
"Bu, maafin saya karena saya kondisi Ibu jadi seperti ini!" ujar Vania yang langsung mencium punggung tangan Liora. Air matanya kembali menetes melihat sepasang suami istri ini terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Ini bukan karena kamu kok, Nak." balas Liora seraya mengelus rambut Vania dengan lembut.
"Seandainya saat itu saya tidak memberitau hal ini ke Ibu pasti sekarang Ibu dan Bapak tidak berada di tempat ini!" ucap Vania merasa tak enak hati pada orang tua Lendra.
"Kalau kamu tidak memberitau hal ini kepada Bapak dan Ibu pasti kami juga tidak akan mengetahui perbuatan buruk Lendra dan pasti Tania yang akan menanggung semua beban ini, malah Bapak dan ibu bersyukur banget kamu memberitau kami tapi, saran dari Ibu, sebaiknya jika berbicara pada orang yang lebih tua kamu juga harus bersikap lebih sopan ya!" ucap Liora dan Vania hanya tertunduk sekaligus mengangguk.
Karena tak ingin berlama lama di tepi jalan, Lendra dan Tania membawa Vania ke rumah sakit sekaligus menjenguk orang tua Lendra atas permintaan Vania juga yang katanya ingin meminta maaf atas ucapannya.
"Kak Vania sakit ya?" tanya Naila yang melihat pakaian yang di gunakan oleh Vania.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Delino pula.
"Vania ngkpp kok Om,"
"Panggil Bapak saja Nak, kamukan saudara Tania jadi, saya juga bisa kamu anggap seperti Bapak kamu sendiri!" ujar Delino.
"Kak Vania tinggal di rumah kita saja Kak biar aku dan Kak Tania ada kawan di rumah, pasti Kakak di rumah sendirikan," Vania hanya tersenyum mendengar ucapan adik Lendra ini karena yang di katakanya benar, bukan karena tidak ada yang peduli padanya tetapi karena ucapanya yang terlalu menyakitkan.
"Kamu tinggal di rumah Ibu dan Bapak saja, ada Naila juga sebagai teman mu nanti Tania dan Lendra berangkat untuk haneymoon biar kamu juga punya keponakan." Vania langsung mengarahkan pandanganya pada Tania.
"Tania beruntung banget punya mertua yang sangat banget sama dia, sekarang dia sudah punya keluarga baru yang bisa menerima dia dengan baik dan sekarang pasti dia jarang bisa ngeluangin waktunya buat gue sedangkan aku malah menyakiti orang yang sayang sama gue karena kata kata yang tidak berbobot yang keluar dari mulut ku!" gumam Vania.
"Ma, Kita haneymoon bisa lain kali saja ngk Ma, kasihan Vania dia masih dalam kondisi berduka dan pasti Vania butuh teman buat cerita Ma,"
"Ngkpp kok Tan, gue bisa sama Ibu dan Bapak saja, ada Naila juga yang bisa jadi teman aku, kamu bisa kok honeymoon sama Pak Lendra!" balas Vania tersenyum.
__ADS_1
Lendra dan Tania saling melemparkan pandangan satu sama lain, Tania merasa tidak enak pada Vania kalau harus meninggalkan sepupunya ini karena bagaimana pun sejak kecil ia sudah bersama Vania, terlebih tante Tifani yang selalu merawatnya dengan baik.
"Kenapa Vania harus menolak sih, kalau ginikan gue harus berangkat sama Tania, gue harus bilang apa ke Safania kalau begini!" gumam Lendra menghembuskan nafasnya gusar.
"Iya kan ada Naila yang nemani Kak Vania, Kakak ngk perlu khawatir, oh iya Kak Lendra nanti suruh Kak Rusdi ya main kerumah biar rame dan makin seru mainya, terus ada yang bantuin aku deh ngurus Mama dan Papa!" ucap Naila girang.
"Kak Evandi ngk di suruh sekalian?" tanya Lendra dengan tatapan yang sulit diartikan pada adik semata wayang itu dengan nada bicara yang sangat datar. Naila sangat mengerti jika Lendra sudah bicara seperti ini, pasti kakaknya sedang merasa kesal namun, tak dapat di ungkapnya.
"Kak Evandi mah sering sibuk, susah di ajak main terus beda banget sama Kak Rusdi tapi, kalau Kak Evandi mau dan ada waktu suruh saja sekalian main kerumah Kak."
"Evandi? Evandi itu siapa kamu Nai?" tanya Tania berusaha memberanikan diri diri untuk menanyakan perihal ini kepada keluarga Lendra, ia tidak ingin terlalu lama memendam pertanyaan yang menganjal fikiranya ini.
"Kak Evandi itu temanya Kak Lendra dan mereka berdua sudah seperti Kakak aku Kak, jadi Naila punya tiga kakak, kalau kak Lendra jahat sama Naila, Naila tinggal ngaduh ke kak Rusdi atau kak Evandi, mereka selalu membela aku dan memarahi kak Lendra, asyik tau Kak main bareng mereka, ngk kek kak Lendra kerjaannya marah mulu!"
"Naila!" ujar Lendra menatap adiknya itu dengan tajam, bisa bisanya adiknya menceritakan keburukanya pada istrinya di hadapannya dan Naila hanya cengegesan tidak jelas.
"Lain kali saja Pa!" singkat Lendra.
"Papa mau sekarang, Papa tidak ingin mendengar penolakan dari kalian!"
"Pa,"
"Lendra,"
"Tidak secepat itu Pa,"
"Papa ingin secepatnya mempunyai anak!"
__ADS_1
"Tidak hanya Papa, Mama juga mau cucu secepatnya,"
"Naila juga pengen punya keponakan,"
"Turuti aja deh Tan, gue juga sebagai sepupu lho juga pengen punya keponakan dari lho, secarakan gue masih lama,"
"Tapi Kakakan sudah punya sudah punya Kak Rafa yang sayang banget sama kakak, sedangkan Naila jangan jodoh nemu yang pas saja belum ada!"
"Apan sih Kak Lendra?" kesal Naila karena Lendra langsung menatapnya dengan tajam. Lendra termasuk seorang kakak yang positif kepada adiknya, ia tidak ingin jika Naila membahas seorang cowok pun di hadapanya karena ia tidak ingin Naila salah dalam memilih pasangan.
"Kamu ngk usah mikir yang aneh aneh dulu, fokus sama pendidikan kamu!"
"Kamu apa apaan sih Lendra, bisakanĀ ngejar pendidikan sekalian mencari pasangan," bela Liora yang juga tidak terlalu menyukai sifat Lendra yang seperti ini. Ia juga terkadang merasa kasihan pada Naila karena terlalu di kekang oleh kakaknya walau pun ia tau yang di lakukan Lendra ini juga demi kebaikan adiknya.
"Lendra kamu tidak bisa terlalu mengekang adik kamu seperti itu karena dia juga butuh jodoh," ucap Delino yang ikut membela Naila.
"Lendra tau Pa tapi, sekarang Naila harus fokus dulu sama pendidikan nanti juga kalau sudah waktunya bakal nikah juga kok."
"Naila ngk bakal nikah kalau ngk di cari Kak, emang sih jodoh datang dari Tuhan tapi kalau tidak di kejar juga ngk bakal datang, sama seperti rezeki, ngk bakal datang kalau ngk di jemput!"
"Naila usia kamu masih sangat kecil untuk memikirkan laki laki yang hanya menjadi beban fikiran mu saja nanti, kalau kamu sudah tamat kuliah baru kamu boleh mikirin cowok!"
"Kak, Naila juga pengen merasakan jatuh cinta,"
"Berarti kamu juga pengen dong untuk tersakiti?"
"Kakak ngk bakal ngerti!"
__ADS_1
"Kamu yang ngk ngerti!"