
"Tania benar benar tidak sanggup dengan semua ini, Ma!" keluh Tania yang langsung memeluk tubuh Liora dengan erat dan melewatkan Naila yang berada diantara mereka. Liora dengan lembut mengelus kepala menantunya dan beberapa kali mengecup kening Tania untuk menenangkan gadis ini.
Naila ikut menitihkan air matanya. Andai saja ia yang berada di posisi kakak iparnya ia tidak akan sanggup dan sekuat Tania. Wanita yang dari kecil sudah kehilangan papa dan mamanya sekarang ia harus merasakan pahitnya pernikahaan karena di nikahi oleh lelaki sejahat kakaknya.
"Mama ikhlas jika kalian harus berpisah tapi, kamu harus bahagia ya sayang. Mama sudah anggap kamu seperti anak Mama jadi, andai kata kamu memang harus berpisah dengan Lendra, kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga ini. Kamu bukan lagi istri Lendra tapi kamu adalah kakak Naila!"
"Maafin Tania, Ma, Tania ngk bisa untuk melanjutkan pernikahaan ini!" ucap Tania lagi di sela sela isak tangisnya.
"Selamanya Kakak akan tetap menjadi kakak Naila!" ujar Naila yang kini menghampiri keduanya dan ikut serta dalam berpelukan.
Evandi, Rusdi dan Delino menatap tajam pada Lendra yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Terlebih Delino ia menatap anaknya penuh amarah. Ia tidak ingin meluapkan amarahnya di tempat ini yang ada akan menambah kesulitan untuk pemulihaan kesehatan lelaki ini. Ia memilih untuk keluar dari ruangan Lendra. Ia juga melihat anak, istri dan menantunya yang sedang berpelukan namun, ia mengabaikanya dan melewatinya begitu saja.
"Papa mau kemana Ma?" tanya Tania yang kini melepas pelukanya. Liora dan Naila ikut mengarahkan pandanganya sama dengan Tania dan melihat Delino yang berjalan dengan tampak sangat cepat. Naila ingin menghampiri papanya namun, tanganya langsung dicengkal oleh Liora dan ia segera mengelengkan kepalanya.
Naila mengerti dengan isarat yang diberikan mamanya. Liora sangat mengerti jika suaminya sedang dalam keadaan marah besar jika, sudah seperti ini suaminya tidak boleh di gangu jika, tidak ingin menerima amuk pria paruh baya itu.
Delino memasuki sebuah gedung bernuasa megah dan tingkatan lantai yang cukup tinggi. Kehadiranya langsung di sambut baik oleh dua pria yang berprofesi sebagai securtity di tempat ini dan tiga orang pria dengan mengunakan jas hitam dan kemeja putih serta di lapisi oleh dasi yang menambah ketampanan lelaki itu. Kelima lelaki itu mengarahkan Delino kesebuah tempat khusus.
__ADS_1
Di ruangan Vip Delino hanya di temani oleh dua lelaki berjas itu dan dua security itu kembali bekerja di tempatnya masing masing sedangkan satunya lagi diperintah olehnya untuk memanggil tamu yang sudah sengaja di undangnya untuk hadir kekantor yang sudah sejak lama di pimpin oleh Lendra. Delino sudah menghubunginya ketika ia sedang berada di dalam mobil menuju tempat ini.
"Tumben sekali Bapak turun langsung kekantor. Ada keperluan apa Pak?" tanya salah satu dari dua orang itu dengan sopan ketika ketiganya sudah duduk di atas sofa yang sudah di sediakan minuman oleh cleaning service perusahaan ini.
"Ada keperluan yang harus saya urus!" jawab Delino dengan wajah datarnya dan matanya yang mengarah pada layar ponselnya. Dengan kaki yang di pangku oleh kaki kananya.
"Bagaimana keadaan perusahaan selama saya tidak pernah berkunjung ketempat ini?" tanya Delino kakinya mulai turun kelantai dan ponselnya yang di letakan di atas meja dan ia menatap dua orang karyawanya dengan secara bergantian.
"Alhamdulilah Pak perusahaan mengalami kemajuan dan peningkatan yang cukup pesat. Konsumen selalu merasa puas atas pelayanan yang di berikan pada mereka!" jawab satunya lagi dan Delino hanya mengangguk. Delino sudah dapat menebak jika, anak sulungnya pasti bisa menangani semua permasalahaan perusahaan ini karena ia memang sangat menyukai dunia bisnis. Dalam hal ini Lendra tidak dapat di ragukan karena keahlianya yang luar biasa.
"Beberapa hari ini perusahaan di tangani oleh Pak Rusdi dan pak Evandi, Pak!" Delino hanya mengangguk. Wajar saja jika akhir akhir ini Lendra jarang berkunjung kekantor karena ia juga sedang disibukan oleh pernikahaanya.
"Maaf Pak ada yang bisa saya bantu?" tanya Kiara membungkukan sedikit tubuhnya dengan beberapa berkas yang di bawanya. Ia baru saja masuk kedalam kedalam ruangan ini.
"Silahkan duduk dahulu!" ucap Delino mempersilahkan sekertasi anaknya itu untuk duduk di sebelah salah satu karyawanya.
Tak perlu menunggu waktu yang lama orang yang di tunggu Delino akhirnya datang. Ia masuk bersama satu orang lelaki yang menjadi bawaganya yang bertugas untuk mengurus segala keperluanya termasuk membawakan tasnya kemana saja ia pergi.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya wanita yang bekerja sebagai notaris itu setelah mendudukan bokongnya di sofa yang masih kosong.
"Saya ingin semua perusahaan yang di pimpin oleh anak saya semuanya di pindahkan atas nama saya dan istri saya!" ucap Lendra dengan tegas. Semua mata terbelalak menatap pria yang memiliki wibawa yang sangat tinggi di tempat ini. Tidak pernah terjadi sebelumnya, Delino sangat mempercayakan harta yang di milikinya untukndi kelola oleh anaknya lalu, kenapa secapat ini, ia langsung berubah pikiran dan ingin mengambil yang sudah di alihkan pada anaknya.
"Bapak yakin ingin mengalihkan semuanya atas nama Bapak dan istri lalu, bagaimana dengan pak Lendra, apakah ia sudah mengetahui semua ini?"
"Lendra, anak saya dan perusahaan ini milik saya, selama ini Lendra hanya menjalankannya saja. Seratus persen segala sesuatu yang ada di tempat ini masih milik saya. Saya hanya ingin kalian mengerjakan apa yang saya perintahkan!" ucapnya lagi dengan tegas.
"Tapi memerlukan beberapa syarat dan berkas ysng harus penuhi Pak untuk mengerjakan tugas yang Bapak minta seperti tanda tangan pak Lendra!"
"Saya tidak mau tau kalian cari cara bagaimana caranya agar tugas itu dapat di selesaikan dengan baik, masalah tanda tangan atau data yang bersangkutan dengan kepribadian anak saya biar saya yang menyiapkannya langsung!"
"Baik Pak!" jawab Notaris itu dengan menundukan kepalanya.
"Pak Delino dengan pak Lendra ada masalah apa ya tidak biasanya beliau seperti ini, bahkan dahulu perusahaan ini hampir bangkrut karena ulah pak Lendra tapi, pak Delino tetap mempercayakannya pada putranya hingga pada akhirnya pak Lendra kembali membangkitkan perusahaan ini dengan kejayaaan yang lebih dari sebelumnya!" ucap lelaki salah satu lelaki berjas itu setelah Delino kekuar dari dalam ruangan berac ini.
"Mungkin ada masalah yang lebih besar dan belum pernah terjadi sebelumnya hingga pak Delino untuk mengambil keputusan seperti ini!" ujar Kiara sebagai sekretaris Lendra agar dua lelaki itu tidak terus membahas hal yang sudah menjadi keputusan atasan mereka.
__ADS_1