Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Baba 44 - Naila membantah


__ADS_3

"Lendra!" gumam Naila tak sengaja melihat kontak di layar ponsel Evandi yang masih menyimpan kontak kakaknya dan tampa drama lagi Naila segera menghubunginya.


Merasakan getaran dari dalam sakunya Lendra segera mengambil benda yang berperang itu dan meletakanya di dekat telinganya tampa membaca nama orang yang menghubunginya.


"Halo!"


"Kak ini Naila!"


"Kamu di mana Dek? Maaf ya tadi Kakak malah marah marahi kamu, habisnya kamu ngk sopan ke kakak ipar kamu, Kakak ngk suka, kamu harus banyak belajar tentang sopan santun lagi!"


"Kakak kalau mau bahas itu nanti saja, Naila cuma mau bilang kalau Kak Tania sekarang sama Naila dan kak Evandi, Kakak sekarang harus kerumah Kak Vania sekarang nanti Naila dan kak Evandi bakalan nyusul dan Kakak juga hubungi Dokter keluarga kita agar datang kerumah Kak Vania!" jelas Naila.


"Bawa Tania kerumah sakit!"


"Kak Tania aku bawa kerumah Kak Vania!"


"Bawa kerumah sakit!"


"Aku akan bawa kerumah Kak Vania!" kekeh Naila.


"Kamu lebih mentingin mereka atau orang tua kamu?"


"Aku lebih mentingin siapa yang membutuhkan, Mama Kakak Vania meninggal dunia dan keinginan terakhir beliau bertemu Kak Tania dan kak Vania ingin itu terwujud!"


"Naila, jangan melawan perintah Kakak!"

__ADS_1


"Kakak yang harus dengerin Naila, sejak kapan Kak kita di ajari egois dan mentingin keinginan kita sendiri tampa memperdulikan orang lain? Mama sama Papa ngk pernah ngajarin Kak dan kalau Kakak mau bertemu dengan Kak Tania, Kakak harus kerumah Kak Vania!" ujar Naila yang langsung mematikan ponselnya.


Selesai berkomunikasi dengan Lendra, Naila masih menatap layar ponsel Evandi, jika lelaki ini memiliki kontak kakaknya  kemungkinan besar, ia juga pasti memiliki kontak Rusdi. Tampa bertanya pada lelaki itu ia segera mencarinya sendiri, percuma saja jika ia bertanya pada Evandi, lelaki ini pasti tidak akan mengingatnya.


"Iya Van, ada apa?" tanya Rusdi setelah sambungan telponya terhubung.


"Ini Naila Kak, Sekarang kak Tania sama aku dan aku akan segera sampai kerumah Kak Vania, aku minta tolong siapkan Dokter untuk menanggani Kak Tania!"


"Kak Tania kenapa Nai?"


"Kak Tania pingsan setelah mendengar Mama Kak Vania meninggal!"


"Yasudah kamu hati hati ya Nai!"


"Iya Kak!"


"Kak, Tolong cepetan!" teriak Naila dari kursi belakang yang di dudukinya.


Evandi tidak merespon ucapan Naila, ia malah memasang musik di handphonenya dan mendengarnya melalui handset yang sudah terpasang di telinganya, membuat Naila semakin kesal pada lelaki yang ada di hadapanya ini. Naila sedikit menaruh kecurigaan pada Evandi, jika lelaki ini hanya berpura-pura tidak mengenalinya.


Tampa aba aba dan memberi kode Tania sadar dari pingsanya dan segera bangkit dari pangkuan Naila.


"Kak, Kakak sudah sadar?" tanya Naila masih menatap Tania dengan khawatir.


"Nai, Sekarang kita harus kerumah Vania!" ujar Tania yang sudah di puncak khawatirnya. Mata Tania seketika berhenti ketika tak sengaja melihat Evandi yang asik dengan musiknya. Mengapa pria ini tidak sedikit pun memiliki rasa simpati padanya dan bahkan terlihat bahagia sekarang. Seperti bukan dirinya seperti biasa, pikir Tania.

__ADS_1


"Evandi masih marah ya karena aku menikah tampa sepengetahuan dia?" gumam Tania yang seketika memulai lamunannya, ia merasa tak enak hati pada sahabat terbaiknya ini. Tapi, kenapa Evandi setega ini padanya, di saat ia kesedihan seperti ini, Evandi sedikit pun tidak menaruh rasa iba, ahh sudahlah mungkin hanya aku yang sedang berfikir buruk tentangnya.


"Van, aku mohon loh cepetan nyetirnya, aku tau kamu marah sama aku tapi mohon, ini terakhir kali aku ketemu tante Tifani!"


"Kok Kak Tania bilang ada salah ya sama kak Evandi, mereka ada hubungan apa?" pikir Naila menatap binggung pada Tania yang menatap pada Evandi. Sedetik kemudian Naila mengelengkan kepalanya agar pikiran kotor di kepalanya lepas menghilang dari benaknya.


"Dalam kondisi seperti ini, aku masih bisa berfikir buruk tentang Kak Tania, ngk, ngk boleh, Kak Tania orang baik!" ujar Naila kemudian menghembuskan nafasnya.


Selesai berkomunikasi dengan Naila via telpon, Lendra melajukan mobilnya di atas rata rata, dengan kekecawaan yang mulai menghantuinya, Naila mulai berani membantah perintahnya, bahkan lebih mengutamakan orang lain dari pada mamanya sendiri. Dengan penuh keterpaksaan Lendra membawa mobilnya menuju rumah Vania.


Mobil yang di kendarai Evandi dan Lendra sampai di tempat tujuan secara serentak dengan arah yang berlawanan, Evandi yang muncul dari sebelah kanan dan Lendra yang muncul dari sebelah kiri. Keduanya segera memparkirkan mobilnya. Setelah mobil Evandi benar benar berhenti, Tania segera turun dan berlari menuju rumah Vania. Hal itu di saksikan oleh Lendra yang masih berada di dalam mobilnya dengan cepat pula Lendra segera keluar dari dalam mobilnya dan mengejar Tania.


Tania melepas cengkraman tangan Lendra yang melingkar di pergelangan tanganya, karena tindakan Lendra itu menghalangi langkahnya untuk masuk. Lendra kembali mengengam tangan Tania dan justru semakin menguatkan dan menarik Tania untuk masuk kedalam mobil pribadinya.


"Kak Lendra!" panggil Naila yang baru saja turun dari mobil dan berhasil membuat Lendra menghentikan tindakannya itu dan menatap adiknya dengan seksama, hal itu di manfaatkan Tania untuk segera masuk.


"Naila!" ujar Lendra.


"Kakak keterlaluan ya, sejak kapan Kak, kita di ajari Mama seperti ini?" bentak Naila menatap kedua bola Lendra dengan seksama dengan sedikit mendongkakan kepalanya karena postur tubuhnya yang lebih pendek dari Lendra.


"Kamu tidak lihat? Mama kamu sedang sekarat di rumah sakit dan dia sedang mencari menantunya dan kamu membiarkan Tania di sini? bentak Lendra dengan suara yang tidak lebih besar dari volume suara adiknya.


"Mama masih bisa lihat Kak Tania kapan saja sedangkan Mama Kak Vania sudah tidak bisa, ini terakhir buat mereka, Kakak ngerti tidak? Kakak kenapa sih jadi egois gini?, Kita tidak bisa hanya mementingkan diri kita sendiri!"


"Menantu Kakak bilang? Kenapa Kakak tidak bawa menantu Mama yang satu lagi? Kak Tania masih berduka!"

__ADS_1


"Kamu membantah Kakak, Nai?"


"Aku tidak membantah Kak, Naila hanya mengerti dengan posisi kak Tania sekarang!" ujar Naila yang langsung meninggalkan Lendra dan masuk kedalam rumah Vania untuk menyusul sekaligus menjaga Tania, jika kakaknya kembali menarik Tania.


__ADS_2