Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 49 - Menentang Safania


__ADS_3

Sudahlah!, Jangan terlalu yakin Nyonya nanti jatuh mu terlalu sakit!" ujar Safania sedikit mendorong bahu Tania dengan ujung jarinya dan menatap Tania dengan tatapan merendahkan.


"Kita lihat saja siapa yang bertahan hingga akhir!" ucap Tania yang kini mengalihkan penglihatanya dari Safania.


"Sayang!" ujar Safania yang kini memeluk lengan Lendra dengan manja dan mata yang terus tertuju pada Tania, ia berharap agar Tania semakin panas dan semakin tidak nyaman dengan kondisi yang seperti ini dan meminta pisah pada Lendra.


"Perempuan itu benar benar keterlaluan!" lirih Naila yang sejak tadi sudah memperhatikannya dari kejauhan dan mulai merasa kesal pada Safania, rasanya kesabaran sudah tidak dapat lagi di bendung ia harus membantu kakak iparnya melawan wanita itu. Ia juga merasa kesal pada Lendra yang tidak membela Tania sedikit pun.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Naila sembari berjalan menuju tempat mereka dan Rusdi yang berjalan di belakangnya.


"Naila!" ujar Safania yang langsung menjauhkan dirinya dari Lendra dan sedikit memberikan jarak, membuat Naila semakin muak dengan kelakuan Safania yang di nilainya bermuka dua dan ingin di cap baik olehnya.


"Sebaiknya kamu pergi deh!" ujar Naila.


"Naila!" tegur Lendra pada adik semata wayangnya itu.


"Kakak masih tetap mau belain kak Safania?" tanya Naila yang kini menatap Lendra dengan tajam.


"Kakak tidak beliin siapa pun, Kakak akan bersikap adil pada mereka!" Lendra.


"Adil kak? Adil seperti apa yang akan Kakak lakukan? Apakah dengan Kakak dan kak Safania tertawa lebar dan Kak Tania yang menangis itu di sebut Adil?" tanya Naila lagi.


"Mulai saat ini, Kakak akan memperlakukan mereka dengan Adil!" ulang Lendra lagi. Naila membuang arah pandanganya dari Lendra, tidak mungkin Lendra akan melakukan ucapanya itu karena yang ada di hati Lendra hanyalah Safania, gadis bermuka dua.


"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu Lendra?" tanya Rusdi yang memiliki kekhawatiran yang sama dengan Naila, kalau lelaki itu tidak akan melaksanakan ucapanya, karena Rusdi sangat mengetahui bagaimana Lendra ketika sudah mencintai wanita, ia akan bersikap bodoh pada wanita itu dan Lendra hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kita lihat saja! Kalau Kakak masih menyakiti Kak Tania, maka Naila adalah orang pertama yang melawan Kak Lendra!" ucap Naila dengan tegas.


"Naila!" tegur Tania yang langsung menarik tangan Naila menjauh dari tempat ini, sebelum perdebatan antara Naila dan Lendra benar benar terjadi.


"Kak, Naila hanya tidak ingin Kak Lendra bersikap sesukanya pada kakak!" ucap Naila membela diri, ia sudah dapat menduga jika, Tania akan memarahinya karena sudah berkata kasar pada Lendra.


"Nai, Kakak ngk mau kamu jadi adik yang durhaka!" ucap Tania yang kini sudah mendudukan Naila di sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Tania menatap Naila dengan dalam, dan meletakan kedua tanganya di kedua bahu Naila, berharap agar adik iparnya itu mau mendengarkan ucapanya.


"Naila akan terus membantu Kak, tapi Kakak harus janji sama Naila untuk tetap pertahani pernikahan Kakak dengan Kak Lendra dan buktikan pada wanita itu kalau Kakak lebih pantas menjadi istri Kak Lendra!" ucap Naila, Tania hanya membalasnya dengan seuntai senyuman dan kemudian membawa Naila kedalam dekapan hangatnya.


"Lend, loh itu!" ucap Rusdi dengan jari telunjuk yang mengarah pada Tania dan Lendra.


"Adik loh sesayang itu ke Tania, dan loh masih tega buat nyakitin Tania, loh benar benar keterlaluan Lend!" ucap Rusdi berusaha menyadarkan sahabatnya itu. Lendra menatap keakraban yang terjalin di antar Tania dan Naila, mereka layaknya adik kakak yang saling melindungi dan ia belum pernah melihat Safania melakukan hal itu pada Naila, bahkan keduanya selalu ribut ketika bertemu.


"Loh ketinggalan?" tanya Rusdi yang melihat Evandi tampak kelemahan berlari.


"Loh lihat? Loh malah enak berdua sama gadis itu dan ngk mentingin gue lagi!"


"Gadis itu? Maksud Loh Naila? adik gue?" tanya Lendra yang kini juga menatap Evandi.


"Oh, jadi gadis itu adik Loh?"


"Loh kayak baru kenal saja ya?" ucap Lendra yang sedikit kesal pada Evandi karena tidak mengenali adiknya yang sudah sering bertemu denganya.


"Lend, Evandi amnesia, jadi dia tidak mengingat siapa pun termasuk gadis yang sering dia cerita ketika!" ucap Rusdi menjelaskan sebelum Lendra salah pada paham pada Evandi.

__ADS_1


"Gue akan merasa bersalah banget jika sesuatu buruk terjadi pada orang tua Lendra dan gue adalah penyebab dari penyakit mereka!" ujar Vania yang masih terisak di atas sofa yang berada di dalam ruang utama rumahnya.


"Van ini semua sudah ketentuan Allah dan kamu tidak bisa hanya mengalahkan diri kamu, mungkin ini memang sudah menjadi skenario kehidupan keluarga Lendra!" ucap Nadya berusaha menenangkan Vania dan mengelus bahu wanita itu dengan lembut.


"Tapi gue ngerasa bersalah banget, andai gue nunggu waktu yang tepat buat ngeuangkapin semuanya pasti hal ini tidak terjadi!"


"Nadya benar, ini bukan salah kamu, ini memang sudah jalanya, tampa kamu pun jika memang ini sudah menjadi takdir keluarga mereka pasti akan tetap terjadi!" ujar Rafa tersenyum pada Vania dan duduk di sebelah gadis itu. Rafa baru saja menghampiri keduanya karena ia baru saja dari dapur untuk membuatkan minuman kesukaan Vania, setidaknya sedikit memberikan kebugaran pada tubuh Vania.


"Kamu minum dulu ya!" ucap Rafa sembari memberikan segelas es jeruk yang sudah di buatnya. Nadya hanya dapat menatapnya sekilas dan kemudian menundukan kepalanya.


"Makasih ya Raf!" ucap Vania setelah meneguk minuman yang di buat Rafa.


"Ini buat kamu!" ujar Rafa sembari memberikan segelas capucino dingin untuk Nadya yang duduk di sebelah kiri Vania dan kemudian meletakan nampak yang di pegangnya di atas meja.


Nadya menatap minuman yang di buat oleh Rafa, minuman yang menjadi minuman favoritenya. Rafa masih mengingatnya?, Akhhhh, sudahlah itu hanya hal wajar jika ia mengingatnya, atau mungkin hanya unsur ketidak sengajaannya.


"Nad, nih minumanya!" ujar Rafa kembali yang berhasil membuyarkan lamunan Nadya dan ia segera mengambil gelas yang di pegang oleh Rafa dan kemudian meminumnya.


"Kamu kenapa sih Nad? Kok bentar bentar melamun?  Kamu ada masalah? Kamu boleh kok cerita ke aku!" Nadya hanya mengeleng dan kembali meminum capucino miliknya.


"Ini aku yang kebaperan atau kamu memang masih mengingat semua hal tentang ku, Raf?, melihat cara mu memperlakukan Vania, aku sudah tidak mungkin ada di hati, lalu kenapa kamu masih mengingat hal tentang ku?" gumam Nadya dalam hati.


"Apaan sih kamu Nad, ini semua hanya kebetulan dan kamu harus ingat Rafa itu milik Vania dan hubungan kamu dengan Rafa sudah berakhir, sadarlah Nad, lupakan kamu mencintai Rafa!" gumam Nadya lagi pada dirinya.


"Minuman kamu mana?" tanya Vania pada Rafa karena ia melihat hanya ada dua gelas yang di bawa oleh Rafa.

__ADS_1


__ADS_2