Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 14 - Vania salah paham


__ADS_3

"Dia siapa Bu?" tanya Evandi menunjuk  arah belakang Sari.


"Masak Den tidak mengenalnya!" gurau Sari, Evandi hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Den Rusdi!" Respon Evandi masih sama ia masih terlihat binggung dan linglung. Evandi masih belum dapat mengingat kejadian malam tadi yang menimpahnya, bahkan kini ia merasa nyeri di bagian kepalanya.


"Den, kenapa Den?" tanya Sari mulai khawatir dengan keadaan Evandi yang terus memegangi kepalanya.


"Kepala aku sakit banget Bu!" jawabnya.


"Kenapa Bi?" tanya Rusdi yang kini sudah berdiri di sebelah Sari. Ia terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Sari yang terdengar panik.


"Kepala Den Evan sakit!"


"Dokter, Dokter, Dokter!" teriak Rusdi.


Hari sudah memasuki senja, matahari yang tadinya terik kini menghilang, suasana malam kini mulai menghampiri kota ini. Sudah waktunya Tania untuk kembali menelusuri jalanan kota, pekerjaannya memang belum selesai tetapi jika menunggu selesai, warung ini tutup hingga malam sedangkan ia juga harus mencari tempat beristirahat selanjutnya.


"Kak, Saya boleh pamit pulang!" ujar Tania yang kini kembali menghampiri meja kasir.


"Kakak tinggal di mana?" tanya kasir itu pula.


"Saya tidak tau alamat saya Kak, tapi saya ada tempat tinggal kok!" jawab Tania tersenyum tipis.


"Oh, ya sudah, Kakak hati hati ya!" dan Tania hanya membalasnya dengan senyumanya.


"Oh iya Kak, ini ada sedikit makanan buat nanti Kakak makan malam!" ucap kasir itu dengan menyedorkan sebungkus nasi pada Tania yang sudah ia siapkan sebelumnya, Kasir itu juga menyodorkan amlop putih pada Tania.


"Tidak usah Kak, lagian tadi saya juga sudah di beri makan, dapat makan siang lagi tadi!" tolak Tania dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi ini perintah dari atasan saya Kak, tadi beliau melihat Kakak bekerja dan beliau meminta saya untuk memberi sedikit upah pada Kakak!"


"Siapa dia?" tanya seorang wanita paruh yang baru saja memasuki dapur rumah makanya, kasir itu baru saja mengantar makanan pada pelangganya dan akan meletakan nampan di dapur. Kasir itu sudah menduga jika majikanya itu akan marah padanya karena sudah memasukan orang asing kedalam dapur apalagi jika majikanya mengetahui ia memberinya makan walau dengan mengunakan jatah makan siangnya, kini wajah sang kasir sudah memucat dan siap untuk menerima amuk wanita yang ada di hadapanya.


"Tadi wanita itu datang kesini Bu dan ia sedang kelaparan berat makanya saya memberikanya makan dan ia berniat untuk membalas makananya dengan bekerja di sini selama sehari Bu!" jelas kasir dengan tertunduk takut.


"Pertahankan kebaikan mu!" balas pemilik warung dengan mengelus pundak bawahanya itu. Kasir itu langsung menatap wajah majikanya dengan seksama, ternyata majikanya ini adalah orang baik bahkan ia tidak marah sama sekali, atasannya terus menatap pada Tania yang sedang mengepel lantai dan kasir hanya dapat tersenyum melihatnya.


"Ya sudah kalau begitu saya terima ya Kak!"


"Ini sudah jam berapa?" tanya Lendra yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Tak ada respon di dapatnya, kini ia mendudukan bokongnya dan mengucek matanya serta menyesuikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Ia melihat sebelahnya, Safania masih tertidur dengan nyenyak, kemudian pandangannya beralih pada jam dinding yang menunjukan pukul 04.48.


"Sayang, Sayang bangun!" ujar Lendra sedikit mengerakan tubuh Safania.


"Sayang bangun!" ujarnya lagi.


"Aku masih ngantuk Sayang!"


"Mama dan Papa nanti mau datang kerumah!"


"Haa?" kaget Safania yang langsung terbangun dari tidurnya.


"Santai aja kali Sayang!" ujar Lendra sembari meletakan telapak tanganya di wajah Safania.


"Kamu serius Sayang?" tanya Safania dengan raut wajah yang sangat sumringah. Raut wajahnya tidak dapat di pungkiri ia sangat bahagia akhirnya ia bisa bertemu dengan keluarga Lendra karena selama ia berhubungan dengan Lendra tak pernah sekali pun Lendra mengajaknya untuk bertemu dengan orang tuanya.


"Kamu kenapa ngk bilang dari tadi? Kalau kamu bilangkan aku pasti siap siap dari tadi!" ucap Safania yang langsung turun dari ranjangnya dan berlari menuju rak handuk dengan semangatnya ia melakukan ritual mandinya, Lendra yang mengaksikan sifat kekanak kanakan Safania hanya dapat tertawa kecil, ia ikut merasakan kebahagian Safania.

__ADS_1


Menunggu Safania selesai mandi, Lendra pergi kedapur untuk membuat kopi karena seharian ia belum meneguk secangkir kopi pun, ia juga membuatkan minuman cokelat kesukaan Safania dan membawanya kedalam kamarnya.


"Kamu sudah selesai mandinya?" tanya Lendra meletakan minuman yang di pegangnya di atas meja.


"Aku cantik ngk?" tanya Safania langsung berdiri di hadapan Lendra dengan menampakan tubuh rampingnya dan sesekali memanyunkan bibirnya.


"Cantik Sayang!" balas Lendra dengan memegang pinggang ramping milik Safania.


"Itu aku buatin minuman buat kamu!" Lendra. Lagi lagi Safania tidak merespon ucapan Lendra, ia masih memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin besarnya dan menambah polesan make up di wajahnya.


"Kamu sudah siapin makanan buat jamu kedatangan mama nanti?" tanya Lendra selesai meneguk kopi buatanya, seketika Safania langsung menghentikan kegiatanya dan menatap aneh pada Lendra.


"Kita pesan aja ya!" Lendra hanya mengangguk.


"Gimana kamu sudah menemukan Tania?" tanya Vania yang kini sudah tenang dan duduk di sebelah Rafa. Sejak tadi hanya ada keheningan di antara keduanya, Rafa sedikit kecewa dengan sifat Vania dan Vania sadar akan hal itu, ia memilih diam dan memcoba untuk mencari topik pembicaraan karena ia sendiri pun tidak tahan dengan keheningan ini.


"Aku belum mencari keberadaan Tania!"


"Kenapa?" tanya Vania yang langsung berdiri dari sofa yang di dudukinya dan emosinya tampaknya kembali memuncak mendengar jawaban Rafa, Rafa justru hanya dapat menghela nafasnya panjang.


"Kamu niat ngk sih nyariin Tania? Kamu yang nyuruh aku dan mama buat tidak ikut tapi malah kamu ngk ada mencari Tania, kamu peduli ngk sih sama Tania?" omel Vania.


"Kamu lihat kondisi aku dulu!" ujar Rafa, Vania justru memalingkan wajahnya dari lelaki itu dan memilih untuk pergi meninggalkan Rafa.


Rafa hanya dapat menghembuskan nafasnya kembali. Ia tidak dapat berbuat apa apa, untuk membujuk Vania, ia tidak ada kemampuan untuk mengejar wanita itu. Ia hanya bisa berdiam diri di atas sofa yang di dudukinya.


"Kenapa sih sifat kamu ngk berubah Vania?" gumam Rafa dengan mengacak acak rambutnya.


Badan yang masih terasa sakit, kini fikiranya harus di bebani dengan memikirkan Vania yang marah padanya tampa mendengar dulu alasan dan penjelasan darinya. Vania memang selalu mengedepankan egonya, tak hanya itu Rafa juga masih memikirkan mengapa Safar tidak menemuinya di taman, tidak biasanya pria itu seperti itu, ada apa denganya, pikir Rafa.

__ADS_1


__ADS_2