Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 22 - Foto Tania


__ADS_3

Evandi, Rusdi dan Sari kini sudah berada di dalam rumah Evandi. Sari yang langsung kembali merapikan seluruh barang bawaan mereka dari rumah sakit sedangkan Rusdi membawa sahabatnya itu kedalam kamarnya.


"Loh lihat foto ini!" ujar Rusdi yang kini keduanya sedang berhadapan dengan sebuah foto yang terletak di atas meja. Foto itu berisikan foto dirinya, Evandi dan Lendra yang berada di sebuah danau.


"Itu gue?" ucap Evandi memegang bingkai foto itu.


"Iya, itu bukti kalau kita memang bersahabat dan sebagai sahabat loh, gue akan terus ada buat loh sampai loh kembali mengingat semuanya!"


"Lalu siapa pria yang ini?" tanya Evandi menunjuk pada wajah Lendra yang berada di tengah keduanya.


"Dia Lendra, sahabat sekaligus bos tempat kita bekerja!"


"Kenapa dia ngk jenguk gue?" tanya Evandi yang kini menatap wajah Rusdi.


"Pagi sebelum kejadian loh, dia sedang melangsungkan pernikahaannya dan paginya dia masih menyempatkan diri bukan menjenguk loh dan gue yang nyuruh dia buat pulang!" dari penjelasaan Rusdi itu, Evandi hanya beroh saja.


Dia juga menatap sekitar kamarnya, tampak banyak foto dirinya terpajang bersama Rusdi dan Evandi.


"Loh istirahat aja dulu, Gue mau kekantor banyak hal yang harus gue kerjakan!" dan Evandi hanya tersenyum.


Evandi yang hanya sendiri di dalam kamarnya memperhatikan setiap sudut ruangan, ia memang tidak merasa asing dengan kamar ini tapi ia juga tidak dapat mengingat apa pun hal tentang kamar ini.


Ia membuka lemari besar yang ada di dalam kamarnya dan melihat banyaknya foto wanita di dalam lemari itu. Satu foto di lepasnya dari dalam lemari itu dan melihat foto itu dengan teliti.


"Siapa wanita ini?" pikir Evandi.


Jika di hitung mungkin saja gambar wanita ini di dalam lemarinya lebih dari tiga puluh lima dan ia juga menemukan sebuah album di dalam laci mejanya yang berisikan banyak foto wanita yang sama di dalam lemarinya.


Berbagai pertanyaan semakin muncul di benaknya, siapa wanita ini?, mengapa ia terlalu banyak menyimpan fotonya?, apakah ia memiliki hubungan yang spesial dengan wanita ini?. Terus saja Evandi menatap foto Tania yang di simpanya sejak lama.


Tak sengaja Evandi menemukan secarik kertas yang tersusun rapi di selipan album itu, dari tulisan dan bentuk kertasnya sepertinya tulisan ini sudah tertulis sejak lama.


Dalam kelam

__ADS_1


Terdapat wajah mu di dalam mimpiku


Terlintas bayangan mu di benak ku


Tersebut nama mu di dalam


Panjatan tangan yang


Selalu ku adahkan di atas langit


Bersama ayat ayat yang aku cantumkan.


Agar nama mu


Cepat di jabah Tuhan


Dalam permintaan do'a


Yang selalu ku lantunkan setiap harinya.


Evandi juga melihat handphonenya yang terletak di atas kasur, ia membuka ponsel dan untungnya saja ponselnya tidak memiliki kata sandi. Satu persatu aplikasi di bukanya dan jarinya kini menyentuh galeri yang ada di dalam benda itu. Hal yang sama kembali di lihatnya, ia melihat adanya foto wanita itu lagi di dalam galerinya. Ada apa sebenarnya dengan wanita ini?, pikirnya.


"Maaf Raf, Bapak sebenarnya sedikit penasaraan kenapa semalam kamu babak belur begitu di tengah jalan?" tanya Vandir setelah semuanya selesai sarapan.


"Saya lagi mencari Tania, Pak, sepupu Vania, dia menghilang di acara pernikahaanya karena di madu oleh suaminya!" jawab Rafa sembari mengusapkan tisu di mulutnya.


"Maksud gimana atuh? Kabur di hari pernikahaannya karena di madu suaminya?" ucap Nadya mengulang perkataaan Rafa sepertinya wanita ini sedikit binggung pada pembicaraan Rafa.


"Iya suaminya memadukanya di hari pernikahaanya!" balas Vania.


"Kasihan sekali! Harusnya di hari pernikahaannya itu adalah momen bahagia baginya kini malah sebaliknya!" ucap Nadya seakan ia mengerti perasaan Tania.


"Sekarang kita lagi berusaha untuk mencari keberadaan Tania!"

__ADS_1


"Kalau begitu biar kami bantu, Nak, Bapakan punya banyak kenalan di sini jadi, Bapak bisa minta tolong ke mereka jika menemukan sosok wanita itu agar menghubungi Bapak!"


"Kami jadi banyak ngerepoti Bapak nantinya!" Vania.


"Tidak kok, kami dengan senang hati membantunya!" Vandir.


"Nanti kamu dan Rafa cetak saja foto Tania sebanyak mungkin biar nanti saya bantu buat bagiin kewarga barang kali mereka pernah melihat Tania!"


Mendengar Safania sedang berada di rumahnya, Lendra semakin mempercepat langkahnya untuk menemui wanita itu.


"Safania!" ujar Lendra dengan mata penuh binar ketika ia sudah berada di meja makan. Tania yang melihat aksi suaminya itu berusaha untuk bersikap acuh dan seakan tidak peduli, ia memilih untuk mendudukan bokongnya dan menyendokan nasi untuk adik iparnya yang juga sudah duduk di sebelahnya.


"Kak, ayok makan!" ajak Naila yang juga tidak menyukai sikap kakaknya itu.


"Safania ayok makan!" ajak Lendra menarik pergelangan tangan Safania dan mendudukan Safania di sebelah kursi tempatnya duduk.


"Mama sudah ngk selera makan!" murka Liora membanting sendok yang di pegangnya di atas meja dan pergi meninggalkan meja makan.


"Tania, kamu ngk boleh cemburu biar bagaimana pun wanita itu tetaplah istri mas Lendra, kamu hanya pihak pertama yang tidak di anggap oleh suami mu!" gumam Vania membendung air mata yang akan membasahi wajahnya. Ia benar benar cemburu melihat Lendra yang memperlakukan Safania begitu hangat, apalagi ketika Lendra mengambil nasi dan memberikan lauk pada wanita itu di hadapanya.


"Naila juga ngk selera makan!" ketus Naila ikut meninggalkan ruang makan dan mengejar mamanya karena Lendra sepertinya hanya menganggap jika ia hanya makan berdua dengan Safania.


"Kalau begini Papa mending ikut Mama kamu!" timbal Delino ikut meninggalkan meja makan.


Tania masih tetap tenang di kursinya dan melahap makananya dengan santai, ia benar benar pandai menutupi kesedihanya. Tatapan Safania dan Lendra kini tertuju padanya, pasangan sejoli ini berharap agar Tania juga mengatakan hal yang sama dengan orang tuanya.


"Kamu masih mau ikut makan?" tanya Safania.


"Masih, aku belum kenyang!" jawab Tania dengan enteng.


Mendengar respon Tania yang tampak biasa saja, Lendra kembali memamerkan adegan romantisnya dengan menyuapi Safania. Air matanya kini semakin sulit untuk di bendung tetapi jika ia menampakan hal itu di hadapan keduanya hanya akan memperlihatkan jika ia adalah wanita lemah, dan akan di anggap remeh oleh Lendra.


"Tuhan akankah aku sanggup melihat suami ku bermesraan dengan madu ku?" gumam Tania.

__ADS_1


"Kak, Kakak ngapain masih di sini? Ayok pergi!" ujar Naila yang kini kembali menghampiri meja makan dan menarik pergelangaan tangan Tania agar meninggalkan tempat ini. Untung saja Naila cepat menghampirinya jika tidak, maka keduanya akan menertawakannya karena telah menangis.


__ADS_2