
Setelah mencari Nadya disekitaran rumah sakit namun, tak ditemukanya sosok gadis itu. Rafa melajukan mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah sakit, ia memutuskan mencari Nadya ketempat tempat yang pernah dilaluinya bersama gadis itu.
Perasaan cemas bercampur sakit menyatu dalam diri pria itu, takut sesuatu buruk kembali terjadi pada Nadya, alami dengan kondisi Nadya yang belum stabil akibat kejadian beberapa hari lalu.
Berulang kali Rafa mendapat telpon, tapi satu pun yang diterimanya, handphonenya terus bergetar tetapi Rafa terus mengabaikanya dan tetap fokus mencari Nadya.
"Nadya!" teriak Rafa pada seorang gadis yang duduk ditepi danau setelah keluar dari dalam mobilnya. Ia melihat wanita itu tengah duduk bersama seorang lelaki di sebelahnya, Nadya juga menyenderkan kepalanya di bahu lelaki itu.
Dengan tangan mengepal dan penuh kemarahaan Rafa menghampiri keduanya, tampa ampun Rafa langsung memukul orang itu habis habisan mulai dari menumpuk perut lelaki itu hingga memutar tangan pria itu hingga terkilir dan ia melempar tubuh lelaki yang bersama Nadya itu kedalam danau.
"Apa apaan kamu Rafa, Kenapa kamu sejahat ini?" tanya Nadya tidak menyukai perlakuan Rafa, ia menatap Rafa dengan bola mata melotot.
"Kenapa kamu suka sama dia?" tanya sekaligus bentak Rafa dengan jari telunjuk yang mengarah pada pria yang berusaha untuk naik kedarat tetapi arah pandangan tetap tertuju pada Nadya.
"Kenapa? Apa urusannya sama kamu? Kamu juga bukan siapa siapa aku?" ucap Nadya lagi.
"Nad, kamu sadar ngk sih?"
"Ngk," potong Nadya cepat dan meninggalkan Rafa serta segera menghampiri lelaki itu yang sudah hampir di tepi danau. Nadya menjulurkan tanganya pada pria itu agar memudahnya naik kedaratan.
"Nadya punya gue, lho ngk berhak buat ngatur kita berdua!" ucap pria itu dengan sinis dan menarik tangan Nadya agar segera meninggalkan tempat ini dan tidak berlarut pada Rafa yang tidak jelas.
"Nadya!" teriak Rafa dengan keras.
__ADS_1
"Pak Rafa!" panggil Fikri yang kini sudah berada di dalam ruang kerja dengan membawa nampan yang berisikan makanan untuk bosnya itu.
Rafa menatap Fikri mulai dari bawah hingga atas, ia memperhatikan penampilan pria itu secara detail. Rafa juga menyapukan seluruh pandanganya ke sekitarnya dan ia melihat ruangan ini ternyata ruangan kerjanya. Rafa menarik nafasnya panjang dan menghembuskanya secara perlahan, ternyata tadi hanyalah sebuah mimpi bukan kenyataan yang sedang dialaminya.
"Bapak kenapa?" Rafa hanya mengeleng dan kemudian tersenyum, tapi senyum itu tidak tahan lama, seketika ia ingatanya kembali menyadarkan, terakhir ia mengingat ia sedang mencari keberadaan Nadya, lalu kenapa sekarang ia sudah berada di kantor. Siapa yang membawanya kesini? pikir Rafa.
"Makanan Bapak sudah saya sediakan, jangan lupa untuk di nikmati!" ucap Fikri yang kembali meninggalkan Rafa di ruanganya sendiri.
Pertanyaan yang menganjal dipikiranya saja belum terjawab, bawahanya itu sudah langsung meninggalkanya, sekarang bagaimana cara ia mengetahui kalau ia sudah berada di tempat ini.
"Apa Nadya sudah di temukan? Kenapa mimpi tentang Nadya tadi mirip banget dengan kenyataan ya dan kenapa gue jadi khawatir gini, bukannya hubungan gue dengan nadya sudah berakhir lama?" Rafa tak ingin bertarung dalam pikiranya. Ia segera bangkit dari kasur yang berada di ruanganya.
"Bapak mau kemana?" tanya seorang wanita yang mengunakan baju berwarna biru toska. Wanita itu selalu bekerja didepan pintu ruangan Rafa.
"Saya ingin keluar sebentar!" jawabnya.
"Siapa yang membawa saya tadi kesini?"
"Tadi Bapak diantar kesini oleh seorang pria yang pasti usianya lebih tua dari Bapak dan beliau tidak mengatakan apa pun dan berpesan untuk tidak memberitau perihal dirinya kepada, oh iya Pak tadi beliau juga berpesan kalau Bapak jangan lagi datang kerumah karena pintu rumah beliau tidak lagi terbuka untuk Bapak," jelas Sekretaris Rafa itu.
"Kira kira ciri ciri yang seperti apa?"
"Beliau tidak mengizinkan saya untuk menceritakan perihal dirinya kepada Bapak!"
__ADS_1
"Kamu bilang dia berpesan ke saya agar saya tidak datang kerumahnya lagi, lalu bagaimana saya tau rumah mana yang tidak akan saya datangi lagi jika saya saja tidak tau beliau yang mana,"
"Hm tadi saya juga bilang begitu kebeliau Pak dan beliau mengatakan untuk katakan saja jika beliau adalah orang yang pernah menolong Bapak di jalanan!"
"Itu pasti Pak Vandir!" gumam Rafa yang langsung berlari keluar dari dalam kantornya.
"Pak nanti ada meeting!" teriak Sekretaris Rafa yang tidak di hiraukan oleh Rafa padahal pria itu masih mendengarnya dengan jelas.
"Hufhhhh dasar memang atasan suka begitu main pergi pergi saja giliran nanti bawahanya yang seperti itu di marahi habis habisan, giliran dia yang begitu gagal ada tuh yang berani marah," rutuk Sekretaris Rafa itu sembari menekan tombol ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Pak Rafa tidak dapat hadir meeting hari ini, saya harap kamu dapat mengantikan posisi beliau karena yang paham dalam proyek ini hanya kamu dan Pak Rafa,"
"Tunda saja, itu masih bisa kita lakukan lain hari karena proyek ini mempunyai benefit yang lebih besar dan ini merupakan proyek terbesar perusahaan kita dalam enak bulan ini, jadi tidak mungkin kita membatalkannya hanya karena Pak Rafa tidak hadir, bisa bisa nanti perusahaan kita bakal mendapat rating tidak baik oleh mereka,"
"Tolong jangan hanya berfikir untuk saat ini saja tapi pikirkan juga kedepanya, nasib karyawan yang lain terutama perusahaan!"
"Beliau langsung pergi ketika saya menceritakan sosok pria yang mengantarkan beliau kesini!"
"Baiklah saya tunggu di ruang meeting, jangan sampai terlambat, nama baik perusahaan ini berada di bawah kendali kamu!"
Selesai berbicara dengan orang itu, Sekretaris Rafa meletakan handphoneya di atas meja yang ada di depanya dan mulai membuka alat make upnya dan mempoles wajahnya dengan alat tempurnya itu untuk mempercantik dirinya.
Sedangkan Rafa ia kembali menelusuri jalanan karena ia dapat memastikan jika orang yang mengantarkanya kekantornya adalah Vandir, ia harus mengucapkan terima kasih pada pria itu karena sudah berulang kali menolongnya.
__ADS_1
Tidak terlintas sedikit pun di pikiranya tentang Vania, ia hanya memikirkan bagaimana ia bisa menemui Nadya beserta ayahnya. Memang bukan dia yang mengucap kalimat itu tetapi, Vania kekasihnya tapi tetap saja ia merasa tidak enak hati pada mantan kekasihnya itu.
Bukan ia pula yang di hina oleh Vania, tapi ia yang hanya mendengarnya saja ikut merasa sakit hati apalagi Nadya yang mendengarnya. Rafa sendiri juga tidak pernah menyangka jika Vania memiliki sifat seburuk ini karena selama ini yang ia tau Vania adalah gadis yang baik walau sedikit memiliki sifat yang sedikit kasar.