waktunya lebih lama.
"Ada apa Pak?" tanya Fikri yang ikut di buat panik oleh sikap Vandir.
"Ruangan itu kosong, tidak ada siapa siapa didalam, Kemana anak ku? Dimana Rafa? Apa dia tidak memperhatikan kondisi Nadya?"
"Pak Rafa? Pak Rafa mungkin berada diruangan ibu Vania!" ujarnya.
"Antarkan aku kesana!" pinta Vandir.
"Dasar bo*oh!" murka Sendro dan menendang kursi yang berada di hadapanya. Arhannya hanya dapat tertunduk. Papanya benar benar marah. Arhan juga sudah sangat lelah mencari keberadaan Tania gang tidak kunjung ditemukanya, ia sudah berkeliling kota dan ia juga sudah menambah dan mengerahkan beberapa preman untuk membantunya mencari Tania tetapi ia tidak mendapatkan apa pun.
__ADS_1
"Om Sendro!" panggil Safania. Safania yang masuk secara mendadak dan tidak memberi informasi lebih dulu menatap kearah anaknya dan Arhan yang ikut menatap Sendro. Sendro memberikan isyarat kepada Arhan agar anaknya itu saja yang menjelaskanya pada Safania.
"Bagaimana? Kalian sudah berhasil dengan rencananya?" tanya Safania yang kini berdiri di sebelah Sendro.
"Gadis itu melarikan diri!" jujur Arhan. Sendro membulatkan kedua matanya secara sempurna, menatap anaknya dengan sangat tajam, Arhan benar benar anak yang tidak bisa diandalkan. Bagaimana bisa ia mengatakan hal jujur pada Safania yang jelas wanita ini akan marah besar padanya dan tidak akan memberikan upah apa pun kepada mereka.
"Aku sudah menduganya!" ucap Safania dengan nada merendahkan dan melipat kedua tanganya dan diletakanya diatas perutnya dan membentuk sudut di bibirnya.
Sendro terkejut melihat Safania, kenapa keponakan ini bersikap biasa saja dan tidak merasa terkejut sedikit pun. Biasanya Safania pasti akan marah besar, ada apa dengan? Sendro menatap Safania dengan penuh tanda tanya.
"Dari mana kamu mengetahuinya?" tanya Arhan menatap Safania dan kemudian memutarkan pandanganya kearah Sendor dan beralih kepada bawahanya yang lain.
"Bagaimana tidak tau? Wanita itu berada di rumah sakit bersama suamiku? dan sekarang suamiku menyuruh ku pulang!" ujar Safania.
"Aku tidak perlu maaf kalian!"
"Aku hanya ingin kalian segera menyingkirkan wanita itu!"
"Bagaimana caranya?"
"Malam ini dan beberapa hari kedepan, wanita itu akan terus bersama suamiku di rumah sakit hingga pengobatan mertua ku selesai dan kondisinya kembali membaik. Aku ingin Arhan menjebaknya!"
__ADS_1
"Menjebak? Apa maksud kamu Safania?" Sendro. Safania melangkahkan kakinya maju kedepan dan membuka jendela ruangan ini yang terlihat sangat gelap karena seluruh celah masuknya cahaya di tutup rapat oleh Sendro dan Arhan agar tidak ada yang mengetahui kejahatan yang mereka lakukan.
"Arhan datang kerumah sakit, tangkap dan sekap dia. Bawa dia kesuatu tempat yang romantis dan membuat ia melupakan semua hal tentang hidupnya, bahagiakan ia dalam sehari, nikmati tubuhnya. Di saat seperti itu pula ada seseorang yang akan memotret perilaku Arhan dan mengirimkan fotonya kekeluarga Lendra tetapi jangan ke Lendra langsung karena Lendra tidak akan merasa cemburu sedikit pun, tetapi keluarga Lendra pasti tidak akan terima dengan hal itu dan akan mengeluarkan gadis kampung itu dari rumah mereka!"
"Tidak aku tidak mau, itu terlalu jahat dan jika aku mau sama saja aku sedang menjatuhkan harga diriku, aku tidak ingin merusak wanita demi kepentingan ku!" potong Rafa pada pembicaraan Safania yang belum selesai.
"Baiklah aku tidak memaksa, aku hanya menawarkan sebuah pekerjaan kepada kalian, jika kalian tidak mau aku masih bisa menyuruh orang lain, toh juga pekerjaan kalian sampai saat ini belum ada yang berhasil, percuma saja aku mempercayakan pada kalian!" sombong Safania beranjak dan hendak meninggalkan ruangan yang menjadi markas Sendro dan Arhan.
"Apa apaan kamu Arhan!" bentak Sendro dan berlari mengejar Safania dan menarik pergelangan tangan Safania agar kembali
masuk dan mempmbicarakanya ulang.
"Apalagi Om bukankah anak Om tidak mau? Aku tidak punya waktu untuk membujuknya, aku masih bisa menyuruh orang lain!"
"Arhan mau!" potong Sendro, Safania tersenyum licik pada Arhan, ia sudah dapat menduga jika Sendro pasti akan membujuknya walau pun tidak mendapat persetujuan dari anaknya. Karena sifat matre Sendro lebih besar dari pada Arhan, pria muda ini selalu memikirkan harga diri dan martabatnya, tidak seperti papanya.
"Pa!" Sendro mengangkat telapak tanganya dan mengarahkanya pada Arhan, Arhan mengerti papanya menyuruhnya untuk diam dan tidak perlu melanjutkan ucapanya. Sifat yang dibenci Arhan, demi uang papanya rela melakukan hal apa pun termasuk mengorbankan anaknya.
"Jadi gimana?"
"Aku tidak bersedia!" jawab Arhan dengan cepat dan kemudian segera keluar dari tempat ini dan meninggalkan Sendro dan safania. Safania menatap kepergian Arhan dengan santai, Sendro tidak akan diam, dia pasti akan membujuk anaknya, jadi ia tidak perlu repot untuk merayu Arhan agar mau melaksanakan perintahnya.
__ADS_1
"Biar nanti Om yang membicarakannya pada Arhan! Sekarang kita hanya perlu membahas rencana itu!" ucap Sendro.