Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 63 - Aku kembali memiliki Ibu


__ADS_3

Setelah menanyakan perihal Vandir pada Polisi yang berjaga di kantor, Fikri memutuskan untuk menunggu kehadiran Vandir disini. Selang beberapa waktu seorang polisi yang usianya tidak terpaut jauh darinya datang menghampirinya.


"Pak orang yang ingin Bapak temui sudah datang!" ujarnya.


"Baiklah, Terima kasih!" balas Fikri.


"Kenapa kalian menahan ku sedangkan aku tidak berbuat kejahatan? Apakah ini yang di namakan keadilan!" ujar Vandir yang terus memberontak. Tangan di gengam erat oleh kedua polisi ini.


"Pak, Tolong jangan tingkah dan perilaku Bapak!"


"Seharusnya saya yang berkata demikian, usia saya jauh lebih tua dari kalian, Jangan sementang kalian memiliki jabatan lalu kalian seenaknya memasukan saya kedalam penjara, kalian bisa saya tuntutan balik!" ujar Vandir menghempaskan paksa keempat tangan yang memegangi tubuhnya itu.


"Laporkan saja Pak, Bapak sudah terbukti bersalah lalu sekarang Bapak melakukan perlawanan terhadap pihak berwajib dan malah mengatakan akan menuntut balik kami, tuntut saja Pak dan kami yang bakal memasukan Bapak secara langsung kejeruji besi!" ucap Polisi satunya lagi dengan sombong dan kembali memegangi lengan Vandir.


"Lihat saja aku akan menuntut kalian balik, kalian sudah menghalangi ku bertemu dengan anak ku!" ancam Vandir. Gengaman Polisi itu di tubuhnya semakin kuat dan ia sudah tidak dapat melakukan pergerakan selain mengikuti langkah polisi ini yang akan memasukanya kedalam sel tahanan.


"Pak!" panggil Fikri. Dua Polisi itu segera memutar balik pandanganya mengarah pada orang yang berada di belakang mereka.


"Kenapa Bapak ini dimasukkan kedalam sel tahanan Pak?" tanya Fikri menatap heran pada kedua polisi yang bertugas ini.


"Bukan Bapak ini merupakan komplotan dari preman preman yang sudah menyerang Bapak?" tanya salah satu polisi yang merasa binggung dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Fikri.


"Bapak ini bukan komplotan mereka dan anak Bapak inilah yang menjadi korban dari mereka, tetapi kami melupakan Bapak ini dan meninggalkanya di tempat kejadian!" jelas Fikri. Kedua Polisi itu terdiam dan saling melemparkan pandanganya.

__ADS_1


"Keluarkan Bapak ini, Pak!" pinta Fikri.


"Dimana anak saya?" tanya Vandir yang kini sudah keluar dari dalam penjara dan langsung menarik tangan Fikri agar segera mengantarkan ketempat Nadya.


"Van, Van, Sadar dong Van, aku belum siap kehilangan kamu. Aku sayang sama kamu Van!" ujar Rafa terisak dan menguncang guncangkan tubuh wanita yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Rafa mengengan dengan erat tangan Vania dan berulang kali ia mengecup telapak tangan gadis itu. Air matanya juga membasahi jari jemari Vania.


"Van, Maafin aku Van, Aku sayang sama kamu Van!"


"Tania, Menantu Mama!" ujar Liora saat menatap kedatangan Tania bersama Lendra yang sudah berada di daun pintu ruanganya. Lendra menatap sekilas pada Tania dan kemudian tersenyum tipis, Tania membalas senyuman itu.


"Gimana kondisi Mama?" tanya Tania.


"Sudah lebih baik Sayang!" balas Liora tersenyum.


Jika dalam cerita orang lain, mertua menjadi salah satu pemicu keributan di rumah tangga, Tania dapat menyanggahnya karena justru dalam pernikahaanya mertuanya memiliki peran penting. Terutama adik iparnya yang selalu mencari sisi kebaikannya dan menunjukanya pada kakaknya. Sungguh aku adalah wanita paling bahagia jika kelak suami sudah dapat menerima ku, gumam Tania dalam hati.


"Mama kangen sama kamu Sayang!" ujar Liora yang semakin mengeratkan pelukanya pada Tania. Tania berasa kembali memiliki sosok seorang ibu penganti setelah Tifani yang sudah meninggalkanya untuk selamanya.


"Tania bahagia sekali Ma memiliki mertua sesayang ini ke Tania!" balas Tania. Lendra tersenyum melihat kedekatan Tania dan Liora padahal mereka saling mengenal belum beberapa lama hanya berhitungkan hari, tapi kedekatanya sudah tidak dapat diragukan. Tania benar benar sudah berhasil mencuri perhatian mamanya.


"Mama ngk rindu sama Lendra padahal Lendra lho anak Mama!" ucap Lendra dengan sendu dan memayunkan bibirnya dengan manja. Liora melepas pelukanya dari Tania.


"Sini anak sulung Mama, Mama peluk!"

__ADS_1


"Ternyata Mas Lendra adalah sosok yang manja!" gumam Tania tersenyum melihat tingkah kekanak kanakan Lendra yang baru pertama kali di lihatnya. Ia hanya mengetahui jika Lendra adalah lelaki tegas, cool dan sangat irit berbicara, ternyata di balik itu semua ada Lendra yang memiliki sisi lembut.


"Tania mau Mama peluk lagi!" ucap Liora kembali merentangkan tanganya selembar mungkin agar anak dan menantunya ini dapat masuk kedalam dekapanya.


"Tania berasa memiliki Ibu lagi Ma!" ucap Tania di tengah tengah pelukanya.


Sebenarnya beberapa detik sebelumnya Vania sudah tersadar, ia hanya ingin melihat respon lelaki ini jika melihat kondisinya seperti ini. Vania merasa iba pada Rafa yang menangis sesegukan, ia tega tega melihat dambaan hatinya bersedih seperti ini, tapi hatinya masih terlalu sakit melihat kelakuan asli Rafa di ruangan Nadya apalagi Nadya yang selalu bersikap baik padanya, ternyata di balik kebaikan itu ada kebusukan yang diperbuat Nadya pada kekasihnya.


Saat Rafa akan menolehkan pandanganya kewajah Vania, Vania menepis tangan Rafa dari pergelangan tanganya dengan kasar dan berpura-pura  mengalihkan pandanganya dari lelaki itu.


"Sayang ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku sayang sama kamu, tidak mungkin aku main belakang dengan Nadya!" ujar Rafa berusaha untuk kembali mengengam tangan Vania tapi berulang kali pula Vania menjauhkan tubuhnya dari Rafa.


"Aku sudah menyaksikanya dengan mata kepala ku, kalian berdua munafik!" ucap Vania.


"Kamu bisa bisanya berada di ruangan Nadya sedangkan aku kekasih mu ditunggu oleh orang lain yang tidak aku kenal dan bahkan aku melihat kalian sangat dekat. Semenjak ada Nadya hubungan kita jadi sering ribut!"


"Maafkan aku Van!" gumam Nadya yang ternyata diam diam ia mengikuti Rafa keruangan Vania dan ia bersembunyi di balik tembok pembatas ruangan Vania. Air mata Nadya bergulir begitu saja, rasa bersalah tentu saja ada, mau pun seperti apa pun ia menutupi perasaannya kearah tetap akan tercium oleh kekasih Rafa. Aku sungguhlah perusak hubungan orang, gumam Nadya.


"Aku janji aku keluar dari kehidupan kalian dan membiarkan Rafa berbahagia dengan pilihannya. Aku juga sadar jika Rafa sudah tidak memiliki perasaan apa pun ke aku! bisik Nadya yang kemudian kembali berjalan menuju ruanganya sebelum kehadirannya disadari oleh Rafa dan Vania yang akan semakin merusak hubungan keduanya.


"Aku sejak tadi menunggu kamu sadar!"


"Menunggu? Sejak tadi?" Vania tertawa rendah mendengar penuturan Rafa, Kekasihnya ini tampak sekali sedang berbohong padahal ia sendiri tidak memiliki bakat untuk itu. Vania keburu memotong ucapan Rafa yang belum selesai.

__ADS_1


"Pandai sekali kamu membalikan cerita!"


__ADS_2