
"Naila!" panggil Rusdi. Naila mengarahkan pandanganya pada sumber suara yang menyebut namanya itu. Rusdi, sahabat kakaknya itu kini menghampirinya yang masih berada di kantin kantor.
"Ada apa Kak?" tanya Naila dengan wajah datarnya.
"Kenapa tuh muka?" tanya Rusdi.
"Tau deh!" jawab Naila yang langsung meninggalkan Rusdi yang sudah duduk di kursi yang ada di depanya.
"Adek, sama kakak sama aja!" kesal Rusdi yang melihat Naila sudah menjauh darinya dan ia harus mengejar Naila yang tidak tau akan kemana, jika ia membiarkan Naila pergi dan sesuatu buruk terjadi pada gadis itu, maka ia yang akan di marahi oleh Lendra karena Naila adalah adik kesayangan Lendra.
"Naila!" panggil Rusdi dan Naila menghentikan langkahnya sejenak dan menatap lelaki itu dengan malas.
"Apa Kak Rusdi?"
"Kamu mau kemana?" tanya Rusdi yang sudah berdiri di hadapan Naila.
"Pulang!" singkatnya.
"Yaudah hayuk Kakak anter!" jawab Rusdi yang sudah berjalan lebih dulu dari Naila.
Karena kondisi Rafa yang masih belum memungkinkan untuk kembali melakukan pencarian keberadaan Tania, Vania dan Nadya membawa Rafa pulang kerumah Vania. Sedangkan Nadya pulang kerumah bersama Vandir yang sudah menjemputnya di rumah Vania. Vania menyuruh Rafa untuk menginap di rumahnya karena jika pria ini berada di rumahnya, nanti tidak ada yang mengurusnya, ia tidak rela jika membiarkan Rafa di rawat oleh Nadya karena jarak rumah Nadya dan Rafa tidak terlalu jauh.
"Rafa kenapa Vania?" tanya Tifani yang baru saja muncul di hadapan keduanya bersama Narsi.
"Tadi ada kecelakaan kecil Ma!" balas Vania yang masih membantu Rafa untuk duduk di sofa yang berada di depan tv.
"Bagaimana Tania?"
"Kita belum ketemu sama Tania, Ma tapi tadi kita sudah bertemu dengan teman lelaki yang menikahi Tania dan dia berjanji untuk membantu kita mencari Tania, dia juga kasih kartu namanya ke aku, Ma, katanya kalau ada sesuatu hubungi dia saja!"
"Ya sudah kalau gitu kamu hubungi dia dan tanyakan kabar Tania, kalau tidak di tanya, nanti dia akan mengabaikan pencarian Tania!" ucap Tifani antusias. Vania langsung menatap wajah Rafa seakan ia meminta izin pada kekasihnya itu untuk berkomunikasi pada pria itu walau hanya jalur online dan Rafa hanya mengangguk, ia paham dengan kondisi dan maksud Vania sekarang.
Karena sudah mendapat izin dari Rafa, Vania segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi nomor yang ada di kartu nama Rusdi.
"Kok berhenti?" tanya Naila karena secara mendadak Rusdi menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
"Bentar ada telpon masuk!" jawab Rusdi sembari merogoh sakunya dan mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan yang masuk kedalam handphonenya.
"Siapa?" tanya Rusdi dingin.
"Saya Vania, pacar orang kamu tabrak tadi!" jawab Vania melalui sambungan udara yang sudah terhubung.
"Gimana pencarian Tania?"
"Saya akan mencarinya secepatnya!" balas Rusdi yang langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.
"Siapa Kak?" tanya Naila yang sejak tadi ternyata menguping pembicaraan Rusdi via telpon.
"Apa aku tanya saja pada Nadya?" gumam Rusdi memandang wajah Naila cukup lama. Ia takut jika hal ini belum di ketahui oleh Naila dan keluarganya, jika ia menanyakanya sama saja ia sedang memberitahu Naila dan Lendra akan marah besar padanya.
"Apaan sih ngelihati Naila kayak gitu!" kesal Naila yang langsung mengalihkan penglihatan dari wajah Rusdi kearah jalanan karena jujur ia merasa risih di tatap oleh Rusdi seperti itu.
"Hmmm, Kakak kamu di rumah? Naila jutek.
"Kamu taukan kalau kakak kami sudah menikah?"
"Kak Tania di rumah?" tanya Rusdi.
"Kenapa Kakak suka sama kakak ipar aku?" tanya Naila sewot dan langsung menatap wajah Rusdi dengan tajam karena ia sudah lebih dulu berperang sangka buruk pada sahabat kakaknya itu.
"Kakak cuma nanya doang Nai!" ujar Rusdj menyingkirkan wajah Naila yang sangat dekat denganya itu.
"Buat apa Kakak nanya gitu?"
Rusdi hanya terdiam mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Naila, tidak mungkin ia menceritakan pada Naila, jika Tania kabur di acara pernikahaanya dan sebenarnya ia juga ingin menanyakan kenapa Tania sudah berada di rumah Lendra, tapi jika ia menanyakan hal itu, sama saja ia sedang membongkar kejahatan Lendra pada adiknya, itu sudah keterlaluan. Biarlah Naila berfikir buruk tentangnya dari pada nanti Lendra harus di marahi oleh keluarganya.
"Kak Rusdi!" teriak Naila melihat Rusdi yang mengabaikan dirinya.
"Apa Naila?" tanya Rusdi dengan malas.
"Lepasin!" teriak Tania yang kini sudah berada di dalam mobil Preman itu dan duduk di kursi deretan kedua mobil. Tubuh Tania di apit oleh kedua tubuh Preman beg*s itu dan tangan terus saja di cengkram dengan kuat.
__ADS_1
"Diam kamu!" bentak Preman itu membungkam mulut Tania mengunakan telapak tangan. Bukannya diam, Tania justru semakin memberontak dan terus berteriak, walau tidak ada seorang pun yang mendengar teriakanya itu, bahkan ia sesekali mengigit tangan Preman yang menghalangi mulutnya.
"Gimana aku bisa lepas dari mereka?" gumam Tania dengan tubuh yang terus bergerak, agar kedua Preman itu lelah memegangi tubuhnya.
"Ya Allah bantulah hamba mu ini!" gumam Tania yang kini mulai merasa lelah, namunĀ Preman itu malah semakin menguatkan cengkramanya. Kini hanya air mata yang dapat mengalir dari wajahnya, ia sudah tidak dapat melakukan perlawanan dan bahkan mulutnya saja sudah di tutup oleh lakban hitam, agar tidak terus bersuara.
Mobil yang di kendaraai oleh Lendra secara tidak sengaja melewati mobil Preman yang membawa kabur istrinya. Lendra mengendarai mobil dengan santai dan begitu menikmati pemandangan yang di laluinya, mobil Preman itu berada di sebelah kiri, sedangkan pandangan Lendra terus mengarah pada arah kanan yang banyak menampakan perumahan elit.
"Apa aku ajak Safania saja ya untuk nemeni makan, enggak enak juga makan sendiri, sekalian minta maaf sama dia kejadian tadi, apalagi sikap mama yang seperti itu, iya aku harus ajak Safania!" gumam Lendra sembari mengambil ponselnya yang berada tak jauh darinya.
"Hallo Sayang!" jawab Safania yang langsung mengangkat telpon darinya.
"Kamu masih marah sama aku?"
"Ngk buat apa aku marah?"
"Kirain kamu marah karena kejadian dj rumah tadi, aku minta maaf ya!"
"Ngk kok santai saja!"
"Temeni aku makan yok!"
"Tapi habis itu kita belanja ya!"
"Boleh, aku jemput di mana nih?"
"Tempat biasa!"
"Tania sudah sampai belum ya kekantor Lendra?" gumam Liora yang mulai merasa khawatir pada menantunya, ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Tania.
Tania merasakan getaran di sakunya, ia menatap wajah Preman culas itu, pasti kedua Preman itu tidak mendengar ponselnya berdering karena handphone Tania tidak memiliki nada dering dan kedua Preman ini juga sudah tertidur karena Tania yang kini sudah diam dan tidak lagi melakukan pemberontakan, tetapi tangan Tania sudah di ikat dahulu oleh keduanya.
Tania mengintip nama orang yang menelponya dan ia melihat dari layar ponselnya. Mertuanya sudah menelponya pasti Liora akan menanyakan dirinya, jika ia mengangkat telponnya, maka kedua Preman ini akan bangun, jika mereka bangun hanya membuat tubuhnya sakit karena gengaman mereka yang sangat kuat.Tania mengunakan tangan yang di ikat Preman itu berusaha mengetikan beberapa kalimat pada Liora untuk memberitahukan pada Liora bahwa ia sedang di bawa kabur oleh Preman, tak lupa Tania juga mengshare lokasinya saat ini.
"Pa, Tania, Pa!" teriak Liora yang langsung menghampiri Delino di ruang kekuarga yang sedang menonton tv.
__ADS_1
"Ada apa Ma?" tanya Delino santai dengan tangan yang masih memegang remote dan mata yang masih terfokus pada layar televisi.