Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 35 - Lendra tidak akan membantu ku


__ADS_3

"Naila takut Kak, kalau suatu saat nanti Naila menikah dan suami Naila bersikap sama seperti kak Lendra memperlakukan istrinya, Naila tidak sekuat kak Tania!" isak Naila.


"Sudah jangan berpikir yang macam macam, berdoa saja yang terbaik!" ucap Rusdi menenangkan Naila dan membawa kepala Naila kedada bidangnya dan Naila memejamkan matanya perlahan.


Rusdi menatap wajah tenang Naila yang sudah tertidur di atas dada bidangnya, wajahnya terlihat sangat lelah, terlalu banyak beban yang di pikulnya dan Rusdi tau betul, Naila saat ini mengalami trauma menyaksikan rumah tangga kakaknya, sebagai adik Lendra, ia juga pasti merasakan ketakutan, jika suatu saat ia menerima karma atas apa yang telah Lendra perbuat.


Rusdi mengelus kepala Naila yang di balut hijab berwarna mocca membuat Naila semakin nyaman di dekapan pria itu dan membuat tidurnya semakin nyenyak setelah tangisnya yang cukup hebat.


"Sayang ini bagus ngk?" tanya Safania kegirangan dengan menunjukan sebuah dress berwarna dusti pada Lendra.


Lendra dan Safania sudah berada di dalam mall sesuai janji Lendra untuk menemai Safania berbelanja. Ia mengikuti langkah Safania yang terus mengajaknya berputar sekitaran mall untuk mencari barang barang yang akan di belinya.


"Kamu mau yang mana lagi?" tanya Lendra dengan memegang enam bungkus belanjaan Safania yang setiap bungkusnya sudah terisi penuh. Safania memandangi sekitarnya dan matanya mengarah pada sebuah hills yang terpajang rapi rapi, ia segera mendekati hills itu dan mengambil serta memberikanya pada Lendra.


"Non, Bibi sudah berada di rumah sakit bersama Bu Tifani, Non nyusul saja di Rumah Sakit Perdana Medika!"


Setelah membaca pesan singkat yang di kirim oleh Narsi, Vania menyuruh supir taksinya untuk balik arah dan segera menuju tempat yang di maksud oleh pembantunya itu.


Vania sudah berada di dalam taksi, sebelumnya Rafa menyuruh supir pribadi Vania untuk berhenti dan mencarikan Vania taksi dahulu untuk memastikan Vania benar benar selamat, agar kejadian sepertinya tidak kembali terulang.


Sedangkan di dalam mobil Vania hanya ada Rafa dan Nadya serta supir. Di dalam mobil itu hanya ada keheningan, Rafa tidak memulai pembicaraan sedikit pun sedangkan Nadya adalah sosok yang pendiam, tidak akan memulai pembicaraan, jika tidak ada yang memulainya, ia terlalu malas untuk mencari topik pembicaraan. Nadya hanya menatap jalanan sekitar yang di lewatinya.


Dalam ketakutan yang terbalut dalam dirinya, Tania masih dapat menyaksikan seorang lelaki paruh baya mengenakan pakaian serba hitam tengah berkomunikasi dengan seseorang yang tidak di ketahuinya via telpon melalui kaca yang terbentang di ruangan gelap ini. Tania menatapnya dengan intens sepertinya percakapan keduanya sangat penting. Sosok itu membelakanginya hingga ia tidak dapat melihat wajahnya secara langsung, tapi terdengar dari suaranya lelaki itu sepertinya berusia sekitar empat puluh tahunan.

__ADS_1


Tania membuka telinganya lebar lebar agar ia dapat mendengar apa yang sedang lelaki itu katakan, ia berusaha untuk mengeser kursinya agar sedikit mendekat dengan pria yang sedang menelpon itu.


"Hancurkan dia sampai dia menyerah dan memberikan seluruh aset perusahaanya pada kita!" hanya kalimat itu yang terdengar di telinga Tania.


"Siapa yang mereka maksud?" pikir Tania. Tania kembali mengarahkan pandanganya kearah depan dan menatap langit langit ruangan ini dan sesekali mencuri pandang pada lelaki yang sudah selesai menelpon dan mulai menghampirinya, berharap agar lelaki itu tidak menyadari jika ia sejak tadi sudah menguping pembicaraanya.


"Hai anak gadis!" goda lelaki itu mencolek ujung hidung Tania dan dengan cepat Tania membuang wajahnya kelain arah.


"Kamu istri tuan Lendra terhormat?" tanyanya.


"Apa maksud mu membawa ku tempat ini?"


"Aku tidak bermaksud apa apa!"


"Aku hanya menginginkan perceraain mu dengan tuan Lendra!" ucapnya dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya dan wajahnya yang di dekatnya dengan wajah Tania, ia juga membungkukan badanya agar posisinya dengan Tania sejajar.


"Aku tidak akan pernah melakukan itu!" jawab Tania dengan tegas.


"Kamu mau berapa dari ku agar kamu mau menceraikan lelaki itu?"


"Uang mu tidak akan cukup untuk membayar semua itu!" ucap Tania menatap wajah lelaki itu dengan tajam.


"Keyakinan mu itu juga tidak akan mengubah sifat Lendra, tuan Lendra adalah lelaki yang sangat serakah dan memperlakukan semua orang dengan sesukanya dan bahkan ia rela melakukan apa pun untuk keinginan pribadinya. Apakah kamu masih mau bertahan dengan lelaki seperti itu? Apa kamu tidak mementingkan kebahagian mu?" ucap lelaki itu kini memegang dagu Tania dengan kuat, membuat Tania kesakitan.

__ADS_1


"Aku tidak peduli hal itu, bagaimana pun dia tetap suami ku!" ucap Tania dengan jelas.


Pernikahaanya yang baru beberapa hari, belum mampu membuat Tania mengenali sosok suaminya itu, ia juga tidak tau apa yang lelaki itu katakan benar atau tidak, yang ia yakini sekarang adalah Lendra suaminya dan ia harus mampu menjaga martabat dan harga diri Lendra di hadapan orang lain.


"Tapi Lendra juga suami orang!" ucap orang itu kini melepaskan tanganya dari dagu Tania. Tania menatap orang itu dengan tajam dan kedua bola mata melotot sempurna pada orang yang sudah membelakanginya.


"Kamu pasti bertanyakan dari mana aku tau?" ucap orang itu memutarkan kembali tubuhnya dan menunjukan layar ponselnya yang berisikan foto Safania dan Lendra di acara pernikahaanya pada Tania. Di foto itu tampak raut wajah Safania dan Lendra sangat bahagia, senyum lebar yang terbit di bibir Lendra dan mata penuh binaran kebahagian terpanjang dari raut wajah lelaki itu, tidak dapat di pungkiri, Lendra sangat menikmati pernikahaanya tampa kehadiraanya dan tidak merasakan kehilangan sedikit pun.


Melihat gambar itu air mata Tania hampir saja menetes, namun ia berusaha untuk tidak menampakan hal itu, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki yang seluruh tubuhnya di tutupi oleh pakaian serba hitam itu dan bahkan ia juga memakai masker dan topi hitam, Tania benar benar tidak dapat mengenalinya.


"Apa kamu akan bertahan lama menyaksikan keromantisan yang di ciptakan oleh suami mu pada madumu?" ucapnya lagi dengan mematikan ponselnya dan memasukanya kembali kedalam saku celananya, tetapi arah pandangan matanya tertuju pada Tania yang kini mata wanita itu sudah berkaca kaca.


"Aku tidak peduli!" jawab Tania membuang arah pandanganya dari lelaki itu.


"Jika Safania bisa membuat Lendra secinta itu padanya, maka aku harus dapat mengantikan posisi Safania tampa harus menyingkirkan wanita itu!" gumam Tania dengan sebulir air mata yang akhirya membasahi pipi chubinya.


Walau pun Tania sudah memiringkan posisinya dan menghadap kearah samping, lelaki itu masih dapat melihat Tania yang sudah menangis dan memilih untuk meninggalkan Tania. Tak lupa ia juga memberi isarat pada pengawal yang menjaga ruangan ini agar menjaga Tania dengan ketat agar gadis ini tidak dapat melarikan diri.


"Apa aku bisa bertahan dengan posisi seperti ini dalam keadaan suami ku sangat mencintai orang lain dan tidak sedikit pun memberikan hatinya pada ku!" ucap Tania yang sudah terisak dalam tangis. Setelah lelaki itu meninggalkanya Tania menumpahkan seluruh tangis yang sudah di tahanya. Ia mulai memikirkan ucapan lelaki itu, apa yang lelaki itu katakan ada benarnya juga.


Sedikit pun Lendra tidak memberikanya waktu untuk membuatnya jatuh cinta padanya. Bertahan sakit namun, jika harus melepaskan pun akan semakin sakit baginya. Jika ia meminta hal itu pada Lendra sama saja dia memukul hati mertuanya dengan sangat keras dan ia juga sudah melakukan perbuatan dosa yang sangat besar.


"Aku harus apa?"

__ADS_1


"Apakah sekarang mas Lendra sedang mencari ku atau dia melakukan hal yang sama seperti hari pernikahaan ku, membiarkan ku pergi tampa mencari ku sedikit pun!" pikir Tania.


__ADS_2