Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 62 - Pengkhiatan oleh orang terdekat


__ADS_3

Sesuai pesanan dari Suster yang baru saja keluar dari kamar Vania, bawahan fikri segera masuk kedalam ruangan kekasih majikannya. Vania terkejut melihat kehadiran lelaki itu. Siapa pria itu? Ia tidak mengenalinya dan kenapa tidak Rafa yang menemuinya.


"Siapa kamu?" tanya Vania saat orang itu mulai mendekat denganya.


"Saya adalah orang yang diutus untuk menjaga anda!" jawabnya sopan sedikit merendahkan tubuhnya pada Vania yang memiliki rasa takut pada pria itu.


"Siapa yang menyuruh mu menjaga ku disini?"


"Pak Rafa!"


"Nad, Kamu jangan nangis gitu ya aku ngk bisa lihat kamu sedih!" ucap Rafa menghapus air mata yang membasahi wajah Nadya. Nadya terdiam mendapat perlakuan manis dari lelaki yang masih sangat di cintainya. Kesedihan seketika menghilang dalam sekejap, sungguh keajaiban yang luar biasa.


"Kamu peduli sama aku Raf?" tanya Nadya yang kini mengengam pergelangan tangan Rafa. Nadya yang sangat merindukan ucapan lelaki itu seakan lupa dan tidak memikirkan perasaan kekasih baru Rafa. Ia benar benar tidak dapat menyangkal perasaannya, cintanya sudah terlalu dalam.


"Aku peduli sama kamu dari dulu, sekarang dan selamanya walau pun takdir tidak mempersatukan kita!" gumam Rafa menatap wajah Nadya.


"Aku peduli hanya sebatas teman dan aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun ke kamu!" ujar Rafa yang membohongi perasaanya sendiri. Perlahan tangan Nadya mulai menjauh dari wajah Rafa. Ia terlalu pede dengan ucapan yang di lontarkan Rafa sebelumnya, ia sempat mengira jika lelaki ini masih menaruh perasan padanya dan pada kenyataannya Rafa hanya menganggapnya sebatas teman.


"Aku mengerti kok!" ujar Nadya dengan senyum yang mulai memudar dari raut wajahnya.


"Selamanya kita akan tetap menjadi sahabat terbaik!" ucap Rafa menunjukan jari kelingkingnya pada Nadya, Nadya tersenyum dan ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Rafa tersebut.


"Tega kalian ya!" ucap Vania keras yang sudah berada di depan ruangan Nadya bersama bawahan Fikri. Bawahan Fikri itu sudah melarang Vania untuk tidak menemui Rafa, tetapi wanita ini memaksakan diri untuk mencari Rafa dan ia juga mengancam  jika ia tidak mau mengantarkannya, Vania akan mencarinya sendiri.

__ADS_1


"Vania!" ujar Nadya. Rafa memutarkan pandanganya kearah pintu ruangan dan melihat kekasihnya itu sudah berdiri di sana. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari Nadya dan berjalan menghampiri Vania.


"Kamu Nad, wanita yang aku kira baik, ternyata diam diam main belakang dengan pacar aku dan kamu Raf, lelaki yang sudah sangat aku percaya tega mengkhianati aku di saat kondisi aku seperti ini!" ucap Vania dengan jari telunjuk mengarah pada Nadya yang masih terbaring kemudian beralih kewajah Rafa yang sudah berada di hadapanya.


"Vania ini tidak seperti yang kamu lihat!"


"Lalu seperti apa? Apa kalian sudah melakukan hal yang lebih dari sini di belakang ku? Pengkhiatan kalian berdua!" ucap Vania yang kemudian berlari keluar dari ruangan Nadya. Rafa hendak mengejar kekasihnya itu namun, tanganya di cekal oleh bawahan Fikri.


"Biar saya saja Pak yang mengejar ibu Vania Pak, Bapak tetap disini saja takutnya nanti Bu Vania akan semakin marah pada Bapak dan sebaiknya kita membiarkan dia untuk menenangkan dirinya dahulu!" ujar bawahan Fikri dan kemudian ikut meninggalkan ruangan Nadya dan mengikuti langkah Vania dan melihat apa yang akan gadis itu lakukan. Di cemaskan  nanti karena dalam keadaan marah ia akan melakukan hal nekat yang berada di luar nalar dan bawahan Fikri iu hanya melihatnya dari kejauhan.


"Kenapa kamu tidak kejar Vania?" tanya Nadya ketika Rafa kembali menghampirinya dan duduk di kursi yang berada di sebelah ranjangnya. Rafa tidak merespon ucapan Nadya hanya hanya termenung dengan lamunan dan isi kepalanya.


"Aku adalah lelaki jahat yang pernah ada di dunia. Aku masih mencintai salah satu wanita yang sudah menjadi masa lalu ku dan aku juga tidak bisa melepas wanita yang saat ini bersama ku. Aku tidak tau siapa sebenarnya wanita yang sedang aku cintai?" gumam Rafa tertunduk. Nadya merasa kasihan dengan kondisi Rafa saat ini, lelaki ini tampak sangat terpukul dengan keadaan.


Brughhhhhh


Tubuh Vania terjatuh dan tergelatak di tanah yang di tumbuhi rerumputan hijau. Kondisinya yang belum stabil dan ia melakukan pergerakan terlalu banyak membuatnya pingsan dan tak sadarkan diri. Bawahan Fikri yang sudah siap siaga di belakang wanita itu langsung berlari menghampiri Vania dan segera membopong tubuh kekasih majikanya itu.


Setelah merebahkan tubuh Vania di atas ranjangnya dan sudah memanggil Domter untuk kembali mengecek kondisi Vania. Ia menghubungi Rafa untuk memberitahu kondisi kesehatan Vania saat ini.


"Nad, Aku harus keruangan Vania dulu!" ucap Rafa yang langsung berlari meninggalkan Nadya.


"Alhamdulilah operasi Ibu Liora berjalan dengan lancar!" ujar seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Liora.

__ADS_1


"Apakah sekarang Mama saya sudah dapat di jenguk Dok?" tanya Lendra antusias.


"Sudah tapi di sarankan untuk bergantian dan jumlah orang yang mengunjungi paling banyak hanya dua orang saja!"


"Baik Dok, Sekarang saya ingin mengecek kondisi Mama saya!"


"Di sini ada yang bernama Tania?"


"Saya Dok!" ujar Tania menampakan dirinya pada sang Dokter yang menyebut namanya.


"Tadi pasien meminta untuk Ibu melihat kondisi ibu Liora saat ini, Beliau ingin bertemu dengan Ibu!" ucap Dokter itu lagi.


"Tuh Kak yang pertama di cari Mama bukan anaknya tapi menantunya karena Mama sudah sangat banyak sama kak Tania dan Kakak masih tega untuk menyakiti kakak Tania? Kakak benar benar terlalu!" ucap Naila dan Tania hang mendengarnya hanya dapat tersenyum.


"Nai, temani Kakak lihat Mama yuk!" ajak Tania yang sudah memegang pergelangan tangan Naila.


"Kamu bareng aku saja!" ucap Lendra yang langsung menarik tangan Tania masuk kedalam ruangan Liora tampa menanyakan persetujuan dari orang yang bersangkutan.


"Sepertinya Kakak kamu sudah mulai menerima Tania sebagai istrinya cuma kayaknya dia masih malu malu!" ujar Rusdi yang kini berdiri di sebelah Naila dan menatap kearah pintu ruangan Liora.


"Naila juga merasa begitu Kak!"


"Kok aku tidak suka ya kalau Lendra bersikap baik pada istrinya. Ada apa dengan ku? Aku tidak boleh seperti ini, aku saja tidak mengenali Tania!" gumam Evandi merasa ada sesuatu tak enak yang di rasakannya. Ada rasa kurang senang menyaksikan Tania mendapat perlakuan baik dari suaminya. Tetapi ia juga tidak dapat mengingat hal hal hang menyangkut Perihal Tania.

__ADS_1


__ADS_2