Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 38 - Makananya tidak enak


__ADS_3

"Kakak mau lihat mama drop lagi?" tanya Naila dengan kedua bola mata melotot mengarah pada Lendra.


"Nai, kamu juga harus tau kalau wanita yang ada di hadapan kamu juga kakak ipar kamu, kamu harus hormati dia seperti kamu menghargai Tania!"


"Oh gitu Kak, Kakak juga harus dong memperlakukan kak Tania sama seperti Kakak memperlakukan wanita ini!" bantah Naila dengan menatap Safania dengan sinis.


"Kamu bisa ngk sih nuruti apa yang kakak kamu perintah?" ujar Safania yang langsung berdiri di hadapan Naila dengan amarah yang mengebu, adik iparnya ini bisa menjadi perusak rumah tangganya dengan Lendra.


"Bisa, tapi nanti setelah kak Lendra bisa menghargai kak Tania sebagai istrinya karena pilihan seorang ibu tidak pernah salah!" ujar Naila.


"Kamu bisa ngk sih ajari adik kamu sopan santun?" tanya Safania yang sudah semakin geram pada Naila.


"Seharusnya aku yang nanya, orang tua Kakak gagal ya didik Kakak sama mau jadi istri kedua suami orang?" tanya Naila balik dengan tatapan tak kalah tajam dari Safania.


Lagi, lagi tangan Safania siap untuk menampar Tania dan dengan sigap Lendra kembali menahan tangan Safania yang sudah berada di sebelah wajah adiknya. Namun, kali ini tampaknya Lendra sangat marah pada Naila, ia menyingkirkan tubuh Safania dan berdiri tepat di hadapan Naila dan menatap gadis itu dengan sangat tajam.


"Ini yang kamu dapat selama belajar agama di pesantren? tidak ada ahlak sama sekali, tidak ada sopan santun yang terlihat dari kamu, jadi selama ini percuma mama dan papa  ngedidik kamu, ngk guna!"


Air mata Naila berlinang dan membasahi wajahnya, perkataan kakaknya benar benar menyayat hatinya, untuk pertama kalinya Lendra berkata sekasar ini, apalagi hanya untuk membela seorang wanita. Naila menatap wajah Safania penuh kedendaman, lelaki yang selama ini melindungi dan menjadi tempat ternyamannya setelah papanya berubah drastis hanya demi seorang wanita yang tidak benar.


Mulut Tania sudah tidak dapat berkata kata, bibirnya hanya mampu terbungkam, dan menelan semua hal yang ingin di katakanya.


Bersama isak tangisnya, Naila berlari tak tentu arah, kata kata Lendra terus saja terngiang di benaknya saat ia melewati benda benda dan oramg orang yang ada di rumah sakit. Ia lakukan semua ini karena ia tidak ingin Tania merasakan perih dan sebagai seorang wanita Naila mengerti dengan sakit yang di rasakan oleh Tania, ia juga tidak ingin menerima karma atas apa yang sudah Lendra perbuat.


"Ngk guna!" kalimat itu tidak henti hentinya lepas dari ingatanya, Lendra yang dulu selalu memuji dan memberikan sanjungan padanya, kini melontarkan kalimat yang jelas sudah menyakiti hatinya.


"Sayang, kamu masuk gih, lihat mama kamu!" ucap Safania berusaha untuk menutupi kemarahaan yang masih bergejolak di kepalanya.


"Kamu juga masuk ya!" ajak Lendra menarik pergelangan tangan Safania dan Safania langsung melepaskan cengkraman tangan Lendra yang melingkar di pergelangan tanganya.

__ADS_1


"Naila benar, nanti kalau mama lihat aku yang ada mama drop lagi, kamu juga harus pikirkan kesehatan mama!" ucap Safania tersenyum.


"Kamu tidak perlu dengeri Naila, dia masih terlalu kecil untuk memahami posisi kamu!" ucap Lendra dan kembali mengenggam tangan Safania dan Safania hanya tersenyum dan melepas cengkraman tangan Lendra.


"Mama kamu drop karena tau aku istri kamu, mama butuh waktu buat terima aku!"


Selesai berkata demikian, Safania pergi berlari meninggalkan Lendra, Lendra hanya memandangi tubuh Safania yang sudah semakin jauh darinya, ia tidak mungkin mengejar Safania, ia juga harus melihat kondisi kedua orang tuanya.


Safania melirik kearah kanan, kiri dan sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang melihatnya dan tidak akan ada yang mendengar perbincanganya nanti. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam ponselnya dan menghubungi salah satu nomor yang ada di dalam benda itu.


"Bagaimana Tania?" tanya Safania pada seseorang melalui sambungan udara yang sudah terhubung.


"Dia baik, tapi tidak ada satu orang pun yang mencari?"


"Tidak akan ada yang mencarinya, kamu tahan dia dan jangan biarkan dia lolos, karena itu akan mengancam posisiku sebagai menantu keluarga besar Lendra!"


"Kamu juga harus ingat kamu hanya istri sirih, kamu harus bisa menyingkirkan posisi istri pertama Lendra!"


"Mama, kenapa tega ninggali aku Ma!" tangis Vania sembari menutup wajah dan tubuh Tifani dengan kain putih.


"Non yang kuat ya!" ucap Narsi yang sejak tadi memegangi pundak Vania.


"Akan ada hikmah di balik semua ini, kamu harus tegar ya!" ucap Rusdi yang berdiri di hadapan keduanya dan berada di sebelah kiri ranjang Tifani.


"Vania bisa apa tampa mama, Bi?" lirih Vania meletakan kepalanya di atas bahu Narsi, Narsi dapat merasakan buliran bening yang membasahi bajunya. Tetesan air itu berasal dari pelupuk mata Vania.


"Silahkan kamu makan!" ucap seorang lelaki dengan baju kaos putih, jika di lihat dari dekat seperti ini, lelaki ini memiliki sedikit kemiripan pada lelaki yang memakai pakaian serba hitam.


Tania menatap lelaki itu dengan sangat dekat, ia sangat yakin jika lelaki itu memiliki hubungan kekeluargaan dengan lelaki serba hitam yang menghampirinya tadi.

__ADS_1


"Ayo makan!" bentak lelaki itu hingga lamunan Tania buyar dan segera menatap makanan yang lelaki itu bawakan padanya, nasi dan hanya berlaukan tempe goreng saja.


"Bagaimana cara ku makan, jika tangan ku saja di ikat!" ucap Tania mengalihkan pandanganya dari pemuda itu.


Lelaki itu menatap tangan Tania yang terikat di belakang kursi yang di dudukinya. Setelah menghembuskan nafasnya panjang, ia berjongkok di hadapan Tania untuk menyamakan tingginya dengan gadis yang ada di depanya dan menyuap Tania.


Tania kembali menatap pria itu saat tangannya hampir saja menyentuh bagian bibirnya, pria ini menyuapnya tampa mengfunakan sendok, tidak sudi baginya jika bibirnya di sentuh langsung oleh tangan pria jahat sepertinya.


"Aku tidak biasa makan dengan makanan seperti itu!" sombong Tania dan membuang pandanganya dari makanan itu. Tidak masalah jika harus memakan tempe, dia hanya tidak mau jika pria itu menyuapnya, apalagi tampa menggunakan sendok, ia saja tidak mengenal siapa pria ini.


"Kamu makan saja apa yang ada!" ucapnya kembali mendekatkan tanganya yang sudah berisikan nasi dan hendak memasukanya kembali kedalam mulut Tania.


"Kamu kenalkan tuan Lendra, aku adalah istrinya dan kamu mau ngasih aku makanan seperti ini? Sama saja kamu ssdang menjatuhkan harga diri tuan Lendra sekeluarga, dia bisa saja mengarahkan seluruh bawahanya untuk membantu kamu menghabiskan sisa usia mu!" ucap Tania menakut nakuti pemuda itu.


"Kamu harus biasa makan makanan seperti ini!"


"Bayangkan saja, jika nanti rencana kalian gagal dan tuan Lendra mengetahui seluruh perbuatan kalian, kalian bisa masuk kedalam sel tahanan atau bergabung dengan penghuni penghuni yang ada di makam. Apakah kalian sudah bersedia?"


"Apa maksud mu?" tanya pria itu yang kini sudah berdiri dari hadapan Tania.


"Kalau kalian memberikan aku makanan seperti yang ada nanti saya tidak akan nyaman dan pastinya nanti saya akan berusaha untuk melarikan diri, usaha kalian akan sia sia belakang menyeka saya di tempat seperti ini dan tuan Lendra akan memasukan kalian kejeruji besi atau masuk kedalam tanah, hayo pilih yang mana?" ucap Tania.


"Kamu sudah tidak normal, bagaimana bisa kabur dan memberitahunya?"


"Pilihan ada di tangan mu, aku kabur atau menganti makanan ku dengan makanan yang lebih mewah dari ini?"


"Kamu mau apa?"


"Aku mau stick, rendang, sop, pizza boleh tuh, ukuran jumbo ya!"

__ADS_1


"Banyak banget permintaan loh, badan loh juga kurus kering gitu sok sokan makan banyak, memang makananya mau di letakan di mana?"


__ADS_2