
"Kak, Kakak beneran mau pergi?, Naila bakal tinggal di rumah ini sendiri lagi?" Naila berdiri di sebelah Lendra yang sedang mengeluarkan pakaianya dari dalam lemari sedangkan Tania memasukanya kedalam koper.
"Nanti kamu boleh kok main kerumah Kakak tapi ya maaf rumah Kakak ngk bakal sebesar rumah papa mau pun rumah Kakak yang sebelumnya. Sekarang Kakak akan mulai kehidupan dari nol seperti Mama dan Papa dahulu awal menikah!" ujar Lendra lembut mengengam kedua tangan adiknya lalu mengecup kening Naila penuh kasih sayang kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Kak Tania tolong bujukin kak Lendra biar jangan keluar dari rumah ini nanti kalau Kakak keluar terus siapa kawan Naila main. Naila ngk suka sepi!" bujuk Naila yang kini sudah berada di sebelah Tania yang berada di tepi ranjang.
"Kakak minta maaf ya Sayang, Kakak ngk bisa bujuk Kakak kamu karena ini sudah keputusan Papa!" balas Tania.
"Tapi Naila ngk mau kesepian Kak!"
"Naila ngk bakal kesepian kok ada Mama ada Papa, Naila juga bisakan ajak teman teman Naila main kesini. Kak Rusdi, Kak Evandikan sering main kesini dan nanti kalau mereka datang kerumah pasti kak Lendra bakal nyuruh mereka buat ajak kamu main biar kamu ngk kesepian!" ucap Tania memasang suara kekanak kanaknya dan mencolek ujung hidung adik iparnya dengan emas.
"Naila pasti bakal rindu sama Kakak!" ujarnya lagi yang langsung memeluk pinggang Tania.
"Naila akrab banget sama Tania beda banget kalau lagi Safania. Apa ini sebenarnya ini petunjuk dari Allah kalau orang yang setja menemani ku adalah istri yang selalu ku sakiti hatinya. Tuhan enggkau sudah mempercayakan Tania sebagai istri ku berarti engkau sudah menganggap Tania adalah yang terbaik bagi ku maka, jadikan aku juga sebagai pasangan terbaik untuk. Jangan biarkan perpisahaan yang terjadi di rumah tangga hamba!" gumam Lendra menatap Naila yang berada dalam dekapan istrinya dan Tania juga tampak mengelus kepala Naila.
"Nai, Kakak haus tolong ambilkan minum dong!" Lendra.
"Biar aku saja yang ambilkan Mas!" ucap Tania melepas pelukanya dan segera beranjak.
"Tidak usah Kak, Naila saja!"
"Mas Lendra suami Kakak jadi, biarkan Kakak merawatnya!" kekeh Tania.
"Tania biar Naila saja yang mengambilnya aku ingin bicara berdua dengan mu!" ujar Lendra yang berhasil menghentikan Tania dan kini gadis itu sudah berada di sebelah suaminya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Mas?" tanya Tania setelah Naila meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
Lendra hanya menatap Tania dengan tatapan kosongnya. Tania semakin di buat penasaran apa yang sebenarnya ingin di katakan suaminya hingga menyuruh adiknya keluar. Lelaki itu kemudian tersenyum manis. Tania di buat binggung olehnya.
__ADS_1
"Kamu ingin bicara apa Mas?"
Cuppp
Untuk yang kedua kalinya Lendra berhasil mencium pipi Tania dalam hitungan detik wajah Tania berubah menjadi merah jambu bahkan gadis itu memegangi wajahnya yang tercium oleh suaminya. Reflek terkejut menjadi satu dalam diri wanita muda itu.
"Kamh cantik!"
Belum selesai menyakinkan dirinya bahwa Lendra melakukan hal ini dengan sengaja atau bukan kini Lendra memujinya dan langsung memeluk tubuhnya dengan manja. Ia juga menyembunyikan wajahnya di bagian perut Tania.
"Mas!" risih Tania. Ia takut Naila tiba tiba muncul atau mertuanya sedang lewat depan kamar mereka karena pintu memang tidak di kunci. Lendra menyadari ketidak nyamanan Tania, ia malah semakin menguatkan pelukamya dan mencium pipi Tania berulang kali.
"Mas!"
"Aku suami kamu Tania!"
"Ngk enak Mas di lihati orang entar!"
"Upsss!"
Naila yang sudah berada di depan pintu kamar mereka langsung menutup kedua matanya mengunakan telapak tanganya namun, ibu jari sedikit renggang dengan jarinya yang lain sehingga ia masih dapat melihat yang di lakukan oleh kakaknya.
Tania semakin merasa tidak enak, Lendra malah semakin menunjukan keromamtisanya pada adiknya. Cukup lama menunggun namun, Lendra tetap saja tidak melepaskan kakak ipar. Tidak menunggu lama lagi Tania menghampiru keduanya dan menyerahkan gelasnya pada Lendra.
Betapa kesalnya gadis mungil itu karena Lendra memintanya untuk meletakanya di atas meja saja. Tania sudah berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya namun, Lendra tidak sedikit pun memberikan celah agar ia dapat keluar.
Lama melihat hal seperti ini membuat Naila merasa muak. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan dua sejoli ini. Egoisnya Lendra mencekram tanganya, alhasil Naila tidak dapat melangkah. Ia hanya dapat menghela nafasnya entah apa yang sedang di rencanakan kakaknya. Tania menatap wajah suaminya penuh tanda tanya.
"Mau kemana sih Dek?" goda Lendra menaikan sebelah alisnya membuat Naila semakin geli dengan sikap kakaknya.
__ADS_1
"Apaan sih Kak?, ganjen banget!" kesal Naila memaksakan tanganya lepas dari gengaman pria itu. Mendengar kalimat tidak senonoh keluar dari mulut adiknya Lendra tampa sadar melepaskan cengkraman tanganya hal itu di manfaatkan Naila untuk kabur.
"Naila awas kamu ya tidak sopan bicara dengan Kakak!" teriak Lendra kesal. Ia ingin mengejar adiknya namun, kondisinya sudah tidak memungkinkan karena Naila juga melewati pintu kamarnya. Pandangan Lendra kembali menoleh kearah belakang dan ia langsung di hadiahi tatapan tajam dari Tania.
"Mas tidak baik kamu seperti itu pada Naila. Dia adik kamu Mas, sikap kamu tadi sudab berlebihan dan aku tidak mau kamu meluk meluk aku seperti tadi di depan orang termasuk Naila!" peringat Tania dengan tegas tetapi, Lendra terlihat abai mendengarnya.
"Mas kamu dengerin aku ngk sih?" kesal Tania menarik ujung telinga kanan suaminya.
"Tania sakit!" ringis Lendra.
"Makanya kalau istri ngomong itu di dengar!" ujar Tania tepat di telinga Lendra.
"Makanya kalau suami itu lagi manja di layanin bukanya malah di ceramahi nanti giliran suamimya tergoda sama wanita lain yang di salahin lakinya!"
"Apaan sih Mas ngk jelas banget!" ucap Tania malu malu dan membuang arah pandanganya dari lelaki itu.
"Tan!"
"Apaan?"
"Gitu banget sama suami?"
"Apa suami ganteng ku?, manja ku?" ucap Tania berjongkok di hadapan Lendra agar menyamakan posisi keduanya dan mensejajarkan ketinggian keduanya.
"Boleh peluk lagi ngk?"
"Ngk!" singkat Tania sembari menoyor kepala suaminya.
"Tania!" panggil Lendra manja.
__ADS_1
"Apa suami ku?" tanyabTania dengan suara di buat imut dan ia juga memeluk bagian leher suaminya. Senyum lebar mengembang dari bibir pria itu akhirnya ia dapat merasakan pelukan Tania tampa harus lebih dulu memeluknya.
Biar pun terlihat jaim Tania sebenarnya juga merasakan kebahagian yang sebeluknya tidak pernah di dapatnya. Istri mana pun pasti akan merasakan senang bila di perlakukan manja oleh suaminya.