Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 109 - Berdua dengan Vania


__ADS_3

"Nai, Mama mana?" tanya Lendra yanag kini mengalihkan perhatianya dari Tania. Ia yakin kalau Tania tau ia sedang menatapnya seperti itu walau pun istrinya tidak sedikit pun menoleh padanya. Tania hanya menatap kearah dinding dinding dan sudut ruangan Lendra. Rasanya ia terlalu malas untuk memandang wajah suaminya saat ini walau pun gugatan atau tuntutan perceraian belum di ajukanya dan dapat ia pastikan hal itu tidak lama lagi akan terjadi. Kesempataan Lendra untuk memperbaiki hubungan mereka sudah habis. Kesabaran yang di milikinya untuk menghadapinya suaminua sudah menepis jadi, tidak ada kata bertahan lagi baginya untuk saat ini.


"Mama juga sedang di rawat!" jawab Naila tertunduk.


"Papa?" Naila mengeleng. Ia tidak tau harus mengatakan apa pada kakaknya. Ia memang mengetahui kondisi ayahnya tapi, ia juga beluk mengetahui dimana keberadaan papa mereka karena selesai pihak rumah sakit mengabari mereka, Liora pingsan dan handphonenya terjatuh dan tidak dapat hidup. Ia juga tidak tega untuk meninggalkan mamanya di ruangan seorang diri. Untuk menyuruh Tania dan Vania berpencar mencari orang tuanya ia terlalu segan. Apalagi Lendra yang sudah terlalu banyak menyakiti kakak iparnya.


"Papa mana Nai?" mereka hanya membisu. Lendra semakin penasaraan tapi, fikiranya berusaha untuk berfikir positif, mungkin saja Deljno sedang menemani mamanya yang sedang di rawat. Ia tidak menanyakan kondisi Liora lebih lanjut karena ia menduga kalau mamanya hanya sedang syok melihat kondisinya sekarang dan penyakitnya kambuh lagi. Hal itu sudah biasa di lalui oleh Liora.


"Nai, Kakak lapar!" aduh Lendra setelah keheningan beberapa menit melanda mereka. Ia menepis semua rasa gengsinya karena perutnya sudah tidak dapat menahan perih lebih lama lagi. Kerongkonganya juga sudah terasa sangat kering, ia juga belum menenguk air putih. Kondisi lambungnya sudah sangat memperhatikan. Tidak ada memperdulikan keadaannya sekarang. Biasanya jika, ia sakit Liora selalu memanjakanya.


"Kakak mau makan apa?" tanya Naila.


"Bubur kacang hijau saja!" jawab Lendra. Makanan itu menjadi makanan favoritenya ketika ia sakit seperti ini dan mamanya yang selalu membuatkan menu itu untuknya. Tidak hanya ketika sakit, ketika berkunjung kerumah orang tuanya atau sedang bersantai pun Liora sering memasaknya.

__ADS_1


"Ya sudah Naila cari dulu ya Kak!" ujar Naila yang hendak meninggalkan ruangan namun, baru satu langlah kakinya melangkah namanya langsung di sebut oleh Tania. Naila menghentikan sejenak langkahnya dan menoleh pada kakak iparnya itu.


"Biar Kakak yang siapkan makanan untuk kak Lendra. Kamu jaga mama saja gih, kasihan mama tidak ada yang nemani pasti nanti kalau beliau sadar dan tidak ada yang menunggunya beliau akan merasa kesepian!"


"Ngkpp Kakak yang beli, biar Naila saja lagian tidak jauh kok nanti setelah itu baru Naila langsung keruangan mama!" tolak Naila.


"Biar Kakak saja ini pekerjaan Kakak karena kak Lendra masih suami Kakak dan kakak harus memperlakukanya dengan baik sebelum kata perpisahaan itu muncul. Kamu jaga mama gih, sekalian nanti oamu tanya tanya sama Dokter atau Suster tentang keberadaan papa sekarang, kasihan juga belum tidak ada yang jenguk apalagi yang rawat!" ucap Tania tersenyum seraya mengelus pundak kanan Naila dengan sebelum ia pergi untuk mencari makanan suaminya.


"Memang kenapa kalau Tania yang beli, kamu tidak mau makan?" ucap Vania dengan sinis. Dalam keadaan seperti ini pun, lelaki ini masih sempat sempatnya memilih dan menolak niat baik istrinya. Apa sebenarnya yang ada di pikiran pria seperti Lendra ini?.


"Kak Tania tadi nyuruh Naila buat nungguin Mama jadi, kak Tania sendiri yang langsung beli. Kak Van, Naila minta tolong jagain kak Lendra ya, Naila mau keruangan mama!"  Lendra membelalakan kedua bila matanya secara sempurna. Bisa bisanya adiknya menyuruh Vania.untuk menjaganya sedangkan ia dan Vania tidak pernah akur dan selalu debat mulut. Bukan sepi lagi nanti yang di rasakan Lendra tapi, tidak nyaman karena pasti, ia akan di ceramahi dan di marahi habis habisan oleh sepupu istrinya.


Dari awal pernikahaannya dengan Tania, ia sudah berdebat hebat dengan wanita ini lalu, bagaimana iandi tinggal berdua dalam satu ruangan. Lendra menyadari betul kesalahaanya pada Tania jadi, wajar saja jika Vania semarah itu padanya tapi, ia sedang sakit, ia tidak ingin merusak moodnya dan merusak indra pendengaraanya dengan ocehan ocehan yang keluar dari mulut Vania walau pun itu benar karena menurutnya apa yang di lakukan dan menjadi keputusanya lebih benar dan tepat.

__ADS_1


"Apa tidak bisa kamu keruangan mama tunggu Tania datang kesini?" ujar Lendra secara tidak langsung menolak kehadiran Vania di dalam ruanganya dan hal itu langsung di hadiahi tatapan tajam dari Vania. Itu sudah tidak mengejutkan lagi baginya. Bertengkar dengan Vania sudah menjadi hal biasa baginya. Dengan sekali tarikan nafas dan tidak merespon ucapan kakaknya Naila keluar dari ruangan xan meninggalkan Lendra dan Vania di dalamnya.


Selepas kepergian Naila, Vania hanya memainkan ponselnya dan tidak memperhatikan wajah Lendra yang tampak sangat bosan. Lendra sebenarnya ingin minta tolong pada Vania untuk mengambilkan ponselnya namun, ia terlalu canggung untuk mengatakanya dan kini ia hanya menatap Vania yang tengah asik dengan benda yang di pegangnya itu dan sesekali tersenyum pada layar ponselnya.


"Kamu ini bisa diam tidak sih, saya capek dari tadi harus nahan kamu, tinggal tanggung jawab apa susahnya. Dari penampilan kamu, kamu ini orang mampu dan masalah begini kamu malah ingin lari dari masalah. Kamu bisa jaga, rawat dan bayari rumah sakit bapak itu dan pasti bapak itu bakal maafin kamu tidak perlu cari cara untuk kabur seperti ini!" murka securtity yang menahan Safania itu. Walau pun ia sudah menguatkan gengamaanya tetap saja Safania melakukan pemberontakan, bahkan sepertinya wanita ini tidak memiliki rasa capek untuk lari.


"Kamu tidak mengerti dengan maksud saya jadi, tolong lepasin saya dan kalau kamu berada di posisi saya pasti kamu juga akan melakukan hal sama!"


"Tidak bisa seperti itu, kamu harus tanggung jawab terlebih dahulu. Saya tidak ingin tai apa permasalahaan kamu dan saya juga tidak ingin tau apa hubunga iamu dengan bapak itu. Saya hanya ingin kamu bertanggung jawab!"


"Pak, beliau itu mertua saya jadi, bapak ngk perlu ngatur ngatur saya dan kalau suami saya tau hal ini pasti saya akan di ceraikan dan saya tidak ingin hal itu terjadi. Bapak taukan dalam agama itu sangat tidak di anjurkan untuk berpisah. Apa bapak ingin melihat rumah tangga saya hancur?" teriak Safania yang sudaj berada di puncak amarahnya.


"Mertua?, kamu mempunyai mertua lain selain mama Liora dan papa Lendra?" tanya Tania yang entah dari mana tiba tiba saja sudah berada di antara Safania dan security itu. Mendengar nada bicara Safania tang keras ia memutuskan untuk menghampiri mereka yang tak jauh dari tempatnya selesai membeli bubur untuk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2