
"Mas sebentar operasi Mama akan segera di laksanakan!" ucap Tanianyang tidak mendapat respon apa pun dari Lendra ia masih asik dengan ponselnya. Tabia hanya dapat menghembuskan nafasnya, ia sempat berfikir jika sifat cuek dan tidak peduli suaminya sudah hilang sejak kejadian di ruangan tadi, ternyata hal itu hanya berlangsung pada waktu itu saja dan sekarang Lendra kembali dengan sifat asli, dingin dan tidak peduli denganya.
"Mas sudah makan?" tanya Tania yang tetap saja berusaha untuk mencari topik pembicaraan di antara keduanya, tetapi respon Lendra tetap saja tidak ada.
"Mas mau aku pesankan makanan?" tanya Tania lagi. Namun, Lendra masih saja membisu, ia masih enggan untuk menjawab pertanyaan Tania dan rasanya untuk merespon wanita yang ada di hadapanya rasanya sangat malas. Melihat respon Lendra yang tidak menganggap kehadirannya membuat Tania kembali menghembuskan nafasnya.
Setelah beberapa menit keheningan yang terjadi, Tania melirikan pandanganya pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Lendra. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul 04.15 dan lima belas menit lagi operasi Liora akan segera di lakukan.
Tania mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Lendra tampa mengucap sepatah kata pun karena percuma saja ia izin pada suaminya ini, Lendra kan tetap mengabaikanya seperti menit sebelumnya.
"Tania!" Panggil Lendra. Tania menolehkan pandanganya pada Lendra yang sudah berdiri di kursinya. Lendra juga mulai berjalan menghampiri Tania yang sudah berada beberapa langkah di depanya. Tania hanya terpatung di tempatnya, akhirnya Lendra mau bicara padanya.
"Ayo lima belas menit lagi operasi Mama!" ucap Lendra dengan nada sedikit kesal karena Tania hanya berdiri di tempatnya sedangkan ia sudah berada di depan gadis itu dan bahkan sudah sedikit jauh dari posisi Tania.
Lendra menghembuskan nafasnya gusar, wanita ini benar benar menjengkelkan, apa sih maunya, tadi saat ia mengabaikannya ia tetap saja berusaha untuk membuat topik di antara mereka dan sekarang ketika ia sudah mau berbicara denganya, ia malah diam saja, apa mungkin gadis ini ingin balas dendam padanya?. Dengan sangat terpaksa Lendra kembali membalikan langkahnya dan menghampiri Tania.
"Ayo!" ajak Lendra yang langsung menarik pergelangan tangan Tania. Tania menatap sekilas tangan yang melingkar di pergelangan tanganya, akhirnya gengaman itu kembali muncul di tubuhnya. Senyum tipis terbit dari sudut bibir Tania, rasa bahagia itu ada, saat di perlakuan seperti ini walau hanya sebentar.
"Kamu kenapa sih malah diam gitu?" kesal Lendra dengan langkah cepatnya. Tania kembali terdiam. Entah mengapa rasa iseng dalam dirinya kembali muncul, ia ingin membalas perlakuan Lendra padanya yang sudah mendiamkanya tadi.
"Tania!" teriak Lendra semakin kesal dan kini menghentikan langkahnya dan menatap Tania secara dekat.
__ADS_1
"Iya Mas!" jawab Tania santai dan tampa dosa.
"Kamu kenapa diam saja dari tadi?" ucap Lendra dengan nada mulai merendah di akhir, ia juga mulai menyadari jika sedari tadi ia mengengam tangan Tania dan akhirnya ia juga melepaskan gengaman itu.
"Aku ngkkpp Mas!" jawab Tania yang membuang arah pandanganya dari Lendra dan kini menghadap kearah depan.
"Terus kenapa kamu diam dari tadi?" tanya Lendra kembali melanjutkan langkahnya karena Tania sudah berjalan lebih dulu darinya.
"Tidak enakan Mas di diamkan?" ucap Tania yang semakin mempercepat langkahnya karena waktu sudah semakin menipis. Mendengar jawaban Tania, Lendra menghentikan langkahnya. Rasa kesal yang di rasakanya hanya dapat di bendungnya, tidak mungkin ia meluapkanya sedangkan Tania sudah menjauh darinya.
"Naila!" panggil Tania. Naila, Rusdi dan Evandi yang sudah berada di depan ruang operasi kini menolehkan pandanganya pada Tania yang akan menghampiri mereka.
"Bagaiman Mama?"
"Sebentar lagi operasi mama akan di laksanakan!"
"Semoga operasi Mama berjalan dengan lancar!"
"Amin!" ucap keempatnya dengan kompak dan kemudian mengusapkan telapak tanganya kewajah masing masing.
"Oh iya, ini minum kalian!" ujar Tania seraya mengeluarkan isi kantong plastik putih yang di bawanya dan memberikan pada mereka satu persatu.
__ADS_1
Evandi menatap botol minum yang di berikan Tania padanya, ia kemudian menatap Tania dengan seksama, ia merasa ada yang berbeda dari sosok Tania, ia merasa jika ia pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan wanita ini. Kecurigaan itu mulai di rasakanya saat Tania memberikan botol minum yang berbeda dari Rusdi dan Naila, ia mendapat botol minum yang berbeda sendiri dari dua orang yang ada di dekatnya.
"Mata loh Van!" teriak Lendra yang baru saja tiba di depan ruang operasi dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana ya. Semua mata kini tertuju pada Lendra yang baru saja tiba kecuali Evandi yang sedang mengelakan pandanganya dan Tania.
"Kak Lendra apaan sih?" ucap Naila yang tidak suka dengan sikap yang di tunjukan oleh kakaknya ini. Ada saja permasalahan yang ingin di timbulkan oleh saudaranya ini, kesal Naila.
Lendra menatap tajam pada Evandi yang sedang menatap kearah pintu ruangan dan ia juga berdiri di sebelah sahabatnya ini. Ternyata, ketika Evandi menatap Tania seperti itu hal itu di perhatikan oleh Lendra dari kejauhan dan Evandi tidak dapat berkutik karena ia sudah mengerti dengan maksud lelaki ini.
"Kakak kenapa sih Kakak selalu saja buat masalah, Kak Evandi itu sahabat Kakak dan Kakak tega banget ngomong kayak gitu!"
Lendra hanya dapat menghembuskan nafasnya, ia tidak ingin mengatakan pada Naila jika Evandi sejak tadi memperhatikan Tania dan hal itu tidak di ketahui oleh Tania, jika ja memberi taukanya, Naila juga tidak akan percaya dan Naila nanti pasti berfikir jika ia mulai mencintai Tania, padahal hal itu belum dan tidak akan mungkin terjadi karena Safanialah pemilik hatinya.
"Mas Lendra kenapa ya?" gumam Tania merasa ada yang berbeda dengan suaminya ini.
"Kok Lendra bisa sadar gitu sih kalau aku lagi ngelihati istri dia, padahal aku tidak ada niat buruk pada Tania, aku hanya seperti mengenali gadis ini dan sepertinya kami pernah memiliki hubungan yang dekat. Apa ini gadis yang di maksud Rusdi?. Tapi tidak mungkin, jika memang gadis ini pasti Rusdi akan mengatakan hal ini padaku dan jika memang gadis ini orang, tidak mungkin juga sahabatku menikahi gadis yang ku cintai!" pikir Evandi berusaha untuk menyingkirkan semua hal yang mengingatkan pada Tania.
"Ada hubungan apa antara Mas Lendra dengan Evandi? Kenapa mereka bertiga tampaknya sangat dekat?" pikir Tania yang juga sudah sangat merasakan kecurigaan tentang hubungan ketiganya.
"Dan kenapa Naila juga sangat dekat dengan Evandi sampai tadi ketika di rumahnya Naila memeluk Evandi? Apa benar Evandi lupa ingatan dan tidak mengenal dirinya.
"Akhhh sudahlah, apa pun hal itu aku tidak perlu takut, sekali pun Mas Lendra memiliki kedekatan dengan Evandi karena aku juga tidak memiliki hubungan yang spesial dengan sahabat ku, Evandi tidak lebih dari seorang sahabat dan Evandi juga tidak pernah mengatakan jika ia mencintaiku, Aku hanya sedang mencintai sesuatu yang tidak akan mungkin untuk ku gapai!" gumam Tania lagi.
__ADS_1