Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 23 - Kerumah Vania


__ADS_3

"Bu, Ibu belum makan dari semalam, makanannya sudah saya siapkan!" ucap Narsi menghampiri Tifani di dalam kamarnya. Tifani yang sedang menatapi bingkai foto dirinya bersama Vania dan Tania.


"Bi, kapan ya Tania balik? Saya kangen banget sama dia!" sendu Tifani.


"Kita do'ai yang terbaik aja Bu semoga Non Tania baik baik saja, di mana pun beliau berada dan semoga selalu dalam lindungan Allah!"


"Amin!"


"Ibu makan dulu ya!"


"Saya belum selera makan Bi!"


"Saya minta tolong banget Bu, nanti kalau Non Vania tau pasti saya bakal di marahi Bu, kasihan saya dong, plis Nyonya makan ya, sedikit saja!"


"Saya belum bisa Bi!"


"Ibu sudah menghubungi nomor Non Tania barang kali Non Tania sudah dapat di hubungi!"


"Saya sudah mencobanya berkali kali Bi, tapi tetap saja tidak terhubung!"


"Asslamualaikum Bi, Bi!" panggil Vania sembari menekan bel rumahnya. Ia bersama Nadya, Vandir dan Rafa kini sudah berada di dalam rumahnya. Nadya tidak hentinya menyapukan pandangannya pada pekarangan rumah Vania yang sangat luas dan bunga tertata dengan rapi.


"Pantes saja Rafa memilih Vania, ternyata dia sangat kaya sedangkan aku? tapi ya sudahlah mereka memang cocok. Rafa kaya dan Vania berasal dari keluarga yang mapan dan sampai kapan pun Rafa tidak akan pernah menjadi milik ku apalagi kekasihnya sekarang adalah wanita yang sempurna, pasti orang tua Rafa menyetujui hubungan keduanya dan sudah tidak ada ruang bagi ku!" gumam Nadya.


"Nadya kenapa?" pikir Rafa yang sejak tadi ternyata memperhatikan pergerakan Nadya dan kini wanita itu tertunduk sendu.


"Bentar ya Om, Nad, Bibi mungkin masih di belakang!" Vania.


"Iya ngkpp kok Van!" ucap Nadya yang kembali memperhatikan sekitarnya.


"Kenapa Nad?" tanya Vania sedikit merasa aneh pada Nadya.


"Rumah kamu cantik banget, megah, luas lagi!" puji Nadya tersenyum lebar.


"Bu, Ibu mendengar suara pintu?" tanya Narsi.


"Kayaknya sih ada orang, kamu buka pintu sana!" pinta Tifani.

__ADS_1


"Bibi lama banget sih buka pintunya!" kesal Vania setelah Narsi membukakan pintu rumahnya.


"Iya, Bibi baru dari kamar Bu Tifani!"


"Siapa Non?"


"Temen saya Bi!"


"Mama kesal banget lihat wanita itu, ngapain sih dia datang kerumah ini?, Lendra lagian ngapain nyambut dia hangat begitu, dia ngk mikiri apa perasaan istrinya bagaimana?" cerocos Liora yang kini mereka sudah berada di area kolam renang.


"Tapi Mama juga ngk bisa begitu dong!" Delino.


"Tau tuh kak Lendra, ngk mikiri apa gimana?" Naila


"Kamu ngk boleh gitu, itu kakak kamu loh!" ucap Tania berusaha untuk tegar walau sebenarnya hatinyalah yang paling hancur dan terluka. Ia memegang kedua pundak adik iparnya itu dan tersenyum manis pada Naila.


"Kakak ngk cemburu suami Kakak bersama wanita lain?" Tania hanya tersenyum membalas ucapan Naila.


"Nai, Kakak boleh pinjam hp kamu?"


"Hp Kakak kemana?"


"Boleh nih!" ucap Naila menyodorkan ponselnya pada Tania.


Tania menatap layar ponsel Naila dan kemudian menghela nafas panjang kemudian menekan beberapa tombol di benda itu, ia berusaha mengingat nomor tantenya untuk mengabari bahwa ia sedang baik baik dan sekarang sudah berada di rumah Lendra.


Rafa, Vania, Nadya dan Vandir kini sudah berada di ruang tamu dan di seguhkan secangkir teh setiap orangnya. Vania mendengar suara deringan ponsel Tifani yang terletak di atas meja yang ada di hadapan mereka, ia hanya menatapnya sekilas dan mengecilkan volume suara handphone Tifani agar tidak mengangu perbincangan mereka.


"Hp mama bunyi tuh Van!" Rafa.


"Iya aku sudah kecili volume suaranya kok!"


"Angkat dulu siapa tau penting!" Vandir.


"Nomor baru Pak, Vania malas ngangkatnya!"


"Takutnya penting!" Nadya.

__ADS_1


"Sudah biari ajalah!"


"Kakak nelpon siapa Kak?" tanya Naila yang sejak tadi memperhatikan Tania yang tampak cemas dan gelisah. Kini wanita itu berdiri di belakang Tania yang hendak kembali menghampiri mertuanya.


"Kakak cuma mau nelpon tante, ngabarin kalau Kakak di sini baik baik saja, takutnya nanti mereka kepikiran!"


"Oh!" singkat Naila mengikuti langkah Tania yang sudah berjalan lebih dulu darinya.


"Lend!" panggil Rusdi yang sudah berada di dalam rumah Lendra dan menghampiri Lendra dan Safania di meja makan. Rusdi memang sudah lantang masuk kedalam rumah Lendra tampa mengucap salam atau pun menekan bel dahulu apalagi mereka yang masih ada sedikit selisih paham.


Mata Lendra dan Safania kini tertuju pada lelaki itu, Lendra menatapnya dengan malas sedangkan Safania menatapnya dengan tatapan sedikit jengkel karena pria ini sudah merusak adegan romantisnya bersama kekasihnya.


"Ada apa?" ketus Lendra dengan mengalihkan tatapanya dari Rusdi yang kini sudah berada di sebelah kursi yang di dudukinya.


"Untuk beberapa saat ini Evandi belum bisa masuk kantor!"


"Gue tau, diakan sakit!"


"Gue kasih dia cuti sampai dia sembuh!"


"Masalahnya dia butuh cuti lama!"


"Memang Evandi kenapa?" kali ini Lendra menyingkirkan egois dan keras kepalanya, tidak mungkin baginya untuk terus memperpanjang masalah sepele apalagi mendengar berita temanya yang sedang sakit. Jika meminta cuti yang lama berarti Evandi mengalami sakit yang cukup serius bukan?.


"Evandi sudah membaik tapi dia mengalami amnesia dan dia tidak ingat dengan siapa pun termasuk gue!" jelas Rusdi dengan nada sendu.


"Loh serius?" tanya Lendra yang kini sudah berdiri dari kursinya dan menatap wajah Rusdi.


"Gue ngk bercanda Lend, Sekarang Evandi di rumahnya, loh bisa cek sendiri!" ucap Rusdi yang kemudian pergi meninggalkan Lendra.


"Di!" panggil Lendra mgngejar Rusdi yang hampir menjauh darinya.


"Ada apa?" tanya Rusdi menghentikan langkahnya tampa menoleh pada sahabatnya itu.


"Gue minta maaf atas kejadian di rumah sakit!"


Bukanya menjawab Rusdi malah semakin mencepatkan langkahnya dan meninggalkan Lendra yang masih terpaku di tempatnya. Di antaranya ketiganya Rusdi adalah orang yang paling humor dan receh tapi ia juga adalah orang yang tidak bisa bercanda perihal wanita apalagi jika perempuan itu di permainkan. Lendra mengerti dengan keadaan Rusdi sekarang, ia hanya dapat menghela nafasnya.

__ADS_1


"Astaga kamu kenapa bisa tiba tiba di sini?" ucap Lendra yang hendak membalikan tubuhnya dan kembali ke meja makan tapi ia sudah lebih dulu mendapati Safania yang ada di hadapanya.


"Itu yang datang ke acara pernikahaan kita?" tanya Safania dan Lendra hanya mengangguk.


__ADS_2