Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 133 - Pertengkaran kecil


__ADS_3

"Naila kenapa makanannya cuma di aduk aduk seperti itu?" tanya Liora yang sejak tadi memperhatikan anak bungsunya melamun di depan makanan sedangkan makanan yang lain sudah hampir habis.


"Naila ngk selera makan Ma!" jawabnya sedikit memanyunkan bibirnya.


"Kamu ngk suka ya sama makanan yang Kakak pesankan?" tanya Tania tak enak hati. Dengan cepat Naila langsung mengelengkan kepalanya.


"Ngk Kak, makananya enak!" ujar Naila laangsung menyuapkan tiga sendok makanan kedalam mulutnya dengan cepatnya.


"Naila lagi bad mood aja Kak dalam segala hal jadi malas mau ngapa ngapain, Kakak jangan langsung gitu dong!"


"Lendra!" panggil Delino setelah keheningan yang terjadi. Lendra mendongkan kepalanya menatal papanya yang sudah selesai makan.


"Dengan berat hati penuh pertimbangan, sebelumnya Papa minta maaf sama kamu, Papa bakal tarik semua aset perusahaan yang sudah kamu pimpin beserta rumah yang saat ini kamu tempati. Papa mau kamu memulai kehidupan baru mu. Mulailah dari nol seperti Papa dan Mama dahulu!" ujar Delino.


Lendra hanya diam saja dan ia memilih untuk melanjutkan makanya. Delino melirik kearah Liora yang juga tampak binggung. Lendra tidak berkutik sama sekali.


"Lendra kamu dengar apa yang Papa bilang?"


"Lendra dengar Pa!"


"Kamu sudah siap?"


"Bukanya siap tidak siap Lendra harus siap. Lendra kehilangan kelancaran berjalan Lendra, Lendra kehilangan istri kesayangan Lendra sekarang harta benda yang Lendra miliki juga akan Papa tarik bahkan sekarang Tania juga akan meninggalkan Lendra. Apakah dengan membantah ucapan Papa kehidupan Lendra akan berubah?" Lendra mengunyah makanan yang sudah berada di mulutnya dengan perasaan hambar.


Delino menatap kearah Tania yang menunduk. Liora menatap kearah suaminya. Lelakinya itu benar benar akan melaksanakan keputusanya tampa memikirkan keadaanya sekarang.

__ADS_1


"Kamu akan mengugat Lendra, Tania?" Tania mengangguk.


"Sebelum Papa memutuskan untuk menarik seliruh aset Lendra, Tania sudah lebih dulu ingin mengakhiri rumah tangganya dengan Lendra dan ia melaksanakanya setelah kondisi Lendra lebih baik dan ini sudah saat yang di tunggu Tania!" jelas Liora menjelaskan sebelum suaminya berfikir buruk tengang menantunya.


"Naila juga dengar waktu kak Tania bilang itu ke Mama!" Naila menambahkan.


"Papa tidak perlu menyalahkan Tania, ini semua salah Lendra. Anak Papa ini yang sudah terlalu banyak menyakitinya hingga ia sudah tidak dapat bertahan. Sekarang Lendra hanya dapat menjalankan karma atas perbuatan ku dahulu!" pasrah Lendra.


"Apa pun cerita kamu sekarang tidak akan mengubah keputusan Papa untuk memberikan semuanya kembali ke kamu. Kami taukan apa yang sudah Papa katakan akan sangat sulit untuk Papa ubah!"


"Papa tidak boleh egois dong kasihan kak Lendra!"


"Semua ini Papa lakukan untuk kebaikan kakak kamu. Jangan pernah bujuk Papa untuk membatalkanya karena itu adah sebuah ketidak mungkinan!" tegas Delino meninggalkan ruang makan.


Sebagai ibu Liora mengerti dengan arti tatapan yang di lontarkan Naila padanya. Ia segera menyusul suaminya kedalam kamar sedangkan Naila langsung menghampiri Lendra yang memasang wajah lesunya. Ia juga menyingkirkan piring makanya dari hadapanya.


"Kamu akan selalu dukung Kakakkan Nai?"


"Pasti Kak!" Lendra langsung mengelus kepala Naila penuh kasih sayang. Keduanya sudah seperti sepasang kekasih yang saling menguatkan.


"Sebenarnya aku tidak tega melihat kondisi kamu sekarang Mas tapi aku sangat tau kalau kami sudah bangkit dari keterpurukan kamu dan Safania kembali hadir ke hidup kamu, aku akan kamu campakan kembali. Aku ngk siap hal itu berulang kali terjadi Mas!" gumam Tania ikut menitihkan air matanya.


"Mas, Lendra sudah menyadari kesalahanya sebaiknya kamu ubah keputusan kamu!" ucap Liora masuk kedalam kamar. Ia mendapati suaminya yang tengah memainkan game online di atas ranjang mereka.


"Tidak bisa!" balas Delino masih fokus pada ponselnya.

__ADS_1


"Pa kasihan Lendra bagaimana pun dia anak kita. Kamu tega membiarkanya sensara seperti itu apalagi dengan kondisinya yang seperti ini!"


"Ma keputusan Mama sudah bulat. Papa akan tetap membiarkan Lendra memulai hidupnya dari nol. Papa hanya akan menjalankan yang terbaik menurut Papa!"


"Papa hanya menjalankan yang terbaik menurut Papa tampa meminta persetujuan Mama, belum tentu yang menurut Papa baik akan baik untuk Lendra!"


"Mama dari dulu selalu memanjakan Lendra makanya anak itu tidak bisa menghargai istrinya!"


"Papa nyalahkan Mama?"


"Bukan Papa nyalahkan Mama. Papa hanya minta Mama biar jangan terlalu memanjakan Lendra biar anak itu dewasa Ma. Papa hanya menginginkan yang terbaik untuk Lendra bukan Papa ngk percaya sama Tania, Papa hanya ingin melihat siapa yang bertahan sama Lendra dalam keadaan terpuruk!"


"Sudah terlihat Pa, Safania sudah meninggalaknya dan Tania sebelum Papa memutuskan hal ini, dia sudah lebih dulu mengatakan ke Mama akan mengakhiri pernikahaanya dengan Lendra!"


"Papa tau, Papa paham tadi Mama sudah menjelaskanya tadi!"


"Tolong Pa ubah keputusan Papa!"


"Ma, Papa jelaskan ya kenapa Papa melakukan hal ini karena Papa tau betul Lendra masih sangat mencintai Safania dan ketika Papa akan kembalikan semuanya pasti gadis itu akan kembali ke Lendra dan Lendra yang masih memiliki hati yang tulus pasti dengan senang hati menerimanya. Apa Mama mau melihat anak Mama di manfaatkan?"


"Papa ini laki laki Ma, apa yang di pikirkan Lendra masih dapat terbaca Papa!" lanjut Delino.


Seketika Liora terdiam. Sekarang ia mengerti dengan maksud suaminya. Safania pasti akan kembali ketika Lendra memiliki segalanya.


"Maaf ya Pa, Mama sudah berfikir buruk duluan dan Mama benar benar tidak ke pikiran kesitu. Mama ngk akan minta Papa lagi buat ubah keputusan Papa!"

__ADS_1


"Iya Ma tapi jangan ada seorang pun yang tau hal ini termasuk Naila dan Lendra biarlah mereka mengannggap Papa sebagai orang tua yang kejam. Kelak mereka juga akan mengerti!"


"Sinilah Ma duduk jangan di situ mulu!" ujar Delino menepuk ujung kasurnya.


__ADS_2