Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 125 - Sepi


__ADS_3

Waktu memasuki malam tak ada seorang pun yang datang menjenguk Lendra. Lelaki itu mulai merasa kesepian, tak biasa hidupnya seperti ini. Sejak tadi ia menunggu kehadiran istri pertamanya. Setiap ketukan pintu ia berharap Tania menghampirinya nyatanya hanya suster dan dokter yang menangainya yang melihat kondisinya. Air mata Lendra menitih begitu saja untuk pertama kalinya ia merasakan hidupnya hampa seperti ini.


Naila sejak tadi juga tidak kembali. Ia tidak terlalu berharap kehadiran orang tuanya karena sepengetahuanya Liora dan Delino juga masih di rawat di rumah sakit yang sama denganya. Kehancuran sudah berada di depan matanya. Kemiskinan, kelumpuhan dan masa sendiri harus di laluinya secara bersama mungkin ini yang di sebut karma.


"Tania jika kamu masih mau bertahan dan menemani masa sulit ku, aku janji akan membuat kamu menjadi wanita paling bahagia dan aku tidak akan membiarkan kamu menangis lagi!" gumam Lendra menatap langit langit kamarnya. Harapanya pada Safania sudah pupus. Ia sudah sudah tidak mengharapkan wanita itu kembali dengan alasan apa pun.


Lendra hanya mampu menatap ponselnya yang terletak di atas meja yang tak jauhnya. Ia tidak mampu untuk mengapainya. Ia menghubungi Tania tapi, ia juga sadar ia tidak memiliki nomor istrinya. Evandi dan rusdi sahabatnya juga sejak tadi tidak menjenguknya di rumah sakit. Benar benar kehampaan yang saat ini di rasakan pria itu.


Waktu pengecekan kondisinya telah tiba. Dokter kembali masuk kedalam ruanganya. Kesempatan itu di manfaatkan Lendra untuk meminta tolong mengambilkan ponselnya. Entah apa yang di rasakanya saat ini antara sedih dan senang. Beranda media sosialnya menampakan Safania yang sedang berpeluk mesra bersama pria lain. Hubungan yang mereka jalani tidak sebentar namun, secepat itu Safania melupakanya di saat ia mengalami masalah sulit seperti ini.


Lendra hanya dapat menarik sudut bibirnya dan tersenyum menatap layar ponselnya. Ia juga meninggalkan jejak pada postingan Safania dengan memberikan suka pada gambar itu walau pun harapanya sudah tidak sedalam dahulu tetap saja ia merasakan perih saat melihat foto itu. Bagaimana pun ia masih sangat mencintai Safania namun kali ini, ia harus mengunakan logikanya dengan benar sebelum penyesalan kembali menghampirinya.


"Andai perasaan ku tidak sedalam itu pada mu mungkin sakit ku juga tidak akanĀ  seperih ini. Harapan tinggi tidak mampu mengalahi ekspetasi mu yang memuncak. Semua cerita kita akan berakhir di sini!" Lendra membuka profil media sosial Safania dan kemudian memblokirnya dari seluruh sosmednya. Terkesan belum dewasa namun dengan cara seperti inilah ia dapat melupakan wanita itu.


"Bukan aku ingin memutuskan tali silahturahmi kita, bukan aku yang tidak bisa berdamai dengan keadaan tetapi jika dengan menjauh dapat membuat ku lebih tenang maka itu lebih baik. Tidak akan ku berikan sepercik pun hal terdengar mau pun terlihat oleh mataku yang dapat melukai hati. Aku ku hindari segala sesuatu yang melukai ku!" Lendra meletakan ponselnya di atas ranjang miliknya.


Lendra mulai memajamkan matanya dan menutup tubuhnya dengan selimut yang tidak terlalu tebal dan masuk kedalam alam mimpinya. Dengan nafas yang masih memburu Tania membuka pintu ruangan Lendra. Ia mendapati suaminya yang sudah tertidur dengan pulas. Di letakanya tas yang di gandenganya dari rumah.


Entah mengapa melihat wajah tenang Lendra membuat rasa capek setelah berlarian di rumah sakit seketika menghilang. Pasalnya Tania yang tertidur di rumah mertuanya dan ia melihat jam dinding di rumah itu. Hari sudah memasuku malam sedangkan ia belum menjenguk suaminya. Dengan persiapan seadanya Tania langsung berlari menuju rumah sakit.

__ADS_1


Melihat Lendra yang masih tertidur. Tania berinisiatif mengelap tubuh pria ini. Jika ia sudah terbangun Lendra pasti menolaknya dan tidak ingin tubuhnya di sentuh. Di bersihkanya tubuh Lendra mengunakan handuk kecil dan ia juga menganti baju suaminya dengan baju kaus yang di bawanya dari rumah. Saat hendak membuka kancing baju Lendra tiba tiba saja tanganya di gengam oleh sebuah tangan.


Tania langsung menatap wajah Lendra yang memasang wajah datar. Ia langsung menarik tanganya. Lendra pasti akan marah besar padanya karena telah lantang menyentuh tubuhnya.


"Tan kenapa kamu baru datang?"


"Ma .. ma maaf Mas tadi aku antarin mama dan papa pulang kerumah dahulu dan aku malah ketiduran maaf!" ujar Tania tertunduk takut.


"Kamu ngk perlu minta maaf aku bersyukur kamu masih mau datang menjenguk aku. Sahabat aku saja tidak ada yang datang melihat aku!" ucap Lendra merendah.


"Naila menjenguk pak Rusdi Mas di rumah sakit dan sepertinya pak Evandi juga!"


"Tania kurang tau Mas tapi tadi Naila pamitan untuk menjenguk pak Rusdi!"


"Aku juga harus menjenguk Rusdi!" Lendra bergegas membuka selang infus yang beberapa hari ini menemaninya. Tania langsung mencegahnya dan menatap Lendra dengan tajam.


"Kesehatan kamu dahulukan Mas nanti setelah kamu baikan, aku yang akan temani kamu menjenguk pak Rusdi!"


"Tapi Rusdi sahabat aku!"

__ADS_1


"Aku tau Mas tapi di sana sudah ada Naila yang melihatnya kalau kamu memaksa kesana kondisi kesehatan kamu akan semakin memburuk dan pak Rusdi nanti pasti akan khawatir juga. Jangan menambah beban beliau Pak!"


"Baiklah!" balas Lendra pada akhirnya.


Kini hanya ada keheningan diantara mereka. Tania terlalu canggung untuk memulai pembicaraan. Lendra tidak tau ingin membicarakan hal apa. Tania mulai salah tingkah dan tidak tau harus berbuat apa pandangan Lendra terus saja tertuju padanya.


"Mas jangan menatap ku seperti itu!" ucap Tania merasa risih dengan tatapan itu.


"Kenapa kamukan istri aku?, apa aku salah menatap istri aku sendiri?"


"Tapi aku sudah mengugat kamu Mas!"


"Keputusan belum keluar dan sampai saat ini kamu masih istri ku!"


"Aku harap dengan ini kamu bisa bahagia!" Lendra hanya tersenyum miring dan kemudian membuang arah pandanganya dari Tania. Bagaimana bisa ia bahagia di saat ia ingin merubah dan setia pada istrinya, Tania justru memilih untuk meninggalkanya, apakah setelah ini ia akan bahagia bersama lukanya?.


"Mas nanti jika surat keputusan sudah keluar dan kita resmi berpisah kamu kalau ada masalah bisa cari aku dan sebisa mungkin aku tidak akan memutuskan komunikasi kita apalagi aku sudah anggap orang tua kamu sama seperti orang tua aku apalagi Naila, dia sudah seperti adik ku!"


"Lalu kenapa kamu meminta untuk berpisah?"

__ADS_1


"Jawabanya sederhana Mas, aku lelah dan sudah tidak dapat bertahan dengan semua sikap kamu tapi aku tidak dapat pungkiri kebaikan keluarga kamu!" Lendra hanya terdiam ia tidak tau harus menjawab apa. Ia juga tidak pernah memperlakukan Tania dengan baik.


__ADS_2