
"Aku mengenal mu pria muda," gumam Aleta yang memandang wajah Lendra yang sudah tertidur dengan pulas di ranjangnya. Ia memperhatikan bagian dada bidang Lendra yang tampak seksi dan sedikit berbulu.
"Astaga mengoda sekali tubuh mu!" ucap Aleta lagi seraya mengelus bagian wajah Lendra dan sesekali menciumnya.
"Kamu akan menjadi milik ku seutuhnya!" gumam wanita itu yang meletakan kepalanya di bagian dada Lendra.
Wanita ini memanfaatkan Lendra dengan menyentuh tubuh lelaki ini sebelum, bertemu dengan Lendra, ia sudah sering melihat dan mendengar sosok pria ini dari orang lain mau pun dari media sosial. Ia tidak terlalu tergiur dengan wajah tampan Lendra. Ia hanya tertarik dengan harta yang di miliki lelaki itu.
Dengan memanfaatkan keadaan yang ada. Ia mulai memanfaatkan tubuh Lendra sebagai pancingannya. Jika ia berhasil maka ia akan mendapat peluang yang besar dalam mengubah perekonomian keluarganya yang sulit.
"Kamu milik ku!" gumam Aleta lagi yang hendak mencium bagian bib*r dan mengelus pa*a lelaki itu. Untungnya dengan cepat Lendra tersadar dan langsung menghempas tubuh wanita itu hingga terjatuh kelantai.
Lendra membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadaraannya. Matanya mulai menerawang sekitarnya namun, ingatan sedikit sulit untuk di pulihkan. Kepalanya masih terasa sangat sakit mungkin karena pengaruh obat obatan yang di berikan Zanuar di minumanya tapi, matanya masih dapat melihat dengan jelas keberadaan wanita yang tidak di kenalnya itu.
"Kamu mendorong ku?" teriak Aleta tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Bokongnya terasa sakit akibat benturan dari lantai. Bagaimana bisa ia mendapat perlakuan tidak enak seperti ini. Biasanya ia selalu mendapat ruangan yang paling bagus dan lelaki yang siap membayar mahal dari pada wanita yang ada di dalam club ini karena ia memiliki tubuh yang lebih dari teman teman yang memiliki pekerjaan yang sama denganya.
Tidak kali ini, Lendra justru memperlakukan Aleta tidak seperti lelaki pada umumnya. Ia tidak tergoda sedikit pun dengan body seksi yang di miliki wanita itu. Mungkin saja ia baru terbangun dan belum dapat melihat dengan jelas tubuhku, pikir Aleta. Ia segera bangkit dan kembali mendekati Lendra yang masih memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa tuan muda?" tanya Aleta dengan nada mende*ahnya dengan memenangkan bila mata Lendra dengan genit. Bukanya tergoda Lendra justru merasa jij*k pada wanita yang duduk di sebelahnya.
"Aku dimana?" tanya Lendra membuka matanya secara sempurna dan menjauhkan tubuhnya dari Aleta tapi, wanita ini malah semakin mendekat denganya dan dengan lancangnya pula ia mengelus wajah Lendra dan hal itu juga langsung di tepi oleh Lendra.
"Jangan sentuh aku seperti ini!" ucap Lendra. Ia segera bangkit dari kasur dan melangkahkan kakinya meninggalkan Aleta yang masih duduk di atas ranjang.
Tania yang baru saja selesai membersihkan serpihan kaca dan belum membuang kaca kaca itu. Ia mendengar deringan telpon tapi, suara telpon itu bukan dari handphonenya. Benar saja ia melihat hp suaminya yang tergelatak dia atas meja ruas. Lendra lupa membawa ponselnya.
Tania melihat nama yang tertera diatas layar ponselnya dan ia segera menutup kembali handphone Lendra dan tidak berminat sedikit pun untuk menerima atau pun menolak telpon dari seseorang yang menelpon suaminya malam malam seperti ini. Jika ia mengangkatnya pasti ia akan merasakan sakit hati yang mendalam karena yang menghubungi Lendra adalah Safania, istri kedua suaminya yang memiliki hal yang sama dengannya.
Tania segera keluar kamar, ia membawa kantong plastik yang berisikan serpihan kaca kaca itu dan membuangnya ketempat yang aman agar tidak terkena orang lain. Tania juga berlari menuju kamarnya karena ia mendengar suara deringan handphone dan ia dapat memastikan jika, hpnya miliknya yang mendapat panggilan ini.
"Hai Kak Tania!" Sapa Naila melambaikan sebelah tanganya dan sebelahnya lagi memegang benda yang menjadi penghubung diantara mereka.
"Naila, uhhhh Kakak kangen Nai!" ujar Tania dengan manja dan merentangkan sebelah tangannya yang menggambarkan ia siap memeluk adik iparnya dari kejauhan.
"Tania gimana bulan madunya? Bisakan nanti pulangnya bawa oleh oleh keponakan buat gue!" goda Vania yang tiba tiba saja sudah berada di belakang Naila yang melakukan sambungan video call.
__ADS_1
"Naila juga mau punya keponakan kalau bisa keponakanya kembar Kak pasti gemes banget deh, ntar Naila deh yang bantuin Kakak buat jaganya asal kembar aja!" goda Naila pula dan Tania hanya tersenyum mendengar antusias mereka yang mengharapkanya untuk pulang dengan membawa oleh oleh berharga itu, padahal ia sendiri tidak melakukan hal apa pun dengan Lendra, seperti yang terjadi di rumah, tubuhnya saja tidak di sentuh oleh Lendra. Bagaimana bisa ia punya anak?.
"Mama ngkpp deh ngk kembar yang penting punya cucu, cucu dari kalian nanti pasti lucu lucu dan cantik atau ganteng seperti mama dan papanya!" ucap Liora pula dengan sigap pula Naila segera mengarahkan kameranya pada mamanya yang sedang berbicara.
Tania sedikit kaget, ternyata ia tidak hanya vc pada adik iparnya tapi, seluruh keluarga suaminya berada di sana seperti sudah di rencanakan tapi, hal sederhana ini mampu membuatnya tersenyum bahagia. Memiliki mertua yang baik dan ipar yang dapat menerima adalah impian semua wanita, tidak terkecuali pada Tania yang merupakan gadis biasa yang mengharapkan itu semua.
"Kalau Papa sih, nikmati saja dulu masa masa kalian menjadi pengantin baru nanti kalau sudah siap baru memiliki keturunan karena kalau sudah menjadi orang tua tanggung jawabnya besar!" ucap Delino dengan santainya.
"Alah Papa padahal kemarin saja Papa yang paling ngebet nyuruh Kak Tania dan kak Lendra buat honeymoon sekarang malah gini. Uhhhh dasar Papa!" sanggah Naila.
"Papa bilang gitu biar Lendra mau dan benar sajakan kakak kamu mau jadi, Tania dan Lendra memiliki waktu untuk berdua dan Lendra bisa mencintai Tania agar ia juga memperlakukan Tania dengan baik jadi, kalau Papa dan Mama kembali ke luar negeri kami tidak khawatir meninggalkan Tania karena ada Lendra yang menjaganya. Papa tidak terlalu memaksakan Tania dan Lendra untuk segera memiliki anak. Papa hanya menunggu takdir dari Tuhan. Kapan beliau memberikan kepercayaannya pada kakak kamu!" jelas Delino.
"Tan, gue sih kalau bisa request keponakan laki laki biar ada kawan main. Main sama Naila kurang asik, manja banget dia!" ucap Rusdi pula yang berada di belakang Liora dan berdiri di sebelah Vania. Sejak tadi Rusdi belum pulang dan masih berada di rumah Lendra bahkan, sebelum sahabatnya menikah, ia sering menginap di rumah Lendra.
"Oh iya Kak, Kak Lendra mana kok ngk kelihatan?" tanya Naila yang mulai menyadari tidak ada Lendra sejak tadi muncul di layar ponsel Tania walau hanya sekilas dan terdengar dari suaranya sepertinya Tania hanya sendiri berada di dalam kamar.
Tania terdiam, senyumnya seketika memudar. Ia harus menjawab apa, tidak mungkin ia mengatakan Lendra sedang keluar dan menemuinya temanya diluar dan meninggalkannya seorang diri yang ada Lendra akan terkena amuk dari mertuanya.
__ADS_1
"Mas Lendra sedang keluar membeli cemilan Nai!" bohong Tania.