Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 111 - Pemutusan kontrak kerja


__ADS_3

"Justru aku yang ingin bertanya apa kamu tetap akan bertahan setelah mengetahui kondisi ku sudah tudak sepeeti dahulu. Aku tidak sempurna dan aku juga tidak seperti dahulu lalu, apakah kamu akan tetap mempertahankan rumah tangga kita. Kalau kamu memang ini pergi ku, aku tidak dapat menahannya dan aku harap kamu tidak melakukan hal itu!" ujar Lendra.


"Maksud kamu gimana?"


"Aku lumpuh!"


"Kamu serius?"


"Apa kamu ingin bertahan?"


"Itu nanti bisa kalian bahas Mas, sekarang kita harus lihat kondisi papa dulu. Kasihan beliau tidak ada yang menjenguk. Istri kesayangan kamu ini, justru adalah pelaku penyebab semuanya dan kamu mati matiaj membelanya. Aku tidak peduli dengan hubungan kalian, aku hanya ingin melihat Papa dan kalau papa sudah sadar, mama juga pasti akan membaik. Penyakit mama kembali kambuh karena mendengar kabar papa!"


"Yang di bilang Tania benar sebaiknya, kita menjenguk om Delino. Masalah kalian bisa nanti di bahas!" Vania menyambung.


"Aku ikut!" ucap Lendra.


"Kondisi kamu belum membaik Mas, kamu di sini saja nanti kabar papa nanti aku sampaikan. Kamu harus fokus pada kesehataan kamu. Banyak hal yang harus kamu hadapi setelah kamu sehat nanti!" Tania.

__ADS_1


"Kamu tidak ada hak untuk mengatur ku bukankah, kamu ingin mengakhiri pernikahaan kita jadi, untuk apa kamu melarang ku. Kehancuran ku pasti adalah kebahagiaan mu karena aku sudah sering menyakiti mu!"


"Aku tidak sejahat kamu!" ucap Tania dengan menyepitkan sebelah matanya.


***


"Apa? Bapak dan Ibu ingin membatalkan kontrak kerja yang sudah di tanda tangani? Tidak bisa begitu dong Pak, semuanya sudah di sepakti dan Bapak juga sudah mengesahkanya dalam keadaan sadar dan sekarang Bapak ingin membatalkanya secara sepihak. Bapak dan Ibu bisa di tuntut lho!" ujar Kiara sedikit emosi. Dua orang itu ternyata hanya menambah masalahnya saja.


"Kita bisa bicara baik baik Bu, tidak perlu pakai emosi seperti ini, kita sudah menjalin kerja sama sejak lama jadi, kita dapat lebih mudah saling memahami. Silahkan Ibu duduk kembali!" Kiara menarik nafasnya panjang dan kemudian menghembuskanya, setelah merasa sedikit lega. Ia kembali duduk di kursinya. Ia harus dapat menjaga sikapnya. Etikanya akan menjadi penilaian clean terhadap perusahaan tempatnya bekerja jadi, ia harus bersikap profesional.


"Saya yakin Ibu pasti punya media sosial dan Ibu juga pasti tau kabar apa yang saat ini sedang beredar dengan luas. Keluarga Delino sedang dalam kabar tidak baik. Kami tidak hanya bekerja sama dengan satu perusahaan. Perusahaan kami menjalin kerja sama dengan perusahaan seluruh dunia. Ibu juga sudah tau kalau perusahaan kami mencakup hubungan internasional jadi, kalau kami tetap bekerja sama denagn perusahaan Ibu maka, perusahaan lain akan mencabut kerja samanya dengan kami jika, kami tetap melanjutkan kontrak kerja sama kita. Kami hanya memberikan kenyamaan pada clean kami, sebagaimana Ibu tau perusahaan kami mengutamakan kenyamaan!" jelas wanita yang berada di sebelah lelaki itu.


"Apa hubunganya dengan pemutusaan kerja sama?. Itu masalah pribadi bos saya dan seharusnya perusahaan mana pun tidak bisa melibatkanya dalam urusan bisnis dan saya yakin Bapak dan Ibu juga pasti paham dengan hal itu!"


"Tapi kami minta maaf Bu karena tidak hanya satu, dua perusahaan yang menginginkan hal itu tapi, ada banyak perusahaan yang tidak bersedia jika, perusahaan pak Delino masih dalam naungan kami. Jadi dengan berat hati kami harus mengatakan hal ini dan saya harap Ibu dan perusahaan dapat menerima keputusan yang sudah di sepakati oleh perusahaan kami!"


"Kita harus bersikap profesional dong, kita tidak bisa mengambil keputusaan secepat itu, semuanya butuh persetujuan!" kekeh Kiara.

__ADS_1


"Alasan kuat kami memutuskan hal ini juga karena perusahaan ini saat ini belum jelas milik siapa karena di kabarkan pak Delino ingin mengambil ahli perusahaan dari anak sulungnya dengan kabar itu kami sangat khawatir. Bisa jadi nanti kabarnya perusahaan ini tidak jelas milik siapa dan atas nama siapa!"


"Pak Delino adalah pemilik asli perusahaan ini dan pak Lendra adalah anaknya lalu, perusahaan ini tidak jelas bagaimana?. Semua orang juga sudah tau hal itu?"


"Maaf Bu sekali lagi, kami akan tetap dengan keputusaan kami!"


"Kami pamit dulu Bu, terima kasih atas waktunya!"


Setelah kepergian dua orang itu dari dalam ruangan Vip. Kiara mencampakan berkas yang terletak di atas meja dan membuangnya kelantai. Emosinya benar benar memuncak. Ia harus membantu Delino untuk mengalihkan nama perusahaan, percintaaanya yang gagal, Evandi menuduhnya yang tidak tidak dan sekarang hubungan kerja sama yang sudah terikat sekarang putus secara sebelah pihak. Bagaimana caranya untuk memberitau hal ini pada Lendra. Perusahaan yang memutuskan kontrak merupakan salah satu perusahaan besar yang terikat dengan mereka.


Ia memijit bagian pelipis yang yang sedikit pusing. Pikiranya sudah tidak dapar berputar lagi. Lendra busa marah padanya jika mengetahui hal ini. Proyek yang sudah lama mereka rintis dan merupakan kebanggan dari perusahaan hilang dalam sekejap. Kiara hanya duduk di atas sofat dan terdiam. Beberapa menit dalam posisinya. Kiara memutuskan untuk menghubungi Rusdi dan memberitaunya tapi, sialnya lelaki itu tidak me gangkat telpon darinya. Niatnya menghubungi Rusdi murni karena urusan pekerjaan tapi, Rusdi malah tidak mengangkatnya.


"Pak Rusdi kemana sih?" kesal Kiara. Di kumpulinya kembali berkas berkas yang sempat di buangnya. Di bacanya berkas itu dengan teliti. Seketika air matanya menitih begitu saja. Laporan, dokumen bahkan prestansinya sudah di siapkan dengan matang untuk proyek ini. Waktunya di habiskan untuk mengerjakan hal ini, malam malamnya di gunakan untuk begadang hanya demi tulisan di atas kertas dan sekarang dengan mudahnya mereka memutuskan kerja sama.


Di pandangnya sebuah gambar yang sudah di desainya bersama Rusdi dan pegawai lain. Gambar yang tampak sangat indah dengan berpaduan warna yang tidak tidak terlalu terang dan gelap. Gambar itu di desain dengan ide yang terlintas dalam pikiranya atas persetujuan Lendra melalui Rusdi. Sia sia sudah usahanya. Di remukanya kertas itu kemudian di robeknya hingga ukuran paling kecil. Hatinya terlalu sakit memandang kertas kertas putih yang ada di hadapanya.


"Untuk apa ku desain ini semua kalau tidak berguna seperti ini?" teriak Kiara histeris membuang kertas kertas itu kesembarang arah. Ingin marah pada Lendra karena masalah pribadinya, kerja keras tidak berguna seperti ini tapi, apalah dayanya yang masih menjabat sebagai bawahan

__ADS_1


__ADS_2