
"Kak atas nama keluarga Naila, terutama nama kak Lendra, Naila minta maaf sebesar besarnya, kita semua juga tidak menyangka jika kak Lendra sejahat itu pada kak Tania, Mama dan Papa juga tidak mengetahui tentang hal ini, bahkan ketika Kakak memberitaukanya, penyakit keduanya kambuh, dan sekarang mereka masih di rumah sakit, makanya dari pihak kita belum ada yang dapat mencari ksk Tania, tapi Naila berjanji atas nama keluarga Naila, Naila akan membantu mencari keberadaan kak Tania, karena bagaimana pun kak Tania adalah kakak ipar Naila, dan sudah bagian dari keluarga Delino!" jelas Naila.
Semua terkejut mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Naila. Mereka mengira jika Naila akan memaki kembali Vania, ternyata firasat mereka berbanding balik dengan kenyataan, tadinya seluruh warga sudah mengerumun mendekat dengan Vania, dan menyaksikan perdebatan antara Rusdi dan Vania, namun kini sebagian di antara mereka mulai berbubaran karena ternyata Naila tidak sedikit pun memiliki kemarahan pada Vania.
"Aku tidak akan pernah memaafkan keluarga mu sebelum Tania di temukan!"
"Jika itu yang Kakak mau, aku dan kak Rusdi akan mengerahkan seluruh karyawan papa untuk mencari kak Tania!" ucap Naila.
"Aku juga akan menghubungi seluruh karyawan ku untuk mencari Tania!" ucap Rafa yang langsung merogoh sakunya dan menghubungi bawahanya.
"Kak Rusdi kerahkan seluruh karyawan papa dan kak Lendra untuk mencari kak Tania dan aku akan membuat lembaran untuk di tempelkan di bangunan bangunan agar orang melihat kak Tania segera membawa kak Tania ketempat ini!"
"Baik Nai!"
"Bila perlu berikan hadiah yang setimpas pada siapa pun yang menemukan kak Tania!"
"Iya Nai!" ujar Rusdi yang langsung meninggalkan ruangan ini.
"Kak, Naila pamit dahulu, Naila juga akan membantu pencarian kak Tania!" ujar Naila membungkukan tubuhnya dan menjulurkan tangannya pada Vania. Vania menatap tangan itu sejenak dan kemudian membuang arah pandanganya kearah lain. Ia tidak sudi menerima salam yang di ulurkan oleh Naila, bagaimana pun Naila adalah adik Lendra dan Vania sangat membenci orang yang memiliki hubungan dengan lelaki bej*t itu.
"Ya sudah Naila berangkat!" pamit Naila yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Ma, Mama sudah sadar?" tanya Lendra yang kini sudah masuk kedalam ruangan Liora dan Delino. Ia juga sempat menatap papanya yang masih terpejam.
"Mama kecewa sama kamu Lendra!" ucap Liora yang sengaja membuat arah pandanganya berbalik arah dengan keberadaan Lendra.
"Ma, Lendra hanya mencintai Safania, Lendra minta maaf sama Mama!"
"Kenapa kamu tidak bilang saja di awal?"
"Karena Mama sudah terlanjur menyukai Tania, Ma, dan Lendra ngk berani buat melawan permintaan Mama di saat kondisi Mama yang saat itu sangat buruk!"
"Tapi kamu sudah menghancurkan perasaan seseorang, bukan hanya gadis yang kamu nikahi saja yang hancur hatinya tetapi keluarganya juga merasakan perih yang sangat dalam. Mama merasa gagal mendidik kamu!" ucap Liora.
__ADS_1
"Ma, cinta itu tidak bisa di paksa, dan Lendra hanya mencintai Safania, sampai kapan pun itu, hanya Safania yang bisa buat Lendra sesayang ini kewanita, Mama tolong ngertiin Lendra ya!" ucap Lendra mengengam telapak tangan kanan Liora.
"Cari Tania, temukan dia, Mama ingin bertemu dengannya dan minta maaf kedia atas perbuatan kamu!" pinta Liora melepas gengaman tangan Lendra.
"Lendra ngk bisa cari Tania, Ma, Lendra harus jagai Mama!"
"Mama hanya mau kamu cari Tania, Tania di culik dan tadi Tania sempat mengirim alamatnya ke Mama, share locknya ada di hp Mama!"
"Ma, mana ada orang yang di culik sempat mengirim alamatnya, sama saja Tania sedang menjebak kita, Ma, dia buat seakan akan dia di culik, setelah itu penculiknya minta uang tebusan dan nanti hasilnya mereka bagi dua!" jelas Lendra.
"Uang itu buat apa sama Tania?"
"Iya kita ngk ada yang tau Ma, bisa saja dia terlihat seperti perempuan baik baik tapi ternyata, apalagi Mama dan Tania itu baru saling mengenal!"
"Tapi Mama ngerasa Tania tidak sejahat itu dan Mama juga ngerasa kalau Tania adalah gadis yang baik!"
"Ma, zaman sekarang jangan mudah tertipu dengan wajah polos seseorang, itu hanya topeng mereka untuk bersembunyi di balik kejahatan mereka!"
"Ma, Lendra tau apa yang terbaik buat Lendra, Ma!" ujar Lendra.
"Jangan panggil aku Mama, jika kamu tidak bisa mengikuti permintaan ku!" tegas Liora.
"Mama!"
"Jangan sebut aku Mama!"
"Mama lebih dukung gadis itu daripada aku anak Mama sendiri?"
"Jangan sebut aku Mama!"
"Silahkan keluar dari ruangan ini!"
Tampa membantah sedikit pun, Lendra mengikuti perintah Liora dan memilih untuk menunggu di ruang tunggu.
__ADS_1
Air mata Liora menetes melihat kelakuan anaknya, ia merasa benar benar gagal mendidik putranya. Kekecewaan terhadap Lendra sudah terlalu besar dan sudah tidak dapat di ungkapnya lagi. Liora menatap wajah tenang Delino yang masih terpejam di sebelah ranjangnya.
"Kita gagal mendidik anak kita Pa!" lirih Liora.
"Tania, Tania, Tania selalu yang di sebut oleh Mama, cuma karena dia yang mendonorkan darahnya dia selalu mendapat pembelaan, Safania juga bisa!" kesal Lendra frustasi. Ia menyenderkan kepalanya di dinding pembatas antara ruang tunggu dengan ruangan orang tuanya di rawat.
"Mau ngk mau, aku harus cari Tania buat Mama, gimana pun kesehatan Mama lebih penting!" ujar Lendra yang segera meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju parkiran mobilnya.
Selesai dengan kegiatan renangnya, Evandi berkeliling kota menggunakan mobil pribadinya, sembari membantu ingatanya mengenang tempat ini, mungkin akan ada suatu hal yang dapat membantu penyembuhan ingatanya.
Tania turun di tepi jalan, ia sudah jauh dari tempatnya di sekap, ia masih memperhatikan sekitarnya untuk memastikan tidak ada keberadaan orang orang yang menculiknya berada di dekatnya.
Hingga mobil sport putih terlihat olehnya, mobil yang sangat di kenalinya, Tania sudah tidak mengingat kata kata Evandi yang sudah mengusirnya, ia berusaha untuk menghentikan mobil itu dan berharap jika Evandi mau mengantarnya pulang kerumah suaminya dan mau mendengar penjelasan darinya, mengapa ia mau menikah.
Evandi menghentikan mobilnya tepat di hadapan Tania, namun ia tidak membukakan pintu masuk untuk Tania, ia hanya dapat menatap Tania dengan seksama. Bagaimana bisa di kota besar seperti ini, seorang wanita menumpang pada mobil yang tidak di kenalinya, pikirnya.
"Apa jangan jangan wanita ini wanita yang tidak baik?" gumam Evandi.
"Evan, aku minta maaf dan aku akan jelasin semuanya tapi aku mohon, antar aku pulang kerumah suami ku, aku takut Van, Preman preman itu kembali menculik ku!" ucap Tania di balik kaca mobil Evandi.
"Apa ini gadis yang di maksud bibi, sahabat sekaligus wanita yang ku cintai?" gumam Evandi menatap wajah Tania dengan seksama dari kursi supir.
"Evan tolongi aku, Van, aku tau kamu kecewa sama aku tapi mohon bantu aku!" ucap Tania yang kini sudah mengetuk kaca mobil Evandi.
"Evan bantu aku!"
Lelaki itu membukakan pintu mobilnya dan Tania segera masuk, namun Evandi terus saja memandang wajah Tania yang tampaknya sangat ketakutan.
"Kenapa Evandi natap aku gitu banget ya?" gumam Tania mulai merasa ada yang aneh dalam diri sahabatnya itu. Evandi menatapnya seperti baru berkenalan saja, padahal keduanya sudah berteman lama.
"Nama loh siapa?" tanya Evandi.
"Kamu ngk ingat sama aku Evan?" tanya Tania yang kaget mendengar pertanyaan sahabat kecilnya itu. Kedua matanya melotot sempurna pada wanita yang sudah berada di hadapanya.
__ADS_1