
"Dimana lagi kita harus mencari Tania?" keluh Tifani yang kini keberadaan mereka sudah di taman, tempat yang biasa di kunjunginya bersama Vania.
"Vania juga ngk tau Ma!"
"Nia, Sebaiknya kamu sama tante pulang duluan, biar aku dan pegawaiku yang lain yang melanjutkan mencari keberadaan Tania," saran Rafa. Lelaki itu hanya berdiri di tepi bangku panjang berwarna putih yang di duduki oleh Vania dan Tifani.
"Tapi Raf, Aku ngk mungkin biarin kamu sendiri mencari Tania!" ucap Vania yang sepertinya ia takut sesuatu buruk terjadi pada kekasihnya itu.
"Aku tidak sendiri Sayang, aku di temani oleh karyawan ku yang lain!" ucap Rafa berusaha menyakinkan Vania sembari mengusap rambut wanita itu dengan lembut.
"Tapi,"
"Shuttttt!" mulut Vania keburu di tutup oleh jari telunjuk Rafa agar kekasihnya itu tidak lagi melanjutkan ucapanya dan segera melaksanakan perintah darinya.
"Tante tidak akan pulang sebelum Tante tau di mana keberadaan keponakan Tante!" ucap Tifani pula dengan tegas dan langsung berdiri dari bangku yang di dudukinya.
"Tapi Tante hari sudah semakin sore,"
"Saya tidak peduli!"
"Saya janji saya akan membantu mencari keberadaan Tania hingga ia di temukan tapi saya mohon tante sama Vania sebaiknya pulang dahulu biar kami yang melanjutkan mencari keberadaan Tania!" ucap Rafa dari belakang tubuh Tifani.
"Saya tidak akan tenang jika belum melihat wajah Tania, apalagi dengan keadaan seperti ini!"
"Tapi saya mohon Tante, Saya hanya tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada Tante dan Vania!"
"Mama, Kita ikuti saja perintah Rafa, ini juga buat kebaikan kita, kalau kita tetap melanjutkan mencari keberadaan Tania terus nanti Mama kelelahaan dan asma Mama kembali kambuh, justru besok kita malah ngk bisa bantu buat cari keberadaan Tania!" jelas Vania.
Mendengar penjelasan yang keluar dari mulut anaknya, Tifani terdiam sejenak, sepertinya ia sedang memikirkan perkataan Vania yang menurutnya memang logis dan benar. Melihat Tifani yang tidak memberikan respon apa pun terhadap ucapan Vania, Rafa dan Vania hanya dapat saling melempar pandangan.
"Kamu pesankan kami taksi online!"
"Tante mau pulang?" tanya Rafa dengan cepat.
__ADS_1
"Iya, Tapi jika sampai malam nanti Tania tidak juga di temukan maka besok saya akan terus mencari keberadaan putri kecil saya!"
"Baik Tante!"
"Kamu sudah mencarikan kami taksi online?"
"Tante dan Vania di antar oleh supir saya!"
"Nanti kamu mencari Tania sama siapa?" Vania
"Nanti aku di jemput oleh Safar!"
"Kamu sudah menghubunginya?" Rafa hanya mengangguk.
"Kamu hati hati ya mencari Tania, jangan sampe kamu yang terkena bahaya!" pesan Tifani yang langsung meninggalkan kedua sejoli itu dan kembali memasuki mobil Rafa.
"Ibu mau kemana?" tanya supir pribadi Rafa yang sejak tadi hanya menunggu di dalam mobil dan ia masih melihat majikanya dan Vania masih berada di taman melalui kaca spion mobilnya.
Mungkin saja ibu Tifani hendak di antar kesuatu tempat sedangkan Rafa dan Vania masih tetap di taman, pikir supir itu.
"Kerumah Ibu atau kerumah tuan Rafa?" tanyanya yang mulai menyalakan mobilnya.
"Kerumah saya dan tunggu Vania kesini!"
"Tuan Rafa?"
"Rafa yang akan melanjutkan mencari keberadaan Tania!" mendengar jawaban dari tuanya itu, supir itu segera mematikan mobilnya dan kembali duduk dengan santai.
"Sayang kamu hati hati ya!" ucap Vania. Entah kenapa sejak Rafa menyuruhnya untuk pulang, perasaanya tidak tenang, seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikanya dan ada yang mengajal di hatinya dan sepertinya ia tidak ikhlas membiarkan Rafa mencari keberadaan Tania tanpa dirinya.
"Iya Sayang pasti!" balas Rafa tersenyum tipis dan meniupkan poni Vania yang hampir saja mengenai mata gadis itu.
"Kita antar Mama pulang bareng, Aku temani kamu cari Tania!" ucap Vania dengan semangat.
__ADS_1
"Terus yang nemani Mama di rumah siapa?" tanya Rafa dengan senyum lebar di bibirnya.
"Kan ada bi Narsi!"
"Mama akan lebih tenang jika di temani eh anaknya!"
"Tapi,"
"Shuuuuttttt!" lagi lagi pria itu menutup mulut Vania agar ia tidak dapat melanjutkan ucapanya.
"Yaudah ayok temui Mama di mobil!"
Tania yang kini hanya memakai sepasang pakaian tidur, kini menelusuri jalanan kota yang semakin gelap. Kemana aku harus pergi?. Tidak mungkin baginya untuk pulang kerumah Lendra, ia masih malu jika harus kembali ketempat itu dan menyaksikan suaminya bermesraan dengan madunya.
"Akhhh, jika aku pulang sama saja seperti aku mengantarkan diriku untuk di permalukan oleh lelaki itu di hadapan istrinya, aku pergi dan aku kembali tampa di jemput, aku tidak mau berpangku tangan oleh pria seperti dia!" gumam Tania yang terus saja mengutamakan gengsinya dan tidak melihat awan hitam di atas langit cerah.
"Tapi aku harus kemana?"
"Vania? Aku sudah banyak merepotkan Nia dan sekarang aku masih menjadi beban bagi mereka? Tidak, aku tidak mau!" gumamnya lagi. Habis habisan Tania menguasai pikiranya dan bertempur dengan isi kepalanya agar mendapatkan semua jawaban atas masalahnya saat ini. Namun, bukan solusinya yang kini di temuinya, justru nyeri di kepalanya kian terasa.
kepalanya yang semakin terasa sakit, pusing yang semakin meradang dan kunang kunang yang semakin terlihat olehnya. Tatapi, pandangannya sempat mengarah ke arah atas dan ia melihat langit yang sudah menghitam dan ia juga merasakan rintinkan air hujan yang kini mulai mengenai tubuhnya.
Belum menemukan tempat untuk beristirahat, hujan keburu menguyur seluruh tubuhnya. Tania semakin melebarkan langkah kakinya dengan badan yang semakin berat untuk di gerakanya.
Ia melihat kalangan para pemulung mulai berlarian dengan arah tujuan yang sama dengan membawa barang barang bekas yang sudah mereka punguti. Anak anak kecil itu berlari dengan sangat cepat membuat Tania tidak dapat mengikuti langkah mereka.
Mulutnya terasa membisu, bibirnya seperti tidak dapat di gerakan karena dingin yang di rasakanya namun, tanganya terus memberi isarat pada anak anak itu untuk menunggunya namun, anak anak itu tidak dapat memahami isyarat yang di berikanya.
"Kak!"
Seorang bocah perempuan dengan pakaian compang campingnya kini menghampirnya dan Tania yang langsung mengarah padanya.
"Kakak tidak berteduh?" tanyanya dengan lembut dan Tania langsung mengangguk dengan semangat.
__ADS_1
"Mari aku bantu Kak!" ajak anak perempuan itu pula dengan sangat ramah dan membantu Tania untuk berjalan dan membawa Tania ketempat mereka..