
Lendra kembali kedalam ruanganya diantar oleh Safania. Ia berada di gempat ini seorang diri karena memang permintaan darinya yang tudak ingun ditemani oleh siapa pun. Ia hanya ungin seorang diti untuk menenangkan dirinya. Pikiranya mulai melayang memikirkan ucapan adiknya. Apa yang dikatakan Naila ada benarnya. Orang yang selama ini ada saat ia butuh adalah Tania dan Safania selalu menghilang ketika ia ingin gadis itu ada di sampingnya namun, ia juga tidak mempungkiri hatinya, ia sangat mencintai Safania.
Fikiranya dipaksa untuk berfikir dan mengingat kata kata menyakitkan yang keluar dari mulut adiknya yang sekarang ia tidak tau di mana keberadaan Naila sekarang. Ia sangat menyayangi Naila karena hanya Naila saudaranya satu satunya. Di sisi lain ia juga sangat mencintai Safania sedangkan Safania dan Naila ibarat api dan air tidak akan memadam. Bersama Tania, Naila terlihat begitu akrab, tidak ada kecanggungan diantaranya, orang tuanya jyga sangat mrnyanyangi istri pertamanya. Ia juga tidak dapat membohongi dirinya Tania selalu memberikan perhatian yang tidak pernah di dapatkanya dari Safania.
Gejolak pikiranya mulai merusak benaknya. Ia tidak ingin salah memilih apalagi jika, Tania benar benar mengugatnya berarti ia sudah melepaskan seseorang yang sudah memberikan seluruh ketulusanya.
Akhhhh, sudahlah kondisinya masih belum membaik, sebaiknya ia harus fokus pada kesehatanya agar kembali pulih. Bagaimana nantinya, ikuti saja alurnya. Apa pun yang akan terjadi kedepanya, ia pasti dapat melaluinya. Ia hanya ingin mengikuti kata hatinya sekarang.
Safania yang berada di luar ruangan Lendra, ia memainkan ponselnya dan melihat kabar kabar yang masih hangat yang kini tengah di perbincangkan di media sosial. Tak sengaja matanya menatap sebuah postingan yang menunjukan dirinya bersama lelaki lain dan tak jauh dari berita itu berandanya juga menunjukan pernyataan Delino yang berniat untuk mengambil ahli perusahaan milik Lendra menjadi miliknya kembali.
__ADS_1
Seketika Safania tersontak dan ia langsung bangkit dari posisi duduknya. Ia benar benar tidak percaya dengan apa yang sudah di bacanya. Lalu, untuk apa ia masih bertahan dengan Lendra jika, lelaki itu saja sudah tidak sempurna lagi, kakinya saja sudah lumpuh dan sekarang mertuanya menarik seluruh aset Lendra. Bagaimana kelanjutan hidupnya jika masih terus terusan bertahan dengan Lendra, sama saja ia sedang menelatarkan dirinya.
"Tidak, aku tidak ingin bertahan dengan lelaki seperti itu. Siapa nanti yang akan membiayai hidup ku, siapa yang akan membayar perawatan ku?, tidak, sebaiknya aku berpisah dengan Lendra. Apa yang ingin ku pertahankan dari dia, lumpuh dan sekarang dia miskin?, tidak, aku tidak ingin menelantarkan diriku, perjalanan hidup ku masih panjang. Lelaki seperti dia tidak layak bersama ku!"
"Bukan kakak ku yang tidak layak bersama mu tapi, kamu yang tidak sepadan dengan keluarga ku. Apa yang sudah kamu lakukan hingga mengatakan kakak ku tidak layak bersama mu, sesempurna apa diri mu?. Hai sadarlah selama ini effort kakak ku terlalu berlebihan pada mu hingga kamu tidak sadar diri seperti ini!" tiba tiba saja Naila muncul di hadapan Safania yang hendak masuk kedalam ruangan Lendra.
Naila segera masuk kedalam ruangan Lendra dengan emosi yang mengebu gebu tanpa mengetuk pintunya dahulu. Safania mengikutinya dari belakang dan membiarkan gadis kecul itu meluapkan amarahnya. Setelah mendengarkan penyampaian Naila. Lendra masih tidak percaya dengan ucapan adiknya. Ia menatap tajam kearah Safania ysng memasang wajah sombongnya. Melihat ekspresi Safania sepertinya Naila sedang tidak berbohong atau menuduh Safania. Gadis itu memasang wajah santainya dan bahkan ia melipat kedua tanganya dan di letakanya di bagian perutnya.
"Safania!" gadis pemiliki nama Safania itu menatap santai pada Lendra dan menaikan sebelas alisnya serta melepas posisi tangannya. Seperti tidak terjadi apa apa Safania terlihat sangat tenang.
__ADS_1
"Aku rasa aku tidak perlu menceritakannya lagi pada mu, Sayang, penjelasan dari adik mu mu, aku rasa sudah dapat menjawab semua pertanyaan kamu dan kamu sudah taukan?. Aku pamit Sayang, kamu bisa kok untuk memulai hubungan yang baik dengan istri pertama kamu. Aku janji deh ngk bakal gangu hubungan kalian. Bahagia selalu yang Mas bersama wanita yang tidak kamu cintai!" Lendra mencengkal pergelangan tangan Safania yang hendak meninggalkanya. Buliran bening mengalir di wajahnya. Ia belum siap untuk kehilangan Safania dengan hubungan mereka yang tidak sebentar. Dengan lembut Safania melepas tangan Lendra itu dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Safania, aku sedang sakit, aku butuh kamu tapi, kenapa malah kamu pergi disaat kamu tau aku sudah tidak bisa apa apa!" teriak Lendra. Safania menghentikan langkahnya dan menoleh pada Lendra yang semakin melamah.
"Lendra, aku ini wanita normal, aku ingin hidup aku terjamin, aku juga ingin merasakan kebahagian. Aku tidak ingin mengalami masa sulit ku. Aku cantik karena aku rajin perawatan dan perawatan membutuhkan modal kalau aku tetap stay di kamu lalu, bagaimana dengan kebutuhan hidup ku. Hidup itu tidak hanya butuh cinta dan sekarang aku memutuskan memtuskan untuk mengakhiri pernikahaan kita!" jawabnya.
"Setega itu kamu Safania!"
"Bukan aku tega tapi, aku realistis ganya wanita bodoh yang ingin bertahan dengan keadaan suaminya yang tidak punya apa apa?" sambung Safania yang kinj benar benar meninggaljab suaminya berxua dengan adiknya.
__ADS_1