Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 51 - Permohonan Lendra


__ADS_3

"Pak Lendra!" panggil Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Liora dengan dua Suster di belakangnya. Tania yang melihat Dokter sudah keluar kembali menghampiri Lendra bersama Naila yang ikut berjalan di belakangnya.


"Bagaimana kondisi orang tua saya Dok?" tanya Lendra pada Domter itu.


"Alhamdulillah kondisi pak Delino sudah membaik, hanya tinggal menunggu beliau sadar!" jawab sang Dokter.


"Lalu, Bagaimana kondisi Mama mertua saya, Dok?" tanya Tania yang sudah berada di tempat mereka.


"Kondisi ibu mertua anda cukup mengkhawatirkan, beliau membutuhkan donor darah secepatnya dan sepertinya tubuhnya sudah sangat lemah!"


"Kalau begitu darah saya saja, Dok!" ujar Safania dengan mencuri pandangan pada Tania untuk menyombongkan kebaikannya pada saingannya.


"Kita perlu menunggu kondisi pasien membaik, karena saat ini tubuhnya masih sangat lemah, jika kita paksakan maka kondisi beliau akan semakin memburuk!"


"Saya siap kapan saja Dok!" Safania.


"Pasien tidak hanya membutuhkan donor darah, ia juga membutuhkan donor ginjal secepatnya dan stoknya sedang tidak ada di rumah sakit!" lanjut sang Dokter yang dapat membungkamkan kesombongan Safania karena rela mendonorkan darahnya.


"Saya siap mendonorkan ginjal saya Dok!" ucap Tania. Semua mata kini tertuju pada wanita itu termasuk Lendra.


"Tania jangan bersikap aneh, aku yakin kita dapat menemukan pendonor untuk Mama, aku tidak ingin melibatkan kamu dalam permasalahan aku, aku sudah cukup jahat sama kamu!" ucap Lendra.


"Aku lakuin hal ini buat Mama, Mas bukan buat kamu, Aku sudah anggap Mama seperti aku menganggap tante Tifani seperti ibu aku!" ucap Tania yang mulai melangkahkan kakinya untuk mengecek kondisi kesehatannya bersama Dokter yang sudah berjalan di depanya.

__ADS_1


"Kak Tania!" Panggil Naila mengengam tangan Tania dengan erat dan menatap Tania dengan tatapan nanarnya dan hal itu berhasil menghentikan langkahnya, Tania membalikan badanya dan menatap Naila dengan tersenyum dan melepas gengam tangan Naila yang melingkar di pergelangan tanganya.


"Kakak, Naila ngk tau mau ngomong apa lagi, Kakak baik banget ke keluarga Naila, Kak Lendra beruntung banget memiliki istri sebaik Kakak!" ucap Naila terharu dan langsung memeluk tubuh Tania yang berada di hadapanya.


"Nanti kamu bantu Kakak ya jagain Mama!" ucap Tania sembari mengelus punggung Naila dengan lembut dan kemudian pergi meninggalkan mereka di tempat ini dan mengikuti langkah Dokter keruangan untuk mengecek suhu badan dan kesehatan tubuhnya.


"Kakak mau kemana?" tanya Naila saat melihat Lendra yang juga ingin pergi.


"Kakak tidak akan membiarkan Tania mendonorkan ginjalnya buat Mama, Kakak tidak ingin melihat dia menderita!" ucap Lendra yang langsung berlari mengejar Tania.


"Sepertinya Lendra sudah mulai mencintai Tania!" ujar Rusdi yang melihat kepergian sahabatnya itu sudah mulai menjauh dari mereka.


"Naila juga merasa seperti itu Kak!" balas Naila tersenyum. Hal itu tentu membuat Safania semakin kesal, Tania lebih baik darinya dan bahkan kebaikan yang di tawarkannya tidak terlihat oleh Lendra dan Lendra lebih mengutamakan Tania dari pada dirinya.


"Aku istrinya Lendra!" jawab Safania dengan sinis.


"Istri kedua Kak, Istri yang tidak di akui di keluarga apa lagi negara!" balas Naila tidak kalah sinis dan melipat kedua tanganya dan di letaknya di dadanya.


"Jaga ucapan kamu Naila, Bagaimana pun aku adalah Kakak ipar kamu!" ucap Safania menatap tajam Naila dengan kemurkaan yang mulai memuncak.


"Tapi yang di bilang Naila benarkan? Lohkan cuma Istri sirihnya Lendra!" balas Rusdi menatap santai pada Safania.


"Ehh loh cowok ya, mulut loh kok kayak cewek, dasar tukang gosip!" bentak Safania pada Rusdi.

__ADS_1


"Yang kita bilang benar kali!" Naila.


"Dasar!" kesal Safania yang langsung meninggalkan mereka dan mengikuti langkah Lendra yang mengejar Tania.


"Tan, Aku mohon jangan korbani diri kamu, Aku ngk mau sesuatu buruk terjadi sama kamu!" ucap Lendra yang kini mengengam kedua tangan Tania dan menatap kedua bola mata Tania dengan dalam berharap agar istrinya itu mau mendengarkan ucapanya. Tania tidak berani menatap mata indah Lendra, ia memilih tertunduk, keputusannya untuk menolong Liora sudah bulat dan ia tidak ingin membatalkan begitu saja.


Tania hanya dapat tersenyum dan melepas gengaman tangan Lendra serta membalikan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya membuka pintu ruangan yang sudah berada di hadapanya.


"Tania plis jangan lakuin hal ini, aku yakin kok bakal ada orang baik yang bakal donori ginjalnya buat Mama!" ucap Lendra lagi yang masih terpaku di tempatnya, ia benar benar tidak ingin hidup Tania di penuhi penderitaan.


Tania tidak membalas ucapan Lendra, ia menghembuskan nafasnya panjang. Ia takut suka mencium bau obat obatnya dan ia juga takut dengan suntik, tapi niatnya untuk membantu Liora sudah besar, apa pun halangannya harus di laluinya.


"Lendra biarkan dia melakukan keinginannya dan kamu tidak bisa melarangnya. Apa kamu tidak ingin melihat ibu kamu sembuh?" teriak Safania yang kini sudah berada di belakang mereka. Mendengar suara wanita itu, Tania kembali membalikan tubuhnya dan menatap orang yang berada di belakangnya.


"Bukankah kesehatan Mama kamu nomor satu, lalu kenapa kamu melarang Tania untuk mendonorkan ginjalnya? Bukanya kamu sangat mengharapkan kesembuhan Mama?" ucap Safania yang kini posisinya sudah berada di sejajar dengan Lendra.


"Aku memang sangat mengharapkan kesembuhan Mama tapi aku juga tidak ingin mengorbankan orang lain dalam hal ini!" ucap Lendra tampa menoleh pada Safania.


"Kamu niat ngk sih melihat mama kamu sembuh? Biarkan Tania memberikan ginjalnya!" ucap Safania yang mulai kesal pada Lendra yang terus saja melarang Tania.


"Safania benar Mas, kesehatan Mama nomor satu, kamu doain saja agar semuanya berjalan dengan lancar!" ucap Tania yang kemudian segera masuk kedalam ruangan yang ada di depanya.


"Safania kamu ngapain kesini, ini urusan ku dengan Tania, tidak seharusnya kamu ikut campur dan aku tidak akan membiarkan sesuatu buruk terjadi pada Tania!" ujar Lendra yang langsung pergi dari tempatnya dan meninggalkan Safania seorang diri di tempatnya.

__ADS_1


"Lendra kenapa sih? Kok dia malah belain Tania kek gitunya!" kesal Safania yang juga ikut meninggalkan tempat ini.


__ADS_2