
"Dokter!" panggil Lendra yang kini sudah memasuki ruangan tempat Tania hendak mendonorkan ginjalnya dan wanita itu sudah terbaring di atas ranjang untuk mengecek kesehatannya terlebih dulu. Dokter dan Tania menoleh kearah Lendra yang baru saja memasuki ruangan dengan terburu buru.
"Ada apa Pak?" tanya Dokter itu setelah Lendra sudah berada tepat di hadapan mereka.
"Hentikan hal ini!" ucap Lendra. Tania membelalakan matanya secara sempurna, begitu niatnya Lendra melarangnya untuk tidak mendonorkan ginjalnya untuk Liora.
"Aku ingin Mama cepat sembuh Mas dan aku juga sudah ikhlas kok untuk mendonorkan ginjal ku buat Mama!" ucap Tania yang kini sudah terduduk di atas ranjangnya.
"Aku yang bakal donori ginjal buat Mama!"
"Mas, Kamu kepala rumah tangga, kamu harus sehat dan biarkan aku saja yang mendonorkan ginjal ku untuk Mama!"
"Justru karena aku kepala rumah tangga aku yang harus mengambil keputusan, dan siapa pun boleh meninggalkan ku ketika ia tidak bisa menerima kekurangan ku, aku hanya butuh satu wanita yang benar benar menerima ku!" ucap Lendra yang kini sudah terbaring di sebelah ranjang Tania.
Air mata haru menetes dari kelopak mata Tania memandang wajah suaminya yang sudah berada di sebelahnya, sejahatnya Lendra, ia masih memperdulikan kondisi kesehatan Mamanya dan bahkan merelakan dirinya untuk kepulihan Liora. Haru, bangga, sedih, gembira menjadi satu dalam hati Tania.
"Kamu doain aku ya, semoga semuanya berjalan dengan baik dan lancar!" ucap Lendra tersenyum menatap wajah Tania dan mengengam tangan istrinya dengan erat dan Tania hanya mengangguk.
"Dokter saya sudah siap!" ucap Lendra setelah menghembuskan nafasnya panjang.
"Ya Allah semoga ini adalah jalan terbaik untuk kesembuhan Mama Liora dan bantulah semua proses kami dan permudah jalan bagi kami!" gumam Tania yang juga ikut memandang wajah Lendra.
"Kamu temani aku di sini ya!" ucap Lendra dengan lembut dan Tania hanya dapat mengangguk.
"Terima kasih!" ujar Lendra mencium punggung Tania.
Entah datang dari sikap manis Lendra ini, ia bersikap seolah olah ia mencintai Tania, siapa pun wanita jika di perlakuan seperti itu mungkin akan merasa baper.
__ADS_1
"Baikalah Pak, Apakah Bapak sudah siap?"
"Saya sudah siap Pak!"
Setelah mendengar jawaban Lendra, Dokter itu mulai mengelap bagian lengan kanan Lendra dengan kapas setelah memberikan sedikit cairan sebelum ia memasukan suntik kelengan Lendra.
Lendra tidak sedikit pun memalingkan wajahnya dari Tania, Lendra yang dari dulu takut jarum suntik tidak berani menatap sang Dokter yang sudah memegang jarum suntik itu.
"Kamu pasti bisa Mas!" ucap Tania menyemanti Lendra dan Lendra yang sudah berusaha menahan rasa takutnya hanya dapat tersenyum di balik ketepaksaanya.
"Naila, Kenapa kamu membiarkan Kakak kamu mendonorkan ginjalnya buat Mama kamu?" bentak Safania pada Naila yang duduk di kursi yang berada di depan ruangan Lendra dan di sebelahnya terdapat Rusdi dan Evandi.
"Naila ngk ngeizinin, Kak Lendra mau sendiri!" balas Naila yang langsung bangkit dari duduknya.
"Ya seharusnya kamu bisa dong ngelarang kakak kamu, kamukan adiknya masak gitu aja ngk bisa!" kesal Safania melipat kedua tanganya dan di letakanya di dadanya serta memalingkan wajahnya dari Naila.
"Kamu lancang sekali ya!" ucap Safania yang ingin menampar Naila, namun Rusdi yang langsung mengengam tangan Safania dengan kuat dan kemudian kembali menurunkan tangan Safania yang hampir saja mengenai wajah Naila.
"Kamu tau hal apa yang paling Lendra benci? Adiknya tersakiti adalah hal yang mampu membuat Lendra sangat membenci seseorang, jika kamu mencintai Lendra maka kamu harus bisa mendekatkan diri dengan Naila, jika tidak jangan berharap jika cinta Lendra pada mu akan bertahan lama. Aku sahabat Lendra, aku lebih tau bagaimana karakter suami kamu itu!" ucap Rusdi menatap Safania dengan tajam.
"Kamu aneh ya mencintai lelaki tapi melukai adiknya? Kok bisa ya Lendra suka sama wanita seperti kamu?" ucap Evandi pula yang ikut mensejajarkan posisinya dengan Rusdi dan Naila yang sudah berdiri lebih dulu darinya.
"Kalian kalau bicara seenaknya ya!"
"Bukan seenaknya tapi apa yang kak Rusdi dan Kak Evandi itu benar!"
"Kamu adik kecil dan mungil, tunggu saja permainan ku, aku akan membuat Kakak kamu semakin mencintai ku dan membuat dia rela melakukan apa pun untuk ku termasuk melupakan mu dan mengedepankan semua hal tentang ku!" ucap Safania dengan tatapan tajam tak kalah dari Naila.
__ADS_1
"Jangan mimpi kamu!" balas Naila.
"Kita lihat saja!" ucap Safania yang kemudian meninggalkan ketiganya.
"Dokter, Dokter, Dokter!" teriak Rafa dengan membopong tubuh Vania masuk kedalam rumah sakit dengan sedikit berlari kecil. Dua Suster dengan pakaian putihnya datang menghampiri Rafa yang sedang kesusahan membawa Vania.
"Bawa stretcher kesini!" teriak Suster itu pada seorang Satpam yang sedang berjaga dekat mereka.
Tubuh Vania segera di naikan keatas stretcher itu dan di dorong cepat oleh dua Suster dan Rafa menuju ruanganya.
"Bapak sebaiknya tunggu di sini saja!" ucap salah satu Suster pada Rafa ketiga mereka sudah sampai di depan ruangan.
"Tapi Sus,"
"Bapak percayakan saja kami, kami akan melakukan yang terbaik dan Bapak bantu doa saja di sini, kami yang akan melakukan pengobatan di sini!" ucap Suster yang segera berlalu dari hadapan Rafa dan menutup pintu ruanganya. Rafa duduk di kursi yang berada di depan ruangan Vania dengan rasa takut yang menghampirinya.
Ia kembali membayangkan saat Vania menyelamatkan nyawanya, ia tidak pernah terpikir jika Vania akan melakukan hal senekat itu untuk menolongnya. Bayangan itu kembali memenuhi pikiranya, rasa menyesal tentu terjadi dalam dirinya, ia merasa gagal dalam melindungi Vania, justru malah Vania yang melindunginya dengan mengorbankan dirinya. Apa gunanya aku sebagai cowok?, pikir Rafa.
"Akhhhhhhhhhhh!" teriak Rafa meluapkan kekesalan, kemarahaan serta kekecewaan dalam dirinya.
"Pak Rafa!" panggil Fikri yang kini sudah berdiri di dekat Rafa dan memegang bah lelaki itu. Sontak Rafa menatap kearah Fikri yang baru saja menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Fikri.
"Semuanya sudah di amankan, Wanita yang bersama Bapak juga sudah di bawa kerumah sakit, mobil ibu Vania juga sudah berada di parkiran rumah beliau!" lapor Fikri. Rafa tidak memberikan respon apa pun atas ucapan Fikri, Ia hanya menatap kearah lantai.
Fikri mengerti dengan posisi Rafa sekarang, pasti lelaki ini tengah merasakan kekhawatiran yang mendalam pada kekasihnya itu, Fikri lebih memilih diam dan duduk di sebelah Rafa yang masih tampak gelisah.
__ADS_1