Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 89- Menjadi istri resmi


__ADS_3

Brugghhhh. Kepala Tania terjedut kepintu, saat ia akan keluar dari kamarnya karena tiba tiba saja Lendra membuka pintu kamar yang tidak di kunci. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Lendra masuk berjalan dengan sempoyongan.


"Mas!" lirih Tania ternyata, apa yang di lihatnya di handphonenya semuanya benar. Suaminya pasti habis bermabuk mabukan bersama wanita yang ada dalam foto itu. Tak perlu lagi mendengar ucapan mau pun alasan Lendra. Apa yang sudah di lihatnya, di rasanya sudah cukup dan tidak perlu pembuktian lagi. Suaminya benar benar sudah berkhianat di belakangnya. Sudah saat untuknya agar segera berpamitan dengan Lendra dan mengakhiri rumah tangganya yang selalu berujung tangis.


Belum sempat berkata kata, Lendra sudah mendorong tubuh Tania hingga keranjang dan membuang koper yang di pegang istrinya kesembarang arah. Tania untuk menatap Lendra saja ia sudah merasakan takut karena tetapan Lendra yang begitu tajam.


"Mas awas aku mau pergi, kita akhirin saja pernikahaan kita. Aku sudah tidak sanggup!" ucap Tania berusaha mendorong dada Lendra yang berada di hadapanya. Posisi Tania saat ini sudah tertidur di atas kasur dan tubuh Lendra yang berada di atasnya.


"Aku butuh kamu!" ujar Lendra mengelus leher Tania penuh gairah. Tania berulang kali menyingkirkannya namun, Lendra justru semakin memegang bagian sens*tif di tubuhnya. Tania tidak tau harus berbuat apa. Menolak atau menerima ajakan suaminya ini. Bagaimana pun ia masih istri sah Lendra dan Lendra berhak untuk mendapatkan itu darinya. Hati wanita mana yang kuat dan siap melayani suaminya dalam keadaan seperti ini, apalagi ia yang mengetahui suaminya baru saja melakukan hal yang sama dengan wanita lain di belakangnya.


Tidak, Tania menolak ajakan Lendra karena keputusannya untuk berpisah dengan Lendra sudah bulat jika, hal ini terjadi maka kemungkinan ia akan mendapatkan keturunan dan niatnya pun akan terurungkan. Ia tidak ingin itu terjadi.


"Biarkan aku menikmati tu*uh mu!" ucap Lendra mulai ******* bagian bibir Tania hingga Tania tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menolaknya bahkan Lendra juga menahan tubuh Tania agar wanita ini tidak melakukan pemberontakan padanya.

__ADS_1


"Mas, Lepaskan aku, aku ingin kita berpisah, kamu sudah bermain wanita lain di belakang aku. Aku fikir hanya Safania yang menjadi orang ketiga di hubungan kita ternyata, ada wanita lain yang kamu sembunyikan dari kita, aku benar benar kecewa sama kamu, Mas!" ucap Tania dengan tangisanya setelah mulut Lendra terlepas dari b*b*nya.


Lendra tidak menghiraukan kalimat yang keluar dari mulut Tania. Ia terus melakukan aksinya. Obat perangsang yang di berikan Aleta sudah sangat merangsang. Lendra tidak dapat menahan nafsunya. Gairahnya sudah memuncak dan ia sudah tidak dapat menahan. Hanya Tania yang dapat melepaskan apa yang di rasanya.


Entah keimanan dan amalan apa yang di lakukan Lendra hingga saat orang lain sudah menjebaknya seperti ini yang kuasa masih berpihak padanya membiarkanya untuk melepaskan hasratnya pada seorang yang sudah menjadi mahromnya bukan pada wanita mal*m yang baru saja temuinya.


Malam itu hubungan suami istri antara Lendra dan Tania benar benar terjadi seperti yang di harapkan  oleh orang tua Lendra. Seperti pernikahaanya hubungan in*im itu juga berlangsung secara paksa bahkan di bawah alam sadar Lendra. Mulut Tania yang terus mengurutuk di buat terbungkam oleh Lendra agar wanita ini tidak terus melanjutkan ucapanya dan menikmati sentuhan yang di hasilkannya.


Lendra begitu menikmatinya sedangkan Tania masih hanya dapat menangis menerima seperti ini. Ia memang mengharapkan hubungan suami istri yang sesungguhnya dengan Lendra tapi, tidak dengan cara seperti ini.


Di pandanganya wajah tenang milik suaminya. Wajahnya sangat mulus tidak di temukanya sedikit bekas luka. Wajahnya terlihat sangat putih, tampanya juga bak seorang Arjuna. Benar benar lelaki sempurna yang menjadi idaman setiap wanita jika belum mengetahui sifat Lendra yang sesungguhnya. Emosinya yang tadinya memuncak seketika mereda melihat ketampanan suaminya, lagian tidak ada salahnya Lendra melakukan hal ini padanya karena ini sudah sudah menjadi haknya.


Belum turun dari ranjang, handphone milik Lendra sudah berulang kali berbunyi dan seperti sebelumnya Tania hanya membiarkannya karena ia sudah tau siapa orang yang menghubungi suaminya.

__ADS_1


Tania merasakan sakit yang sangat terasa di bagian punggungnya saat ia ingin turun dari ranjang. Baru satu satu langkah ia berjalan, ************ juga terasa perih. Ia kembali mendudukan bokongnya di atas ranjang dan tetap berusaha untuk berjalan kearah kamar mandi.


Aaaaaaaaa.


Tania berteriak dengan kencang. Sakitnya benar benar tidak dapat tertahankanya. Rasanya perih dan pedih. Apakah ini yang di rasakan  setiap wanita pada malam pertama. Rasa sakitnya lebih dari ekpetasinya.


Masih dalam keadaan ngantuk berat. Lendra menyempatkan menatap Tania dengan matanya menyepit lalu, ia kembali bertidur dan Tania dapat kembali bernafas lega. Jika saja Lendra benar benar tersadar karena mendengar teriakan tidak berbobot seperti ini.


Tania menyadari statusnya saat ini,. Ia harus mengakhiri masa gadisnya dan menjalankan tugasnya sebagai seorang wanita yang sudah memiliki suami.


"Sakit banget!" lirih Tania merendahkan volume suaranya agar tidak terdengar oleh Lendra. Dirinya yang terlalu alay atau lebai hingga ia berteriak sepertinya ini, Bukanya hal seperti ini seharusnya juga baiasa terjadi pada hubungan suami istri yang sesungguhnya dan harusnya Tania ikut merasakan senang akhirnya, hal itu terjadi.


Tak lama setelah terdiam di atas ranjangnya, handphone miliknya berbunyi. Tania melihat benda itu dari kejauhan karena letak ponselnya yang berada di atas meja sedangkan ia masih di atas kasur dan sulit untuk bergerak. Dari tempatnya Tania dapat melihat nama seseorang yang menghubunginya namun, ia sangat sulit untuk menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Gimana Nayla, apakah Tania sudah mengangkat telponya?" tanya Liora. Vania, Naila dan Delino beserta istrinya sudah berkumpul di ruangan tengah yang berada di rumah Lendra. semalaman Naila tidak dapat tertidur dengan pulas. Liora jangankan untuk tertidur matanya saja tidak terpejam membayangkan kejahatan yang di lakukan anaknya. Ia sebagai seorang ibu merasa gagal membina dan mengarahkan Lendra hingga ia dapat berbuat hal seperti ini.


Naila hanya mengeleng. Matanya tampak membengkK, wajahnya terlihat sembab mungkin karena semalamam menangis. Rusdi, ia malam itu harus pulang karena ia tidak ingin menimbulkan fitnah dengan ia menginap di rumah Lendra saat ada dua orang gadis di rumah sahabat dan pagi ini belum sampai di rumah Lendra.


__ADS_2