Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 29 - Rusdi menabrak Rafa


__ADS_3

Di temani oleh Sari, Evandi kini sedang berjemur di bawah teriknya matahari, di dekat kolam renangnya. Udaranya tidak terlalu panas, suhunya terasa hangat di tubuhnya. Ia memang merasa tidak asing dengan tempat ini, namun ia juga tidak dapat mengingat hal apa pun di tempat ini.


"Bi, Saya sepertinya ingin berenang!" ujar Evandi menatap air kolamnya yang tampak tenang.


Setelah pemberitahuan dari Dokter jika Rafa sudah sadarkan diri, Vania, Nadya dan Rusdi kini memasuki ruangan tempat Rafa di rawat. Vania membantu Rafa yang hendak duduk.


"Masih sakit ya?" tanya Vania cemas karena Rafa memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Sudah ngkpp kok!" jawab Rafa tersenyum tipis.


Rafa menyapukan seluruh pandanganya, ia menatap sekilas pada Nadya dan kemudian melihat Rusdi yang berdiri di sebelah gadis itu. Ia menatap Rusdi dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia seperti mengenali lelaki ini tetapi, ia lupa di mana ia pernah bertemu dengan pria ini.


Ia mencoba untuk mengingat hal tentang pria yang sudah mencelakainya ini. Seketika benaknya kembali mengingat peristiwa pernikahan Tania.


"Tuk pertama kalinya aku bisa maafin kamu memperlakukan Safania seperti itu tapi tidak untuk yang kedua kalinya!" bela Lendra menatap Vania seakan siap memakan wanita yang ada di hadapanya itu dan jari telunjuknya tepat sejajar dengan bola mata kiri Vania.


"Berani kamu sama wanita?" bela Rafa pula yang tak terima kekasihnya mendapatkan perlakuan seperti itu. Rafa menarik ujung tangan Lendra yang mengarah pada Vania dan memutarkan seluruh tubuh lelaki baj*ngan itu. Matanya juga sempat melihat adanya seorang lelaki yang berpenampilan rapi berdiri di sebelah Lendra.


Ia sangat yakin jika orang yang di lihatnya itu adalah orang yang menabraknya ini dan kemungkinan besar orang ini adalah kenalan lelaki yang menikahi Tania hingga wanita itu kabur dan sampai sekarang tidak di ketahui keberadaanya.


Wajah Rafa seketika memerah dan tangannya mengepal menatap wajah Rusdi, walau pun bukan dia yang menikahi Tania tetapi tetap kebencian itu tersimpan padanya. Vania menyadari perubahan sikap Rafa, ia segera mengengam tangan Rafa untuk sedikit menenangkan pria itu. Vania mengira jika Rafa emosi seperti ini karena Rusdi sudah menabraknya.


"Saya minta maaf Pak, Saya tidak sengaja!" ujar Rusdi yang juga menyadari kemarahaan Rafa padanya.


"Di mana teman kamu itu?" tanya Rafa dengan menekan setiap ucapanya.


"Teman yang mana maksud kamu?" tanya Rusdi tak mengerti.


"Kamu kenapa Raf?" tanya Vania yang juga tak mengerti dengan maksud kekasihnya ini. Apakah ada hal lain yang di sembunyikan pacarnya ini darinya, pikirnya.

__ADS_1


"Temanya dia yang sudah menikahi Tania!" jawab Rafa tampa menoleh pada Vania. Vania langsung menatap Rusdi dengan seksama dan kembali mencoba mengingat kejadian beberapa hari lalu dan benar saja ia langsung mengingat jika Rusdi hadir di hari pernikahaan Tania, dan ia berdiri di sebelah Lendra.


"Jadi, wanita itu adalah teman kalian?" tanya Rusdi yang kini sudah mengingat kejadian itu.


"Dan sampai Tania tidak tau kemana karena temen brens*k mu itu!" ucap Rafa.


Rusdi hanya dapat menghela nafasnya, ia mengerti dengan kondisi mereka saat ini, wajar saja Rafa marah padanya.


"Saya akan bantu mencari keberadaan teman kalian dan ketahuilah saya benar benar tidak mengetahui hal ini dan saya juga tidak tau menahu jika teman saya itu akan menikahi dua gadis sekaligus yang saya tau sebelumnya ia hanya akan menikahi Tania!"


"Dan kamu pikir kita akan percaya begitu saja?" Rafa.


"Itu terserah pada kalian mau percaya atau tidak yang jelas saya sudah berkata jujur!" ujar Rusdi.


"Karena pacar kamu sudah sadar, Saya harus melanjutkan pekerjaan saya ke kantor, masalah administarsi sudah selesaikan dan ini kartu nama saya, jika ada sesuatu kalian bisa hubungi saya dan saya juga janji akan mencari keberadaan Tania!" ucap Rusdi sembari memberikan kartu namanya pada Vania.


"Kak Lendra, Naila lapar!" teriak Naila yang sudah menunggu hampir tiga jam lebih di dalam ruangan Lendra. Ia merasa kesal pada kakaknya itu, tadi kakaknya berpesan jika butuh sesuatu agar memintanya pada Office Boy tetapi, Lendra menguncinya di dalam ruangan. Bagaimana bisa ia memanggil Office Boy, jika ia saja di kurung di ruangan seperti ini.


"Akhhh lapar!" keluar Naila yang kini sudah terduduk di depan pintu dan merengek layaknya seorang anak kecil yang sedang kelaparan, dasar anak manja.


"Ruangan Lendra tumben di kunci?" gumam Rusdi yang kini sudah berada di depan pintu ruangan Lendra dengan membawa beberapa berkas di tanganya. Dan tampa pikir panjang ia langsung membuka ruangan itu karena Lendra meletakan kuncinya di atas meja yang ada di depan pintu ruanganya.


"Awwhhh tangan aku!" ringis Naila kesakitan. Pintu di buka secara dadakan membuat tubuhnya sedikit terdorong dan hasilnya tanganya terjepit di bawah pintu itu. Rusdi yang mendengar adanya suara wanita langsung membantu Naila dan meniup bagian tangan Naila yang memerah.


"Sakit tau!" ucap Naila mengibas ibaskan tanganya setelah Rusdi melepaskan tanganya.


"Naila!" teriak Rusdi kegirangan saat melihat wanita yang ada di hadapanya dan langsung memeluk tubuh Naila yang lebih kecil darinya. Hal itu memang sudah biasa Rusdi lakukan pada gadis kecil ada di depanya karena ia sendiri sudah menganggap Naila seperti adiknya sendiri.


"Akhhhh Kak Rusdi!" teriak Naila berusaha keluar dari dekapan Rusdi yang membuat tubuhnya terasa sesak.

__ADS_1


"Kamu sudah gede ya!" ucap Rusdi mengelus kepala Naila yang alhasil membuat hijabnya maju kedepan dan menjadi berantakan, membuatnya semakin kesal pada lelaki yang ada di hadapanya.


Ternyata kejadian itu sejak tadi sudah di perhatikan oleh Kiara, Sekretaris Lendra. Ia merasa kesal dan Jelens pada Naila karena sudah berhasil mendapat pelukan Rusdi seperti itu, perihalnya Kiara menyukai Rusdi, atasanya sendiri.


"Siapa sih wanita itu, tadi dia kesini sama pak Lendra, sekarang dia mengoda pak Rusdi, maunya apa sih?" kesal Kiara dengan meremuk berkas yang di bawanya.


"Iya ngk mungkinkan Kak, aku kecil terus!"


"Jadi gimana sekolahnya? Sudah selesai?"


"Sudah dong, tinggal nunggu ijazahnya keluar!"


"Memang ngk mau lanjut?"


"Maunya sih gitu, tapi ngk di bolehi sama Kak Lendra!"


"Kenapa?"


"Kat ...!"


Belum selesai menjawab pertanyaan Rusdi, Kiara sudah muncul di hadapan keduanya dengan senyum lebar yang di punyanya. Nadya menatap tak suka pada Kiara, selain pakaiannya yang cukup ketat, ia juga tampak seperti mengoda Rusdi karena tatapanya hanya terfokus pada Rusdi tampa menoleh padanya, sekalinya ia menatap Naila dengan tatapan sinisnya dan Naila sangat menyadari hal itu.


"Pak, ini ada berkas yang harus Bapak tanda tangani!" ujar Kiara sembari memberikan map itu pada Rusdi. Sebelum menerima map yang di berikan Kiara, Rusdi menatapnya dengan tatapan heran. Bagaimana bisa Sekretaris Ceo perusahaan besar memberikanya map yang sudah remuk seperti ini.


"Kiara, sebaiknya sebelum kamu memberikan berkas itu pada saya, kamu perhatikan dulu penampilan berkas itu. Bagaimana nanti, jika pak Lendra melihat hasil pekerjaan kamu seperti ini?, Kamu bisa di pecat!" tegur Rusdi setelah menghembuskan nafasnya.


Mendengar pernyataan dari Rusdi, Kiara menolehkan pandanganya pada berkas yang di bawanya, benarnya saja yang di ucapkan Rusdi, amplop berwarna coklat yang di bawanya sudah terlipa lipat dan sudah tidak layak di pakai.


"Hehehe iya Pak, Maaf ya Pak, Saya keliru, Saya akan mengulangi berkasnya dan memberikanya kembali pada Bapak!" ucap Kiara dengan centil.

__ADS_1


"Ya sudah kamu perbaiki dulu sana!" pinta Rusdi.


"Ya sudah saya pamit ya Pak!" ujar Kiara yang langsung meninggalkan Naila dan Rusdi di dalam ruangan Lendra.


__ADS_2