
Naila memandangi wajah kakaknya yang tampak termenung. Wajah Lendra terlihat sangat lesu, ia mengerti dengan perasaan Lendra saat ini tapi, ia juga tidak munafik, ia senang dengan kepergian Safania yang kini sudah meninggalkan keluarganya dan kini hanya tinggal menunggu peeceraian Lendra dengan wanita beng*s itu. Satu sisi lain, ia juga merasa iba dengan Lendra sekarang, saat sedang butuh suprots sisten seperti sekarang, wanita yang sangat di cintainya kini meninggalkanya. Naila hanya berharap jika hati kakak ipar pertamanya akan luluh dan mengagalkan niatnya untuk berpisah dengan kakaknya.
"Kak!" panggil Naila yang langsung memluk tubuh Lendra dengan erat dan ia juga tidak dapat membendung air matanya. Tetesan air bening itu tiba tiba saja membasahi wajah mulusnya. Tak mampu menjadi sosok lelaki yangblebuh kuat lagi. Lendra jyga menumpahkan tangisanya di bahu adiknya. Kini ia benar benar kehilangan Safania. Bagaimana pun usahanya untuk membujuk wanita itu, Safania akan tetap menolaknya, jika ia tidak memiliki apa apa karena yang ia tahu, Safania adalah gadis yang sangat memandang seseorang dari finansialnya.
Lendra memandangi wajah adiknya dengan sangat tulus. Dirapatoanya wajahnya dengan pipi berwarna putih milik adiknya dan di kecupnya berulang kali, sebagaimana yang biasa di lakukanya pada Safania. Hingga akhirnya di sandarkanya kepalanya di bahu gadis kecil yang ada di dekatnya.
"Nai, jika kelak kami menemukan lelaki yang kurang mampu dari segi materi tapi, dia tulus sama kami, jangan kamu tinggalin ya Dek, sekarang Kakak tengah merasakan itu dan Kakak ngk mau ada lelaki yang merasakan hal sama dengan Kakak karena ulah adek, Kakak dan kamu juga harus tau sesulit apa pun lelaki itu, jika dia mencintai maka, ia akan rela melakukan apa pun demi kamu, jangan lakukan hal yang dengan Safania atau kamu akan menyesal kelak!" Naila hanya mengangguk paham dengan nasehat panjang yang di lontarkan kakaknya.
Seketika ingat Naila mengarah pada Rusdi, entah mengapa tiba tiba saja, ja teringat pada pria itu saat Lendra bercerita hal itu. Pikiranya tidak tenang memikirkan pria itu. Naila tetap menepis pikiran buruk yang tergiang di kepalanya. Rusdi bukan miliknya dan ia berusaha untuk menyakini jika, saat ini sahabat kakaknya itu sedang baik baik saja.
"Nai, kamu kenapa Dek?" tanya Lendra yang menyadari adiknya sedang memikirkan sesuatu. Naila segera tersedak dari dunianya, ia kembali menatap Lendra dengan seksama dan kemudian tersenyum manis pada saudara lelakinya dan mengatakan jika ia sedang baik baik saja. Lendra kembali memeluknya dengan erat, setidaknya ia masih memiliki wanita tulus yang menemaninya dalam keadaan seperti ini.
"Tuhan apa pun rencana mu saat ini, aku ikut tapi, tolong kuatkan aku dan jangan hancurkan aku dengan keluarga ku dan ku mohon jangan pisahkan aku dengan adik ku, berikan dia kekasih yang menyayanginya agar dia tidak merasakan apa yang ku alami saat ini dan jangan biarkan dia salah dalam memilih lelaki. Dia terlalu lemah jika menemukan pria be*at seperti ku. Jika benar karma seorang anak lelaki jatuh pada ibu, saudara dan anak perempuanya kelak maka, hamba mohon jangan biarkan mereka merasakan pahitnya perbuatan hamba, biarkan hamba yang menanggung semua karma atas apa yang telah hamba perbuat. Mereka sudah mengingatkan hamba, hanya saja hamba ini terlalu keras dan tidak mengubris apa pun yang telah mereka katakan!" gumam Lendra yang mulai memajamkan matanya secara perlahan di pundak Naila dan dengan tulus, gadis kecil itu mengelus rambut Lendra penuh kasih sayang.
__ADS_1
Lendra kembali membuka matanya dan bangkit dari posisinya sedangkan Naila memutarkan kepalanya menatap kearah daun pintu dan melihat kehadiraan sosok wanita yang sudah menjadi kakaknya dengan cepat, Naila segera berlari kearahnya dan memeluk Tania penuh kegirangaan dan Tania juga menyambutnya tak kalah bahagia. Entah mengapa seuntai senyum tipis terbit di bibir Lendra melihat keharmonisaan adiknya dengan istrinya, mereka sangat dekat layak adik dan kakak yang memiliki ikatan darah namun, anehnya sampai saat ini Lendra belum dapat memberikan hatinya pada wanita yang menerima segala kekuranganya. Entah belum memiliki rasa atau dia yang kura peka terhadap perasaanya.
Setelah berpelukan cukup lama, Tania segera menghampiri suaminya dan duduk di kursi yang berada di sebelah Lendra
"Mas!" sapa Tania tersenyum. Jantung Lendra berdetak tak menentu, detakanya lebih cepat dari sebelummya saat Tania mengengam tanganya. Tania juga menyingkirkan rambut yang mengenai bagian mata Lendra. Pandangan Lendra benar benar tidak lepas dari wajah Tania. Ia melihat wajah Tania terlihat begitu cerah dan kenapa ia baru menyadarinya. Tanganya seakan bergerak sendiri hingga menyentuh dagu Tania dengan lembut dan ia mengusapnya namun, Tania segera menyingkirkanya.
"Ini aku bawain roti buat kamu!" ujar Tania mulai mengeluarkan roti yang di belinya sewaktu perjalanan menuju rumah sakit. Berbagai macam bentuk roti di bawanya dan juga memiliki banyak varian rasa, coklat adalah rasa yang paling banyak di belinya. Naila yang melihat kakak iparnya mengeluarkan makanan, ia kembali berlari menuju ranjang Lendra dan mengambil satu roti coklat dengan bentuk yang unik yang sudah di keluarkan Tania dari kantong plastik. Tania hanya menarik nafasnya pelan melihat kelakuan adik iparnya dan Naila hanya cengegesan tidak jelas.
"Aku tidak tau kamu suka rasa apa Mas tapi, aku sudah beliin roti rasa coklat, vanila, stroberi dan ini juga masih banyak varian lainya, kamu tinggal polih saja mana yang kamu mau. Aku harap diantara roti roti ini ada rasa yang kamu suka!" ucap Tania.
"Aku tidak lapar, kamu antar saja kekamar mama dan papa, mereka pasti juga kelaparan!" ujar Lendra yang kini mengalihkan pandanganga dari wajah Tania.
"Untuk Mama dan Papa sudah aku sisihkan dan aku suxah titip sama Suster, tadi kata perawat, mereka sudah istirahat dan sedang tidak dapat di gangu dan yang aku dapat informasi dari mereka, mama sudah membaik dan katanya Naila meminta pihak rumah sakit untuk menyatukan ruangan mereka!" ucap Tania yang kini matanya menatap Naila yang sedang sibuk mengunyah.
__ADS_1
"Nai!" Lendra.
"Iya Kak!"
"Kamu mau rasa apa Mas?" nada bicara Tania sejak tadi terdengar sangat datar, ia tau betul pasti wanita ini sedang marah padanya dan ia memilih menutupinya. Tidak seperti biasanya Tania bersikap seperti ini.
"Kamu kenapa Tan?" tanya Lendra memberanikan diri.
"Aku tidak apa apa Mas!"
"Aku melihat ada yang berbeda dari kamu!"
"Tidak ada yang berbeda dari aku, Mas, semua masih sama!"
__ADS_1