
"Awwwauuu!" lirih Nadya karena jarimya terkena tusukan kaca yang mengenai tanganya, Rafa dengan cepat langsung menarik tangan Nadya dan mengecup jari Nadya yang mengeluarkan darah segar itu. Kini bergantian Nadya malah menatap Rafa dengan tatapan kagum.
"Rafa!" panggil Vania yang kini sudah tiba di dalam rumah Rafa tampa mengetuk pintu dahulu dan Nadya hanya dapat tertunduk karena Vania menatap tajam pada Nadya. Rafa sekilas menatap pada Nadya, ia juga menyadari jika Nadya merasa takut pada Vania.
"Kamu masih sama Nad!" gumam Rafa yang memperhatikan Nadya ketakutan seperti ini.
"Raf, itu apa Raf?" teriak Nadya dengan tertunduk dan menutup wajahnya mengunakan kedua telapak tanganya.
"Apa Nad?"
"Itu!" Nadya terus saja mengarahkan jarinya pada benda yang di maksudnya namun, karena lebih dulu merasa takut ia sudah menunduk dan menutup matanya hingga tidak tahu apa yang sedang di tunjuknya.
"Itu Raf, aku takut!" ucapnya lagi.
"Ini?" ucap Rafa seraya memastikan dan menunjukan benda itu pada Nadya, perlahan Nadya membuka matanya dengan merenggangkan sedikit jari jarinya.
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Nadya dengan kencang saat melihat Rafa memegang seekor ular walau dengan ukuran yang masih kecil tepat di hadapanya dan Nadya langsung terjongkok serta kembali menutup matanya dengan semakin erat.
"Hayooo ular makin dekat nih!" ledek Rafa semakin mendekatkan benda yang di pegangnya pada Nadya.
"Jauhin Raf, itu bahaya tau!" ujar Nadya mengibas ngibaskan tanganya pada Rafa agar Rafa segera menjauhkanya.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Rafa kini meletakan benda itu tepat di wajah Nadya.
"Rafa awasinnnnn!" teriak Nadya semakin ketakutan.
Seketika tawa Rafa pecah dan ia langsung mengambil ular ularan yang mengantung di kepala Nadya.
"Ini tuh ular plastik Nad!" ucap Rafa dengan tawa yang semakin keras sedangkan Nadya hanya memasangkan wajah manyunya. Ia merasa kesal pada Rafa di saat ia benar benar ketakutan seperti ini, kekasihnya ini malah menertawakanya.
"Uluh uluh maaf Sayang!" ucap Rafa yang langsung membawa tubuh Nadya kedalam dekapanya sebelum gadis yang ada di hadapanya benar benar marah padanya.
__ADS_1
Dan kini Rafa kembali menatap wajah Nadya yang sedang ketakutan setelah beberapa tahun ini tidak terlihat olehnya, masih sama, dia selalu menundukan kepalanya ketika ketakutan seperti ini.
"Vania? Kamu ngapain kesini?" tanya Rafa sedikit gugup, pasti kekasihnya ini akan salah paham padanya dan ia juga harus menegur Vania lebih dulu jika tidak, maka ia akan terus menatap Nadya seperti itu, Rafa tau betul watak kekasih dan mantan kekasihnya itu.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Vania sinis.
"Vania, kamu jangan salah paham dulu Sayang!" ujar Rafa mulai beranjak dari duduknya namun, Nadya langsung menarik pergelangan tangan Rafa, Vania yang melihat hal itu seketika semakin ilfil pada Nadya dan berfikir jika Nadya adalah wanita yang tidak baik.
"Lepaskan tangan mu!" ucap Vania sinis dan mata yang terus menatap tajam pada Nadya, Vania juga menyingkirkan tangan Nadya dari pergelangan tangan Rafa dengan kasar.
Bughhhhhhhhhh
Karena sudah tidak ada yang menahan tubuhnya, Rafa terjatuh, dan tampa memperdulikan Vania, Nadya langsung membantu Rafa untuk kembali duduk di atas sofa. Sebenarnya Nadya tidak sedikit pun berniat buruk pada Rafa apalagi untuk membuat Vania merasa cemburu padanya, tidak sedikit pun hal itu terlintas di fikiranya. Nadya memang memegang tangan Rafa tapi itu di lakukanya karena dokter berpesan padanya jika Rafa saat ini tidak boleh terlalu banyak melakukan pergerakan dan untuk berdiri, tubuhnya masih belum kuat.
"Bapak tidak apa apa?" tanya Nadya setelah mendudukan Rafa, Rafa hanya mengangguk pelan tampa berani menatap wajah Nadya.
"Kamu keterlaluan banget sih!" ujar Vania dengan keras sembari mendorong tubuh Nadya.
"Vania, kamu tidak seharusnya bersikap seperti itu!" bela Rafa.
"Ohhh, kamu lebih membela wanita ini dari pada aku pacar kamu!" ucap Vania yang kini tatapan tajamnya beralih pada Rafa.
"Aku tidak membela Nadya, Kamu salah paham!" ucap Rafa berusaha menjelaskan.
"Salah paham? Jelas jelas aku lihat kalian saling pegangan tangan dan sekarang kamu ngebelain dia, kalian ada hubungan apa?"
"Atau jangan jangan kamu selingkuhanya?" tuduh Vania, tatapan tajam itu kembali tertuju pada Nadya dan jari telunjuknya kini berada di depan hidung Nadya.
"Saya tidak seperti itu!" balas Nadya.
"Lalu apa? Kamu mau coba bodohin saya?" ucap Vania lagi kini semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Nadya. Wanita ini sudah benar benar salah paham padanya tampa membiarkan dirinya atau Rafa untuk menjelaskan dulu.
__ADS_1
"Vania, Coba kamu lihat kondisi aku sekarang!" bentak Rafa yang kini ia juga sudah tersulut emosi. Vania langsung memutarkan kepalanya dan memperhatikan seluruh tubuh Rafa dari bawah hingga atas dan ia melihat banyaknya luka yang menempel di tubuh kekasihnya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Vania kini dengan nada suara merendah.
"Kamu masih mau marah, kamu masih mau nuduh aku yang ngk ngk? kamu lihat kondisi aku sekarang!"
"Aku kayak gini karena aku nyariin sepupu kamu sampai aku babak beluru begini, Nadya dan ayahnya yang menolong ku kalau tidak, mungkin saja aku masih di jalanan atau mungkin tubuh ku ini sudah menjadi jenazah sekarang!" jelas Rafa dengan nada tingginya.
"Jadi wanita ini yang menolong kamu?"
"Bisa bisanya kamu mikir dia adalah selingkuhan aku!"
"Maaf Pak, Bu, Saya pamit pulang!" izin Nadya yang langsung beranjak meninggalkan keduanya, Tidak mungkin baginya untuk menyaksikan perdebatan kedua sejoli itu.
"Sekarang kamu lihat! Nadya pergi!" ucap Rafa dengan menunjuk kearah pintu masuk rumahnya.
"Aku minta maaf Raf, aku ngk tau kalau dia yang bantuin kamu!"
"Makanya kamu tuh dengerin aku dulu ngomong!"
"Den Evan, kamu sudah sadar Den?" tanya Sari yang kini sudah berada di dalam ruangan tempat Evandi di rawat dan Rusdi yang duduk di sofa dekat ranjang Evandi sedangkan Sari yang sedari tadi menunggu sadar Evandi di sebelah ranjang lelaki itu.
"Aku di mana Bi?" tanya Evandi yang menatap asing sekitarnya dan pria itu juga mengengam tangan Sari dengan lembut.
"Tuan Evan di rumah sakit!" jawab Sari.
"Kenapa saya bisa di sini Bi?" tanya Evan.
"Tuan semalaman pingsan di dalam kamar!"
Tak sengaja mata Evandi menatap seseorang yang berada di belakang Sari, orang itu seperti tidak asing baginya namun, karena baru sadar matanya belum dapat melihat dengan jelas orang itu, ia hanya dapat menatapnya samar samar.
__ADS_1