
Lendra memperhatikan sekitaran pekarangan rumah sakit. Ia tidak menemukan keberadaan mobilnya. Pak supir belum menjempitnya atau bagaimana. Lelaki itu semakin di buat terkejut saat Tania menghentikan sebuah taksi yang sedang melintas di hadapan mereka. Tania membukakan pintu agar Lendra segera masuk tetapi, Lendra justru menutupnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah naik taksi atau sejenis. Ia selalu mengunakan mobil pribadi miliknya atau pun jika mengalami musibah di jalan ia akan di jemput supir atau teman tamanya.
"Lanjut Pak!" tampa persetujuan dari Tania, supir taksi itu segera melajukan mobil yang di kendarainya menjauh dari sepasang kekasih itu setelah Lendra memberikan dua lembar uang ratusan yang di anggap cukup untuk membayar taksi itu.
"Mas kenapa kamu menyuruhnya pergi?"
"Aku tidak terbiasa naik taksi!"
__ADS_1
"Terus sekarang kita pulang naik apa?"
"Aku bisa suruh supir buat jemput kita, aku juga bisa hubungin bawahan aku buat datang kesini. Kamu ngk perlu khawatir, alu punya banyak kenalan!" ujar Lendra santai. Ia mulai merogoh saku celananya untuk menghubungi orang orang yang dapat mengantarkanya pulang.
"Mas fasilitas kamu itu sudah di tarik papa semua. Seharusnya mulai dari sekarang kamu belajar hemat dan tidak menyalah gunakan keuangan. Kamu juga harus tau Mas, kamu sudah tidak memiliki bawahan mau pun karyawan. Dua teman kamu itu bukan lagi suruhan kamu karena kamu sudah tidak memiliki jabatan apa pun. Posisi kalian sekarang sama dan bahkan mereka lebih tinggi dari kamu, mereka masih berada di perusahaan sedangkan kamu sudah di keluarkan. Buang sifat sombong kamu, Mas!" ujar Tania setelah menghembuskan nafas kekesalanya. Sudah dalam keadaan seperti ini pun suaminya masih sempat sempatnya memilih. Sekarang mereka harus menunggu taksi lagi lewat.
"Maksud kamu apa Tania?, apa kamu juga ingin meninggalkan ku karena semua aset ku di tarik Papa?, kamu sama saja seperti Safania tidak ada bedanya lebih parahnya lagi kamu bermuka dua!" ucap Lendra dengan tajam.
__ADS_1
Dengan langkah malasnya Lendra mengikutinya dari belakang. Untuk pertama kalinya ucapan Tania terdengar sangat menyakitkan tapi apa yang di kata istrinya benar. Sekarang ia sudah tidak memiliki apa apa. Cukup jauh keduanya berjalan tak ada taksi yang kunjung lewat. Tania mendudukan bokongnya di halte untuk beristirahat sejenak. Lendra hanya berdiri di sebelah Tania. Sejak tadi ia menyapukan seluruh pandanganya kearah jalanan benar benar tidak ada lagi angkutan yang lewat. Tal sengaja Tania memandang sejenak wajah suaminya. Perasaan bersalah mulai menyelimutinya, ia terlalu jahat membiarkan Lendra mendorong kursi rodanya sendiri.
"Gimana Mas kamu masih kuat?" tanya Tania memastikan. Lendra langsung memutarkan pandanganya menoleh pqda Tania dan mengelengkan kepalamya dengan cepat. Tania menarik singgung bibirnya hingga timbullah senyum miring di bibirnya. Suaminta terlalu gengsi untuk mengakui kekuranganya.
"Gimana kamu sudah menghubungi bawahan kamu untuk menjemput kita?, Tania sudah capek nih Mas!" sindir Tania yang kini sudah berada di belakang kursi roda Lendra. Lelaki itu hanya mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Angkot!" teriak Tania menghentikan angkot yang melintas di hadapan mereka. Untuk kedua kalianya Lendra hampir saja menyuruhnya pergi tapi, Tania juga tak kalah cepat dari suaminya. Ia langsung menurunkan tangan Lendra dan memonta supir angkot untuk membantu membopong Lendra masuk kedalam angkot. Tania harus benar benar memperhatikan suaminya karena Lendra langsung duduk di kursi angkot sedangkan kursi rodanya di lipat oleh supir.
__ADS_1
Angkot belum bergerak Lendra mulai merasa gerah apalagi jarak rumah orang tuanya dengan rumah sakit lumayan jauh, ia tidak mungkin betah berlama lama di tempat ini. Udaranya yang sangat tidak cocok di indra penciumanya. Lelaki itu sudah berulang kali menarik ujung baju Tania mengajak gadis itu agar segera keluar dari dalam angkot dan mencari angkutan lainya.
Tania menyadarinya, ia hanya berpura pura tidak tau tapi ia juga tidak dapat mempungkiri senyumnya, ia terlihat bahagia melihat ekpresi Lendra yang sudah seperti anak kecil.