Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 104 - Safania mencelakai Delino


__ADS_3

Delino semakin melihat adanya kejanggalan yang di lakukan pria itu pada menantunya. Mau tidak mau ia juga harus masuk kedalam ruangan itu dan menarik Safania agar keluar dari tempat ini karena bagaimana pun gadis itu sudah menjadi menantunya walau sedikit pun tidak mengharapkan wanita seperti ini yang akan menjadi istri anaknya.


"Siapa lho?" tanya Ragan anarkis dan langsung menarik kera jaket yang di pakai Delino, tak hanya itu ia juga melepas topi yang berada di kepalanya. Alhasil penyamaran terbuka. Safania dapat melihatnya dan kali ini Delino hanya dapat pasrah. Sekali pun Safania mengetahui keberadaan ia tidak takut sedikit pun karena dari segi usia ia masih lebih tinggi, apalagi ia adalah mertua wanita ini jadi, tidak mungkin Safania akan melakukan sesuatu buruk.


Dengan niatnya yang baik agar melepaskan menantunya dari lelaki seperti ini, ia tidak merasa bersalah. Safania yang justru tercenggang kenapa mertuanya berada di tempat yang sama dengannya dan sejak kapan ia sudah berada di sini?. Apa yang akan di katakan pada pria ini?. Ia sudah terciduk sedang berduaan dengan lelaki lain di kamar. Habislah sudah riwayat hidupnya.


"Berani ya lho masuk tanpa izin, narik cewek gue lagi!" ucapnya dengan lantang dan hendak melayanfkan sebuah tonjokan pada Delino namun, hal itu masih dapat di cegah Safania, ia langsung menarik tangan Ragan agar tidak melangsungkan pukulanya pada mertuanya.


Bergantian, kini Delino yang di buat terkejut mendengar penuturan yang di lontarkan pria ini. Benar dugaanya Safania bukan gadis yang baik, ternyata gadis ini juga memiliki pasangan lain selain anaknya. Safania tercenggang, bagaimana bisa lelaki yang baru di kenalinya dan kini mengakui adanya hubungan diantara mereka di depan mertuanya. Usialah sudah pernikahaanya dengan Lendra. Berakhirlah sumber pundi pundi uang yang di milikinya.


"Pa, Papa tidak apa apa?" tanya Safania sok baik dan langsung memperhatikan tubuh Delino yang yang di sentuh oleh Ragan dan hal itu langsung di tepis oleh lelaki paruh baya itu dan ia langsung meninggalkan Safania berdua dengan lelaki itu. Menyesal sudah pasti di rasakan pria itu. Niat baiknya untuk menyelamatkan wanita ini dari laki bej*t seperti itu ternyata di balaskan dengan apa yang baru saja di dengarnya, apalagi mengingat perasaan Lendra yang sangat dalam padanya.


Safania menatap tajam pada Ragan, tanganya mengepal, bibirnya berkerut. Ia tidak mengatakan apa pun tapi, ia juga bisa berlama lama di tempat ini, ia harus mengejar mertuanya dan menjelaskan sebenarnya. Sayangnya Delino sudah menjauh dan mengendrai mobilnya cukup jauh. Safania yang datang ketempat ini tidak membawa mobil harus memberhentikan taksi yang sedang melintas untuk mengejar Delino.

__ADS_1


"Pak dengerin saya dulu!" teriak Safania yang lebih dulu sampai di depan rumah sakit. Beruntungnya ia karena supir taksi yang di tumpanginya mengetahui jalan pintas untukĀ  sampai duluan kerumah sakit dan Tania yang sudah mengshare lokasinya terlebuh dahulu jadi, memudahkan untuk memberitau lokasinya dengan supir taksi itu.


"Apa yang perlu kamu jelaskan?, suami kamu sedang berada di rumah sakit tapi, kamu malah berduaan bersama lelaki lain di tempat yang tidak benar, dimana pikiran kamu?" ucap Delino dengan volume yang cukup keras dan langsung meninggalkan Safania di pekarangan rumah sakit.


"Pak!" Safania menarik pergelangan tangan Delino dengan sangat keras. Delino menepisnya. Safania mendoromgnya dsri belakang. Delino tersungkur keningnya mengenai batu yang ada di hadapanya hingga mengeluarkan darah segar. Safania menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tanganya. Ia memperhatikan sekitarnya, ia tidak ingin larut dalam masalah ini, ia melangkahkan kakinya mundur kebelakang.


"Mau kemana kamu?" ucap seorang security yang tengah berjaga jaga di dekat mereka dan ia langsung menarik tangan Safania agar tidak melarikan diri karena ia melihat wanita ini ingun lari dari tanggung jawab.


"Sa ... sa ... saya ... cu ... cuman!"


Tak sedikit orang pun kini menghampiri mereka dan sebagian dari mereka mengotong tubuh Delino masuk kedalam rumah sakit sedangkan Security itu tetap menjaga dan menahan Safania ikut masuk kedalam ruangan Delino. Safania semakin tidak dapat berkutik, posisinya semakin terancam, Lendra akan sangat membencinya. Ia juga mulai menyesali perbuatanya yang sudah mendorong mertuanya. Kini ia semakin di tumpuk pada masalah yang akan di hadapinya.


"Pak lepaskan saya!" ujar Safania berusaha memberontak namun, cengkraman pria ini terlalu kuat dengan tenaganya yang tidak sebanding.

__ADS_1


"Kamu mau lari lagi?" ucap Security itu yang tampak sedang marah tapi, Safania tidak peduli dengan hal itu yang ada di pikiranya hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat melarikan diri dan Lendra tidak mengetahui kejadian ini dan Delino tidak memberitau atas apa yang sudah di lihatnya.


"Bapak ini kenapa sih ikut campur urusan orang lain? Ngk ada kerjaan lain ya sampe harus mencampuri kehidupan saya?"


"Bukan saya mencampuri hidup anda tapi, jika anda melakukan hal ini di luar sakit saya tidak akan terlibat dalam hal ini. Anda melakukanya di dalam tempat yang maish menjadi pekerjaan saya dan itu sudaj menjadi kewajiban saya untuk mengamankan orang seperti anda!"


"Pekerjaan? Bagaimana jika saya memberi uang yang cukup besar tapi, jangan beri tau hal ini kepada siapa pun dan bebaskan saya dari masalah ini!" ucap Safania yang terkesan membujuk sekaligus menyongok Bapak yang tengah menjalankan tugasnya.


"Tidak, anda harus bertanggung jawab dan sebaiknya uang yang anda kasih ke saya, anda dapat gunakan untuk biaya pengobatan Bapak ini karena Bapak ini lebih membutuhkan dari pada saya!" ucap Security utu yang semakin menguatkan gengamanya pada wanita yang menawarkan sejumlah uang padanya.


Safania sedikit terkejut dengan ucapan yang di lontarkan orang ini ternyata, Bapak ini belum mengenali mertuanya. Jika saja ia mengenal Delino, ia tidak mungkin mengatakan kalau Bapak ini lebih membutuhkan. Sepertinya akan sedikit sulit untuk membujuk orang ini walau pun ia sudah mengoyahkan imanya dengan menawarkan lembaran kertas yang dapat menjerumuskan orang lain. Mau tidak mau sepertinya ia harus melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pada mertuanya. Melakukan hal kasar secara fisik pada petugas yang terus menahanya.


"Awwwwhhhhhhh!"

__ADS_1


"Jangan lari kamu!" teriak Security itu karena Safania menginjak kakinya dan menendang bagian kelam*nya hingga memberikan celah pada Safania untuk melarikan diri.


"Kak Safania!" Safania melangkahkan kakinya kebelakang dan mengigit bagian bawah bibirnya. Lagi lagi ia terjebak dan tidak dapat melarikan diri. Security yang menahanya sudah berada di belakangnya dan kini adik iparnya muncul di hadapanya dengan membawa botol minuman di tanganya.


__ADS_2