Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 120 - Lendra meminta maaf


__ADS_3

"Tania, aku minta maaf atas semua kesalahan ku sama mu. Aku sadar aku salah besar!" Tania hanya tersenyum mendengar penuturan sekaligus pengakuan Lendra. Tidak ada hujan, tidak ada petir suaminya tiba tiba meminta maaf seperti ini sepertinya ada yang janggal namun, Tania memilih untuk diam dan tidak mempermasalahkanya.


"Kak, Naila pamit keluar ya mau jenguk Mama dan papa!" ujar Tania merasa tidak enak jika masih berada di ruangan ini. Sebagai adik, ia juga harus memberikan ruang untuk Lendra dan Tania agar bicara berdua. Apalagi Lendra yang tidak pernah memperlakukan Tania tidak baik dan sekarang tiba tiba Lendra meminta maaf seperti ini.


"Tan!" Lendra berusaha untuk meraih telapak tangan Tania. Tania justru menjauhkan tanganya dari Lendra dan bersikap seolah tidak menatap kearah Lendra. Lendra paham, wajar Tania bersikap seperti ini, semua ini juga karena ulahnya yang sudah terlalu menyakiti istrinya.


"Bicara saja Mas!" ujar Tania.


"Saya minta maaf atas semua sikap sama ke kamu!"


"Saya sudah memaafkan tanpa Mas memintanya!"


"Saya ingin memulainya dari awal. Saya akan berusaha untuk tidak menyakiti kamu lagi!"


"Terima kasih atas niat baik Mas, tapi hati saya sudah terlalu sakit dan saya sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya seperti permintaan Mas diawal dan tenang saja Mas hanya perlu menanda tanaganinya saja karena saya yang akan mengurus semuanya. Mas bebas bahagia dengan istri kedua Mas. Biar aku yang pamit!" ujar Tania berusaha untuk tidak menitihkan air matanya.


"Tan, saya yakin kamu tidak sejahat itu. Saya ingin memulainya semua dari awal. Kita buka lembaran baru ya. Sudah tidak ada Safania di pernikahaan kita. Aku akan membahagiakan mu. Aku yang akan menjaga dan melindungi mu bersama Vania!" lagi lagi Lendra ingin mengengam tangan Tania namun, tetap saja di tepis oleh gadis itu.


"Saya bisa menjaga diri saya, Mas dan kami juga bisa saling melindungi. Mas tidak perlu repot untuk memikirkan kami. Dari awal saya dan Vania dapat hidup tampa Mas dan keluarga Mas jadi, Mas tidak perlu pusing memikirkan kami dan asal Mas tau, saya baru saja mengurus surat perpisahaan kita dan saya dan Mas hanya perlu menunggu hasilnya. Kita tidak perlu saling menyakiti!"

__ADS_1


"Tan iniĀ  bukan kamu, kamu tidak setega, aku yakin kamu orang baik. Kamu tidak akan mungkin meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini atau apa kamu ini meninggalkan ku karena aku sudah tidak punya apa apa. Dari awal kamu ingin mempertahankan rumah tangga kita lalu, kenapa setelah ini terjadi kamu ingin meninggalkan ku. Pertanyaan ku apa bedanya kamu dengan Safania?, Apakah setiap wanita sama seperti kamu dan Safania hanya menginginkan lelaki yang yang kaya saja?" tuduh Lendra, Tania masih menanggapinya dengan santai karena apa yang di ucapkan Lendra tidak benar sama sekali.


"Kamu ingat Mas sebelum kamu kecelakaan dan sebelum papa memutuskan untuk mengambil seluruh pemberianya, aku sudah meminta untuk berpisah dengan mu dan kamu sampai saaat ini belum menyanggupinya tapi, aku juga tidak memberikan perubahaan sikap pada saya dan kamu tenang saja Mas saya bukan Safania, saya akan menemani mu hingga kamu sembuh lalu kita berpisah secara baik baik!"


"Tetap saja kamu tidak ada bedanya dengan Safania. Tidak ada wanita yang dapat di percaya!" Lendra menatap gangit langit ruangan dengan tangan mengepal berusaha menahan seluruh amarah yang mungkin akan bergejolak di hatinya.


"Silahkan kamu tanya mama dan papa, aku juga sudah bicarakan hal ini dengan mereka dan mereka menyetujuinya karena sifat kamu yang selalu seperti ini dan tidak pernah berubah dan asal kamu tau Mas tidak ada wanita yang tahan jika selalu mendapat perlakuan seperti ini.


"Aku janji akan ubah semua sikap aku Tan tapi, kamu coba untuk bertahan lagi, aku akan perbaiki lagi semua rumah tangga kita yang sudah aku hancurkan. Aku butuh kamu, Tan!" mata Lendra mulai berkaca kaca berharap berharap agar gadis itu mau menerima permintaanya.


"Lalu bagaimana dengan kaca yang sudah kamu pecahkan Mas, serpihanya masih berserakan di mana mana. Goresanya masih terasa sangat perih tapi, sampai saat ini belum aku temukan perubahaan sikap kamu. Aku terlalu mengharapkan mu atau kamu yang terlalu menyepelekan ku?"


Naila yang ingin menghampiri ruangan orang tuanya tiba tiba saja harus meorogoh sakunya karena adanya deringan telpon dari dalam rok yang di pakainya tanpa lama lagi Naila segera mendekatkan benda yang baru saja di ambilnya dan meletakanya di dekat telinganya.


"Kak Evan ada apa?" tanya Naila.


"Apa?"


"Kakak serius?"

__ADS_1


"Ok Kak, Naila akan segera kesana!" tampa basa basi dan menunggu lama lagi Naila segera berlari keluar dari rumah sakit dan membatalkan niatnya untuk menjenguk ibunya. Di kendarainya mobil miliknya dengan kecepatan tinggi bahkan karena saking khawatirnya ia juga melewati lampu merah yang menandakan pengendara harus berhenti tapi, yasudahlah telpon yang di terima jauh lebih mengkhawatirkanya dari pada keselamatanya.


Segera di tujunya tempat yang di maksud oleh Evandi. Benar saja setelah memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam ruangan sesuai degan informasi dari lelaki itu. Naila mendapati Rusdi yang sudah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dan hal yang paling menyakitkan di saksikan Naila. Ia melihat Kiara yang sedang mengelus rambut Rysdi dengan lembut, tampaknya wanita itu sangat tulus pada sahabat kakaknya. Naila menyaksikan semuanya dari depan pintu ruangan Rusdi dengan menahan air matanya.


Naila memilih menutup kembali ruangan itu dan duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan serta menekupkan wajahnya di kedua tanganya. Dadanya terasa sangat sesak. Ia khawatir dengan kondisi Rusdi namun, apa yang sudah di lihatnya juga terlalu menyakitkan.


"Nai!" panggil Evandi yang kini sudah berdiri di hadapan wanita itu. Naila mendongkan kepalanya dan menatap pria itu dengan mata berkaca kaca.


"Kamu kenapa ngk masuk?" tanya Evandi.


"Naila baru sampai Kak dan Naila mau istirahat sebentar!"


"Yasudah kamu mau masuk bareng atau mau entaran lagi?"


"Naila ikut Kakak!" jawab Naila cepat.


"Kiara sekarang silahkan kamu keluar saya dan Naila sudah datang. Sebaiknya kamu segera pergi dari kehidupan keluarga pak Delino mau pun Rusdi karena kamu juga sudah mengundurkan diri dari perusahaankan jadi, kamu sudah tidak ada hak untuk berada di sini!" mendengar ucapan Evandi, Kiara langsung bangkit dari kursi yang di dudukinya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya. Bisa bisanya di saat seperti ini Rusdi masih menaruh rasa benci padanya.


"Pak, Apakah hanya karyawan yang boleh menjenguk pak Rusdi? Saya masih ingin menjaga beliau!" tanya Kiara canggung.

__ADS_1


"Kamu ngk sadar juga penyebab Rusdi berada di tempat ini karena kamu dan kamu ingatkan Rusdi juga berada di uks kantor tadi juga karena kamu dan sekarang karena ulah kamu lagi. Kamu hampir saja mengrenggut nyawa teman saya secara tidak langsung!" teriak Evandi dengan jari telunjuk mengarah pada wajah Kiara yang tertunduk dan sudah menitihkan air matanya.


__ADS_2