Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 57 - Pendonor untuk Liora.


__ADS_3

"Dokter!" panggil seorang wanita yang mengunakan pakaian kerjanya sebagai seorang Dokter. Dokter yang sudah memegang suntik dan siap menusukanya pada Lendra menghentikan kegiatan itu dan menoleh pada wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan ini.


"Iya Dok!"


"Pihak rumah sakit sudah mempunyai ginjal yang cocok itu pasien ibu Liora!"


Lendra yang mendengar gak itu segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri sejajar dengan Dokter perempuan itu dan kembali menurunkan lengan bajunya kebawah, akhirnya ia tidak jadi di suntik. Lega sudah hatinya.


"Dokter serius?" tanya Lendra menyakinkan.


"Iya Pak, Alhamdulilahnya, Ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Ibu Liora, tetapi beliau meninggalkan amplop yang berisikan surat untuk pasien dan katanya harus di sampaikan langsung ketika ibu Liora sudah sadar!" jelas sang Dokter.


"Apa suratnya masih di pegang oleh Dokter?"


"Iya Pak, dan untuk menjaga amanah beliau, saya ingin menyampaikan surat ini secara langsung kepada pasien!"


"Baiklah Dok, jika itu yang terbaik, lakukan pengobatan yang terbaik untuk Mama saya, berapa pun biayanya akan saya bayar asal Mama saya sembuh dan kembali pulih kesedia kala!"


"Oh iya Pak sekedar memberitau jika pasien atas nama Delino sudah sadar dan sudah boleh untuk di jenguk!" ucap Dokter itu lagi.


"Baik Dok, Terima kasih!" balas Lendra yang langsung meninggalkan ruangan ini dengan tangan yang menarik pergelangan tangan Tania.


"Papa!" ucap Lendra yang kini sudah!" berada di dalam ruangan Delino yang di dalam sudah terdapat Naila, Rusdi dan Evandi yang sudah masuk lebih dulu dan Lendra segera berdiri di sebelah adiknya itu. Lendra langsung mencium punggung tangan Delino dan memeluk tubuh lelaki itu dengan haru, setelah lama menunggu akhirnya papanya tersadar dari pingsanya yang cukup lama.


"Papa kecewa sama kamu Lendra, tapi alhamdulilah sekarang Papa senang melihat kamu seperti ini!" ucap Delino yang ternyata ia memperhatikan tangan Lendra yang masih mengengam tangan Tania. Naila, Rusdi dan Evandi yang bingung dengan maksud Delino ikut mengarahkan pandanganya pada penglihatan lelaki paruh baya itu.

__ADS_1


Naila tersenyum melihat hal itu, ia menyadari hal yang sama dengan Delino, perlahan kakaknya mulai memberi ruang untuk Tania, walau hanya hal kecil dan Naila yakin dengan ketulusan dan kebaikan yang di miliki Tania, lambat laun kakaknya itu dapat membuka hati untuk Tania dan segera menyadari jika Safania bukanlah wanita baik yang pantas untuknya.


Lendra yang juga menyadari hal itu dan mengerti dengan arti tatapan orang orang yang ada di sekitarnya, ia segera melepas tangan Tania dari gengamanya dan hanya dapat tertunduk malu. Sedangkan Tania sebenarnya merasa sangat bahagia ia sudah mendapat perlakuan baik dari Lendra walau hanya sebentar dan ia sangat berharap jika Lendra akan memperlakukan ia seperti ini terus.


"Maaf!" lirih Lendra pelan namun, masih dapat di dengar oleh Tania dan Tania hanya dapat mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Kenapa harus minta maaf sih, kan Tania istri kamu, jadi hal wajar jika kamu mengengam tangan dia!" goda Delino membuat Lendra semakin malu atas perbuatanya.


"Akhhhhh, apa sih yang gue lakuin tadi, ngapain lagi gue megangin tangan dia, bisa baper dia, dan ingat Lendra, loh ngk boleh jatuh cinta kepada siapa pun kecuali Safania, hanya Safania yang boleh mendapat cinta kamu!" gumam Lendra pada dirinya sendiri.


"Mas kalau mau megang tangan aku terus ngkpp kok!" ucap Tania malu malu.


"Apaan sih, gue juga ngk sengaja tadi, jangan kebaperan deh!" tungkas Lendra yang langsung berlalu meninggalkan ruangan Delino.


Senyum yang tadinya mengembang, kini perlahan menghilang dari wajahnya. Tania merasa kecewa pada dirinya. Ia sudah sempat berfikir aneh tentang Lendra, padahal tidak mungkin Lendra dengan mudah bisa menerimanya sedangkan Safania masih ada di dalam hati Lendra, tidak mungkin Lendra dapat menerimanya.


"Kok aku ngerasa kasihan ya sama gadis ini!" gumam Evandi yang ikut merasa iba dengan raut wajah Tania yang tampak lusuh dan tak bergairah. Ia mulai merasa jika ia pernah dekat dengan gadis ini, namun kapan dan di mana, Evandi masih belum yakin dengan dirinya, mungkin saja ia hanya salah mengenali dan wajar saja jika ia mengenal Tania karena Tania adalah


istri Lendra yang katanya sahabatnya, jadi wajar jika ia memang sudah mengenal Tania.


"Cepat atau lambat Kak Lendra pasti menyadari perbuatannya Kak!" ucap Naila tersenyum.


Lendra melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit dan ia hanya memesan kopi hangat dan kue kecil yang menjadi cemilanya. Ia juga mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya untuk menghubungi Safania yang tidak terlihat olehku, atau mungkin kekasihnya ini sedang marah padanya karena ia tidak mendengarkan ucapan dan larangan Safania.


"Sayang kamu di mana?" tanya Lendra saat sambungan udaranya sudah terhubung dengan Safania.

__ADS_1


"Aku sudah di parkiran rumah sakit mau pulang!" ketus Safania.


"Kamu temani aku ya, Aku kesepian tau!"


"Apa nemenin kamu? Kamu saja ngk mau dengerin omongan aku, Aku malas, aku mau pulang!"


"Sayang aku sudah ngk jadi buat donori ginjal aku buat Mama, kamu temenin aku ya, aku bete tau, aku capek masak kamu ngk ada di saat aku seperti ini!" ucap Lendra dengan manja.


"Kamu di mana?" tanya Safania yang tidak tega dengan Lendra yang sudah berbicara dengan nada lemah.


"Aku di kantin rumah sakit!"


"Yasudah aku bakal kesana, tapi ngk ada adik kamu itukan?"


"Naila? Ngk ada Yang! Emang kenapa kalau ada Naila?"


"Ngkpp, aku kesal saja sama dia!"


"Jangan itulah, bagaimana pun Naila, adik ipar kamu dan kamu harus bisa beradaptasi dengan Naila, Naila baik kok, cuma agak judes aja!"


"Tapi dia selalu mihak keistimewaan pertama kamu!"


"Makanya kamu harus bisa mendekatkan diri dengan Naila, Aku yakin kok kalau kamu baik Naila bisa baik juga ke kamu!"


"Oh, jadi kamu mikirnya aku yang ngk bisa dekat dengan adik kamu dan aku jahat gitu?"

__ADS_1


"Iya ngk gitu, cuma kamu harus bisa mendekatkan diri dengan Naila, memang sih agak susah tapi nanti kalau kamu sudah berhasil ambil hati Naila, kamu yang bakal Naila cariin!"


Safania menghembuskan nafasnya gusar, ia semakin kesal pada Lendra karena lelaki ini selalu punya cara untuk membenarkan Naila. Ternyata ucapan Rusdi tadi semuanya benar, Lendra sangat menyayangi adiknya, mau tidak mau Safania juga harus mengambil perhatian Naila, jika ia ingin mempertahankan rumah tangganya dan melanjutkan tujuanya menikah dengan Lendra.


__ADS_2