
Arhan pulang kerumahnya dengan wajah lesunya dan ia melihat papanya yang sedang membaca koran di atas meja di temani secangkir kopi yang semakin menambah kenikmatan lelaki paruh baya itu.
Sendro menatap anaknya itu. Tumben anaknya ini pulang dengan wajah lemas seperti itu. Ia tau betul jika putra tunggalnya ini sedang memiliki masalah tapi, ia terlalu gengsi untuk menanyakan hal itu pada Arhan apalagi ia masih merasa kesal pada lelaki karena telah menolak permintaan darinya.
Tanpa basa basi dan menyapa Sendro. Arhan melewati ruang utama rumahnya dan segera masuk kedalam kamarnya. Ia langsung menghampiri foto seorang wanita yang terpajang di didinding kamarnya dan ia segera mengambil foto itu dari tempatnya dan membawanya kekasurnya. Ia juga mengambil foto seorang wanita yang juga berdiri diatas meja yang berada didekat ranjangnya.
Ia memeluk kedua foto itu dengan air mata yang mengalir diwajahnya. Dua foto yang memiliki wajah yang sama. Dipeluknya foto itu dengan erat dan dicium di ciumnya berulang kali.
"Ma, Arhan kangen!" ujarnya.
Mata lelaki mulai menyepit, di rebahkanya tubuhnya diatas kasur dan ia akhirnya ia tertidur dengan tangan yang masih memeluk benda itu.
Melihat raut wajah anaknya yang tidak seperti biasa sebagai seorang ayah, Delino tentu merasa khawatir pada putra tunggalnya itu. Ia segera menghampiri Arhan kekamarnya dan di lihatnya Arhan yang tengah tertidur pulas dari balik pintu kamar pemuda ini, segera disamperinya anaknya itu namun, alangkah memuncaknya amarahnya saat melihat benda yang dibawa tidur oleh Arhan.
Diambilnya secara paksa benda itu oleh Sendro dan di bantingnya dengan keras kelantai hingga serpihan kaca itu berserakan kemana mana. Arhan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut yang di ciptakan oleh papanya. Hal pertama yang di lihatnya adalah gambar mamanya yang sudah terbelah dua dan bingkai fotonya yang sudah tidak utuh, langsung ditatapnya secara tajam papahnya.
__ADS_1
"Papa tega ya," ujar Arhan penuh penekanan dan tanganya yang sudah mengepal. Jika saja pria ini bukan orang tuanya mungkin saja ia tidak akan menahan amarahnya dan langsung meluapkan dan menghabisi Sendro yang telah merusak benda berharga miliknya.
"Kenapa? Kamu marah? Silahkan!" ujar Sendro tampa merasa bersalah sedikit pun.
"Arhan tau Pa, Papa benci sama mama tapi, tolong banget jangan libatkan Arhan dalam kebencian Papa ke mama. Arhan tidak tau apa apa yang Arhan tau Papa dan mama adalah orang tua Arhan, seburuk apa pun kalian, kalian tetap orang tua Arhan tampa membeda bedakanya."
"Setelah apa yang dilakuin mama kamu dan kamu masih bisa menganggap dia sebagai mama kamu, Dimana pikiran kamu Arhan?, Apa kamu tidak merasa sakit hati atas perbuatan dia? Dia tidak hanya menelantarkan papa mu ini saja tapi, dia juga telah menelantarkan kamu, anaknya atau mungkin saja dia sekarang sudah memiliki anak selain kamu dan kamu lihatlah sampai detik ini juga dia tidak pernah menjenguk mu atau sekedar menanyakan perihal kabar mu tidak pernah dilakukanya." murka Sendro.
"Seburuk apa pun mama, dia tetap mama ku bahkan sampai aku mati pun dia tetap mama ku dan tidak akan pernah ada lagi kebencian di hati ku pada wanita yang sudah melahirkan ku dan perlu Papa ketahui juga jika bukan karena beliau aku tidak akan pernah ada di muka bumi ini dan aku juga tidak akan mengenal Papa, jika bukan karena dia yang mengandung aku selama sembilan bulan." ujar Arhan tegas.
"Ini alasan Papa melarang kamu berhubungan dengan gadis jalanan itu. Lihatlah sejak kamu sering bergaul dengan dia sifat kamu ke Papa kamu berubah drastis, berbalik banding 180 derajat kamu berputar dari pemikiran Papa padahal dulu kita selalu memiliki pemikiran yang sama, tapi sejak sama dia pikiran kamu selalu dibawah pengaruhnya, kamu sering membantah Papa bahkan kamu tidak mau menuruti keinginan Papa lagi."
"Bersyukur kata mu? Lihatlah mama kamu meninggalkan Papa mu ini karena apa? Karena Papa tidak memiliki apa apa dan dia lebih memilih lelaki yang lebih kaya dari Papa yang menjamin hidup dia lebih baik,"
"Pa!"
__ADS_1
"Arhan,"
"Pa .."
"Kamu belum paham tentang kehidupan Arhan, suatu saat nanti kamu akan mengerti maksud Papa dan kamu akan mengerti dengan posisi Papa kalau kamu sudah merasakan apa yang Papa rasakan. Bagaimana ditinggalkan oleh wanita yang sangat Papa cintai hanya perihal harta," ujar Sendro dengan sendu. Tanganya yang tadi mengepal kini mulai terbuka. Kepalanya yang tegak kini menunduk seketika.
"Pa, Arhan minta maaf sudah buat Papa sedih tapi, Arhan juga tidak ingin Papa terlalu membenci mama. Kita sudahi kebencian kita agar tidak ada lagi dendam diantara kita biarkan mama bahagia dengan pilihannya." ujar Arhan seraya mengusap kedua bahu Sendro dengan lembut.
Sebenarnya tidak ada niatan Sendro untuk memarahi Arhan tapi, karena melihat foto mantan istrinya seketika emosinya memuncak apalagi Arhan yang selalu membelanya. Ia masih merasakan sakit yang amat besar jika mengingat hal yang sudah wanita itu perbuat padanya.
"Arhan jika kelak kamu menikah carilah wanita yang benar benar mencintai kamu, jangan pernah tunjukan harta yang kamu punya padanya, bersikaplah seolah olah kamu adalah orang miskin jika, ia masih mau bertahan, pertahankan dia!" ucap Sendro dengan tatapan kosongnya kearah depan dan Arhan hanya mengangguk mengiyakan nasehat papanya.
"Papa tidak akan menjodohkan kamu biar kamu yang menentukan pilihan kamu tapi, Papa hanya meminta jangan pernah cari wanita seperti Ibu kamu yang meninggalkan Papa disaat Papa terjatuh!" Arhan lagi lagi menangguk. Ia tidak dapat terus menyalah Sendro yang membenci mamanya karena apa yang dikatakan pria ini memang betul dan sudah menjadi pengalamannya jadi, wajar saja dia berkata demikian.
Sendro sebenarnya sangat menyayangi Arhan namun, ia sering kali gagal dalam menyikapi pria yang usianya yang lebih muda darinya ini. Ia kurang memahami sifat dan keinginan Arhan tapi, jangan tanya rasa sayangnya bahkan ia lebih sayang pada anaknya dari pada dirinya sendiri, terlebih ia merawat dan membesarkan Arhan seorang diri tampa seorang wanita yang menemaninya.
__ADS_1
"Maafkan Arhan, Pa. Arhan sering membengkang ucapan Papa. Arhan hanya tidak ingin Papa larut dalam kebencian Papa tapi, tahukah Papa sebenarnya Arhan lebih menyayangi Papa dari pada mama. Arhan hanya tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena membenci wanita yang sudah melahirkan Arhan, Pa!" gumam Arhan.
"Ya sudah kamu lanjut tidur saja, Papa mau keluar dan satu lagi jangan lupa bersihkan terlebih dulu pecahan kaca ini nanti takutnya kekaki kamu," Arhan menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya. Rasa kesal memang ada, Sendro yang membuat semuanya berantakan dan sekarang harus ia yang merapikan semuanya padahal ia masih merasa mengantuk berat tapi, apalah daya ia sebagai anak yang tidak boleh melawan pada orang tua.