
"Naila, Mama dan Papa kenapa?" tanya Lendra menghampiri adiknya yang sudah berdiri di hadapanya dan Naila memilih untuk diam serta tidak menjawab pertanyaan Lendra.
"Kamu dari mana saja, kenapa ngk nunggui mama dan papa?" tanya Lendra lagi. Sepertinya Naila sudah tidak dapat diam, ia semakin di buat kesal saat menolehkan pandanganya kearah belakang dan melihat tangan Safania yang terus saja melingkar di pergelangan tangan Lendra.
"Aku yang harusnya nanya, Kaka kemana saja? Kemana baru muncul?" tanya Naila dengan tegas.
"Kakak tadi!" Lendra menghentikan kalimat yang akan keluar dari mulutnya saat menyadari jika Safania sedang berada di sebelahnya, ia mengerti mengapa adiknya ini semakin marah padanya dan ia segera melepas gengaman tangan Safania darinya.
"Kakak tanya Mama kenapa?" ucap Lendra yang kini sudah ikut marah dan mulai mengeluarkan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Jangan tanya kenapa Kak, semua ini terjadi karena Kakak!" ucap Naila melirik pada Safania.
"Kenapa karena Kakak?"
"Kakak masih ngk sadar dengan ulah Kakak, Mama dan Papa penyakitnya kambuh lagi sakit setelah mengetahui semuanya!" ucap Naila menatap tajam pada Safania.
"Mengetahui apa maksud kamu?" tanya Lendra dengan suara mulai meredah karena bagaimana pun ia tidak boleh menyakiti hati adiknya, apalagi Naila merupakan salah satu kumpulan gadis cenggeng dan manja yang ada di dunia.
"Setelah mengetahui Kak Tania kabur dari pernikahaanya dan Kakak malah memilih untuk menikahi wanita ini!" ucap Naila yang kini jari telunjuknya sudah mengarah pada Safania.
"Apa maksud mu?" ucap Safania yang ikut bicara dan tidak terima dengan kalimat yang di lontarkan oleh adik Lendra itu, ia meremas jari Naila yang berada tepat di hadapan wajahnya.
Lendra melepaskan jari Naila yang di pegang oleh Safania, ia sudah tidak dapat berkata apa pun lagi karena apa yang di ucapkan oleh Naila benar.
"Kalau ngomong hati hati ya!" ucap Safania dengan tangan siap menampar Naila, namun, Lendra kembali menurunkan tangan Safania yang akan melukai adiknya yang sudah tertunduk takut dengan tangan Safania akan melayang di wajah mulusnya.
"Jangan pernah bersikap kasar pada adik ku!" ucap Lendra dingin.
Safania sedikit merasa kesal pada Lendra, ia tidak sedikit pun melakukan pembelaan padanya. Apa dia tidak mikir jika ucapan adiknya itu juga melukai hatinya. Safania hanya dapat menatap Naila dengan sinis.
"Ini pasti Rusdi yang memberitahu mama dan papa!" gumam Lendra geram dan tangan mulai mengepal.
"Mama!" lirih Vania. Narsi mendekatkan tubuhnya dengan gadis itu, kemudian membawa Vania kembali kedalam dekapanya agar wanita itu sedikit tenang.
"Mama, Bi!" ujar Vania yang sudah terisak dalam pelukan Narsi dan tangis yang kini membasahi wajah gadis itu.
__ADS_1
"Non yang sabar!" Narsi.
"Vania sudah ngk punya siapa siapa Bi, selain Tania, Tania juga sekarang lagi di culik, Sekarang Vania bisa apa?, Vania ngk bisa hidup sendiri, Vania mau ikut mama!"
"Kan masih ada Den Rafa yang sayang banget sama Non, ada Bibi juga, jadi Non ngk perlu sedih!"
Rusdi hanya memandang dua wanita yang sedang bersedih di hadapanya.
Naila yang sudah sudah duduk di atas kursi, terus memandang wajah Safania tak kalah sinis, mau tidak mau, suka tidak suka, wanita yang ada di hadapanya kini sudah menjadi kakak iparnya. Apa yang kakaknya ini pikirkan hingga rela melukai hati seseorang yang menerimanya dengan tulus dan menerima wanita seperti ini.
"Anak ini bener bener membuat ku kesal!" geram Safania membatin.
"Rusdi, dia benar benar tega memberitaukan semua hal ini ke mama sampai mama dan papa harus di rawat seperti ini!" ucap Lendra dalam hati.
Naila bangkit dari kursi yang di dudukinya, matanya mengarah pada Dokter yang kini hendak menghampiri mereka bersama dua orang Suster di belakangnya.
"Bagaimana keadaan orang tua saya Dok?" Lendra.
"Alhamdulilah untung saja keduanya segera di larikan kerumah sakit dan langsung mendapat perawatan yang intensif, keduanya sudah membaik, tetapi mama anda harus segera mendapat donor darah!" jelas sang Dokter.
"Mohon maaf Pak, persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah Bapak kami sedang kosong, sebaik Bapak carikan pendonor yang siap memberikan darahnya pada Ibu Anda!" Dokter.
"Kak Tania!" ujar Naila menatap wajah Lendra.
"Tania?" ulang Lendra.
"Aku bersedia kok donori darah aku buat mama!" Safania.
"Kalau kamu memang bersedia, silahkan lakukan tes darah, di ruangan sebelah, setelahnya nanti akan kita tindakan lanjuti untuk kesembuhan pasien!"
Lendra menatap Safania tidak percaya, ternyata ia tidak salah dalam mencintai seseorang, wanita yang di cintainya adalah wanita baik yang rela berjuang untuk kesembuhan ibunya.
"Dok, Pasien sudah boleh di jenguk?" Naila.
"Sudah, tapi tetap utamakan keheningan ruangan!"
__ADS_1
"Baik Dok!" ujar Naila yang langsung memasuki ruangan orang tuanya di rawat.
"Sayang, kamu yakin mau donori darah kamu buat mama?" tanya Lendra yang kinu sudah berdiri di hadapan wanita itu dan sudah mengenggam kedua tangan Safania.
"Sudah Sayang, orang tua kamukan orang tua kau juga!" balas Safania tersenyum.
"Makasih ya Sayang, Aku janji aku akan selalu buat kamu bahagia!" ucap Lendra dengan mengecup punggung tangan Safania yang di gengamnya secara bergantian.
"Aku percaya kok sama kamu!"
"Ma, Mama sudah sadar?" tanya Naila yang kini sudah berada di samping ranjang Liora. Liora hanya membalasnya dengan senyum tipis di bibirnya. Ia memutarkan pandanganya dan melihat suaminya yang masih terpejam di ranjangnya.
"Papa gimana keadaaanya Sayang?" tanya Liora.
"Kata Dokter, Mama dan papa sudah membaik kok, cuma Mama butuh donor darah!"
"Tania gimana? Sudah ketemu?"
"Ma, Mama fokus sama kesehataan Mama ya, nanti kalau Mama sudah sembuh baru kita cari kak Tania!"
"Kak Lendra mana Sayang?"
"Kak Lendra ada di depan Ma!"
"Kamu panggili kakak kamu ya!"
Sesuai perintah mamanya, Naila segera keluar dari ruangan Liora dan menemui Lendra yang masih bersama Safania di ruang tunggu. Lendra dan Safania masih saling tatap bahkan kini Lendra sedang memeluk tubuh Safania. Dengan posisi wajah Safania mengarah padanya, Naila semakin di buat ilfil oleh pemandangan di depanya.
"Kak!" Lendra melepaskan pelukanya dan segera mengarahkan pandanganya pada Naila dan Safania menatap adik iparnya dengan tatapan tak suka karena ia sudah merusakan adegan romantisnya.
"Kakak di panggil Mama!" ujar Naila.
"Kakak temui Mama sendiri saja, nanti mama syok lagi lihat Kakak sama wanita ini!" ucap Naila saat menatap tangan kanan Lendra yang mulai mengenggam tangan Safania.
"Kakak juga harus kenali Safania kemama karena bagaimana pun Safania adalah kakak ipar kamu dan dia juga menantu mama, sama seperti Tania!" jelas Lendra yang semakin mengeratkan gengaman tanganya.
__ADS_1