Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 8 - Terlantar di jalanan


__ADS_3

Evandi tidak henti hentinya terus memikirkan ucapan Tania di dalam kamarnyanya, bertahun tahun ia menunggu dan nenaruh harapan besar pada wanita yang selama ini di jaganya dengan baik dan dengan mudahnya wanita itu mengatakan jika ia sudah menikah.


"Akhhhhhhhhhhhh!" Evandi membanting meja yang berisi banyak tumpukan buku dan benda kacanya di atasnya, ia tidak lagi memperdulikan banyaknya berkas penting di meja itu, pikiranya benar benar kacau.


"Bro, mending cari yang pasti aja deh!" ucapan Lendra tiba tiba saja tergiang di benaknya. Apa yang di katakan sahabatnya ada benarnya juga tetapi hatinya kini sudah di penuhi oleh Tania, sang pujaan hati, jadi tidak mungkin baginya untuk melupakan sahabatnya secepat itu.


"Gue sayang sama loh Wid, masak loh ngk nyadar juga, gue cinta sama loh!"


"Loh sadar ngk sih, ucapan loh itu nyakiti gue banget!" teriak Evandi dengan rambut yang sudah berantakan dan jas yang sudah tidak lagi menempel di badanya.


Tubuhnya kekar kini tergelatak di lantai dan air mata yang menetes dengan derasnya tampa henti dan jeda. Mental dan fisiknya benar benar di hancurkan oleh kondisi hatinya.


Secara diam diam Sari mengintip Evandi melalui pintu kamar pria itu dengan sedikit ruang baginya karena memang pintu itu tidak di kunci olehnya. Ia menyaksikan betapa tulus dan cintanya Evandi terhadap Tania. Sari juga ikut meneteskan air matanya melihat kehancuran majikanya itu tetapi, ia sendiri tidak memiliki keberanian untuk menemui Evandi saat ini walau sekedar memberi semangat pada pria itu.


"Kasihan sekali kamu Den, pasti hati kamu hancur banget!" gumam Sari yang sudah tidak tega melihat Evandi dan kembali menutup celah pintu kamar pria itu.


"Akhhhhhhhhhhh!" teriak Evandi lagi. Pria itu bangkit dari posisinya yang tergelatak di lantai dan mengambil foto berukuran besar yang di pajangnya di dinding kamarnya dan ia langsung membantingnya dengan begitu kerasnya.


Bingkai foto yang di bantingnya adalah gambarnya bersama Tania ketika lulus SMA dengan memakai baju wisuda danĀ  toga di kepalanya. Senyum lebar yang terbit dari keduanya membuat hatinya semakin hancur. Sebagian dari pecahan kaca itu mengenai kening dan wajahnya hingga berdarah namun, rasa sakit itu tidak lagi di rasakanya.


Ia kembali mengingat ketika ia bertemu dengan Tania di jembatan sebelum wanita itu pingsan, ia memang melihat gadis itu sedang mengenangkan kebaya tapi tidak sedikit pun terlintas di pikiranya jika sahabatnya itu sudah menikah, ia hanya mengira jika Tania hanya sedang melakukan pemotretan.


Sari dengan langkah terburu buru berlari keruang utama rumah Evandi dan menghampiri telpon rumah dan menekan beberapa bagian dari benda itu untuk menghubungi teman Evandi.


"Ada apa Bi?" tanya Rusdi orang yang berhasil di telpon Sari.


"Den, Tuan Evandi teriak teriak di dalam kamarnya!" aduh Sari.

__ADS_1


"Teriak teriak gimana Bi?" tanya Rusdi yang ikut di buat khawatir oleh nada bicara Sari yang terdengar sangat panik.


"Tuan sepertinya mengalami depresi berat!"


"Tapi tadi Evan masih datang kearah pernikahan Lendra, gimana bisa sekarang dia depresi?"


"Sebaiknya sekarang Aden datang kesini, kasihan tuan Evandi Den!"


"Baik Bi!"


Rusdi yang masih berada di acara pernikahaan Lendra, matanya menyapu seluruh isi ruangan dan menatap setiap sudut, namun tak di temukanya Lendra, mungkin saja pria itu sedang menikmati acaranya bersama kekasihnya, pikir Rusdi. Tak mau pikir panjang lagi Rusdi segera meninggalkan acara Lendra tampa memberitahu dahulu.


Di bawah guyuran hujan, Tania terus melangkah di bantu oleh bocah perempuan itu ke tempat mereka istirahat. Betapa terkejutnya Tania saat melihat tempat ini, sungguh tempat yang tidak layak untuk di gunakan. Bangunan yang hanya di pondasi oleh kardus dan koran sebagai lantainya, semuanya tampak berantakan dan jorok. Bagaimana bisa ia untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya di tempat seperti ini.


Ia ikut mendudukan bokongnya di atas tumpukan koran itu dan menatap setiap anak yang kedindingan dan ada sebagian di antara mereka yang sudah tertidur.


"Kakak tidak tidur?" tanya bocah yang membawanya ketempat ini.


Seketika lamunan Tania buyar dan ia langsung menatap anak kecil yang kini duduk di sebelahnya, selesai menatap anak itu ia kembali menatap sekitarnya yang tampak kotor, ia tidak mungkin bisa untuk tidur di tempat seperti ini.


"Adek tidur saja duluan, nanti Kakak juga tidur," balas Tania tersenyum sembari mengelus rambut anak itu dengan lembut. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia tidak dapat tidur di tempat seperti ini pasti akan menyakiti anak itu, bukan hanya ia tetapi teman yang lain juga pasti akan tersinggung dengan ucapanya.


"Yasudah aku tidur luan ya Kak!" pamit anak itu kemudian melangkahkan kakinya dan gabung tidur bersama yang lain.


Semua anak sudah tertidur dengan nyenyak, tinggalah Tania sendiri, ia terus menatap anak anak itu dengan perasaan iba penuh kasihan.


"Kasihan sekali kalian terlantar seperti ini!" gumamnya.

__ADS_1


"Andai saja aku memiliki rejeki lebih pasti aku akan membuatkan rumah singgah untuk kalian, agar anak anak seperti mereka bisa mendapatkan tempat istirahat yang lebih layak!" gumam Tania.


Rafa kini masih terduduk di kursi taman sembari menunggu kedatangan Safar datang untuk menjemputnya, menunggu Safar yang tak kunjung tiba ia juga menghubungi beberapa bawahan dan rekan kerjanya untuk membantunya mencari Tania.


Beberapa foto Tania di sebar di grup kerjanya dan menyuruh karyawanya untuk segera mengprint foto Tania dan menyebarkanya kejalanan agar bagi siapa pun yang menemui Tania dapat menghubunginya.


Tiga puluh menit sudah Rafa menunggu kehadiran Safar namun, sepertinya pria itu juga tidak akan sampai dalam hitungan waktu yang sama. Jenuh sudah mulai di rasakan oleh Rafa, amarahnya sudah ingin di luapkannya, sebagai seorang Ceo di perusahaan besar, tidak pernah baginya untuk menunggu seseorang selama ini apalagi yang di tunggunya adalah bawahanya.


"Kemana anak ini?" keluh Rafa yang mulai gelisah dan terus menekan tombol ponselnya untuk menghubungi Safar namun, nomor pria itu sedang tidak dapat di hubungi membuat kegelisahaan Rafa semakin meluap.


"Keren juga hp loh!" puji seorang lelaki dengan tubuh tegak dan kekar, memakai kalung yang berukuran besar. Ia adalah seorang pereman yang sering menalak setiap orang yang berkunjung ketaman ini apalagi jika seseorang yang berkunjung itu memakai barang barang mewah.


"Siapa loh?" tanya Rafa dengan tatapan kebencian. Ia sudah dapat menduga orang yang ada di hadapanya ini adalah orang orang yang malas bekerja tetapi ini cepat kaya.


"Gue penguasa di tempat ini!" ucapnya seraya mengertakan kakinya ketanah.


"Emang tanah ini milik nenek moyang loh?" ucap Rafa dengan kedua bola mata melotot.


"Melawan loh ya!" marah pereman itu pula yang mulai melayangkan tanganya kebagian kepala Rafa, untungnya Rafa dapat mengelak dengan cepat dan kembali memukul pria kekar itu dengan keras.


"Mau sok jagoan loh?" bentaknya dengan kaki yang siap menendang perut Rafa.


"Saya bukan jagoan tapi saya benci orang sok kejagoan!" tantang Rafa dengan kedua tangan mengepal.


"Kenapa loh ngk suka?" bentak preman itu kalah keras.


Tampa basa basi dan aba aba lagi Rafa langsung menyerang preman itu, pertama yang di pukulnya adalah perut preman itu hingga ia tersungkur ke tanah, kesempatan juga ia gunakan menendang punggung pereman itu hingga kepala preman itu mengenai batu yang ada di dekatnya hingga berlumuran darah.

__ADS_1


__ADS_2