
Lendra yang kini hanya seorang diri di dalam ruanganya mulai merasa jenuh, tak ada kawan bicaranya, tidak ada yang menemaninya, ia benar benar sendiri, tidak ada orang yang dapat di jadikanya lawan bicara. Inikah yang dinamakan sendiri?. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan tak di temukanya tanda tanda seseoeang akan menghampirinya. Di pandangnya selang infus, pikiranya memutuskan untuk melepas perban yang melekat di tanganya namun, belum sempat itu terlepas ia memandangi kakinya yang di balut oleh selimut. Di buka sedikit dari selimut itu, di paksakanya kakinya bergerak tetapi, tetap saja tidak ada perubahaan. Kakinya benar benar tidak dapat di gerakan.
Bukan sekali ia mencobanya namun, tetap saja tidak ada hasil yang ada tubuhnya terasa mulai lelah. Perut mulai berteriak, perih. Ia belum menerima asupan apa pun selama berada di rumah sakit. Tania tidak memberinya makananya bahkan mamanya saja sepertinya sudah tidak mengingatnya lagi, itulah yang ada di pikiran Lendra saat ini. Di peganginya perutnya yang terus saja demo.
Di tatapnya pula jendela rumah sakit, gordennya tampak bergerak. Angin masuk kedalam ruanganya dan ia dapat merasakan itu dengan jelas. Hening, tidak ada pergerakan, tidak ada suara. Ia benar benar merasa bosan berada di tempat ini. Andai saja kakinya bisa di gerakan ia pasti akan pergi dari tempat ini walau pun kondisinya belum pulih dan stabil. Tubuhnya benar benar tidak bisa di ajak kerja sama.
Di pandangnya pula handphonenya yang tergelatak cukup jauh darinya. Mungkin jika memainkan benda itu akan menghilangkan kejenuhaannya saat ini tapi, sayangnya Naila, adiknya meletakan benda itu tidak dekat denganya lalu, bagaimana caranya untuk meraihnya?.
Berdebat dalam pikiranya sendiri merupakan hal yang memusingkan kepalanya. Lendra terdiam di atas kasurnya. Bayangan Safania bersama lelaki itu kembali terlintas di benaknya. Emosinya kembali memuncak. Hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya adalah melihat wanitanya bersama lelaki lain. Tangan Lendra mulai mengepal, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan emosinya namun, amarahnya itu tidak dapat terkendalikan. Ia melepas selang infus tampa perintah dari Dokter. Ia juga kembali teringat kalau kakinya tidak dapat di gerakan.
Akhhhhh, bagaimana untuk mengatasi semua ini. Ia tidak akan mendapat informasi apa pun jika terus berada di sini. Ia juga tidak dapat bertanyaa pada Safania dan memastikan berita yang tengah beradar itu hanyalah berita hoak yang di sebarkan oleh oknum oknum yang tidak bertanggung jawab. Sudah melihat hal seperti itu pun Lendra masih berusaha untuk mempercayai Safania dan menjanggal semua pikiran buruknya walau tidak singkron dan satu pemikiran dengan ot*knya.
"Pasti ada pihak yang ingin merusak hubungan kami hingga melakukan hal seperti ini. Safania tidak mungkin sejahat itu pada ku. Dia sangat mencintai, dia jyga rela melakukan apa pun demi aku. Safania tidak mung berselingkuh!" kekeh Lendra pada dirinya.
__ADS_1
Brugghhhhhhh
Karena terlalu banyak bergerak dan tidak memperhatikan sekitarnya. Lendra terjatuh dari ranjang untuk saja bagian kepalanya tidak mengenai lantai hanya bagian bokong dan beberapa tulangnya saja yang terasa nyeri dan sepertinya itu juga tidak membahayakanya.
Dokter yang menangani Liora masih berada di dalam ruangan wanita itu sedangkan Tania dan Naila menunggu di depan ruangan Liora yang gak jauh dari ruangan Lendra dan Vania menjnggu di depan ruangan Lendra. Dari pintu ruangan lelaki itu Vania mendengar ada sesuatu yang jatuh dan itu terdengar jelas di telinganya. Suaranya tampak besar dan ia juga mendengar adanya suara ringisan tampa aba aba dan memanggil Tania, ia segera masuk kedalam ruangan Lendra.
"Lendra!" panggil Vania. Ia melihat pria itu yang sudah terletak di atas lantai. Dengan tenaga seadaanya Vania berusahaan untuk menaikan Lendra kembaki ke atas kasur namun, energi yang di milikinya tidak cukup untuk melakukan hal. Selain tubuhnya yang kecil, Lendra juga sangat kaku hingga sangat sulit untuk di gerakan. Ia tidak mungkin dapat mengangkat tubuh Lendra seorang diri. Ia harus meminta bantuan pada orang lain.
Di temuinya Tania dan Naila dengan tingkat kepanikan yang cukup tinggi. Nafas yang terengah engah dan memburu sulit untuk menyampaikan apa yang ingin di katakannya pada dua wanita yang ada di hadapanya.
"Lendra!" ucap Vania dengan nafas yang belum teratur dan tangan yang menunjuk kearah pintu ruangan nama yang di sebutnya itu.
"Mas Lendra kenapa?" tanya Tania yang tampak tenang dan tidak khawatir sedikit pun. Ia tampak biasa saja walau pun sudah melihat Vania yang sudah seperti di kejar kejar set*n.
__ADS_1
"Kak Vania, Kak Lendra kenapa?" tanya Naila menguncang guncangkan tubuh wanita itu.
"Lendra, dia itu .... dia ... dia itu .. itu!"
"Kamu kenapa sih Van?" Tania.
"Lendra, dia!"
Tak mau lebih lama mendengar jawaban Vania yang terbata bata dan sulit mengatakan itu. Tania langsung berjalan dengan langkah cepatnya menuju ruangan Lendra, ia segera tampa mengetuknya dahulu karena memang pintunya terbuka lebar. Naila dan Vania juga mengkkutinya dari belakang.
"Kak Lendra!" teriak Naila iya langsung berlari menuju kakaknya dan segera menarik kedua tangan Lendra melalui bahu lelaki itu untuk menaikan Lendra keatas ranjang. Sama halnya dengan Vania, Naila juga tidak dapat melakukannya. Tanpa di minta Naila, Tania dan Vania segera membantu menaikan lelaki itu kembali ketempat tidurnya.
"Kakak kenapa bisa jatuh sih Kak!" cemas Naila sembari mengibaskan baju yang di pakai Lendra dengan tanganya agar debu yang tertinggal di pakaianya tidak melengket. Setelah mengangkat Lendra naik ke atas ranjang, raut wajah Tania masih biasa saja. Tania tampak sangat tidak peduli pada pria ini. Entah dia sedang memberikan hukuman pada lelaki ini agar tidak bersikap senaknya pada dirinya atau memang rasa peduli Tania pada suaminya tidak ada dan menghilang begiu saja.
__ADS_1
"Lend, lho kok bisa jatuh gitu sih, kalau saran dari gue sih sebaiknya lho jangan banyak gerak tubuh kasihan tubuh itu itu belum fit" Lendra hanya fokus menatap Tania yang tampal santai. Kenapa istrinya terlihat biasa saja tidak mempedulikan kondisinya saat ini. Ada apa dengan Tania?.
"Kakak kenapa Kakak tergelatak seperti itu di lantai?, Kakak pasti mencoba untuk keluar dari sini dan memaksakan diri untuk meningalkan tempat ini dengan kondisi Kakak yang masih membutuhkan tenaga medis!" ucap sekaligus tebak Naila karena ia melihat tidak ada sesuatu lagi yang menempel di telapak tangan Lendra. Lendra tidak menjawab pertanyaan yang kini tertuju padanya ia terus memandang wajah Tania tang terlihat berbeda dari sebelumnya.