
Rusdi dan Kiara kini saling tatap dalam waktu yang cukup lama. Tak terasa air mata Kiara menetes begitu saja melihat mata indah milik Rusdi yang sekian lama ingin di tatapnya dan kini dapat di lihatnya dari dekat. Rusdi menghapus air mata yang membasahi wajah gadis yang duduk di hadapanya dengan tanganya sendiri.
"Kok nangis sih?" tanya Rusdi. Sontak Kiara langsung mengelap wajahnya dengan tanganya dan kemudian mengalihkan pandangnya dari Rusdi.
"E .... eh mmm ... mmm maaf Pak, saya tidak sengaja!" ucap Kiara tak enak.
"Tidak apa santai saja!" balas Rusdi tersenyum manis. Kiara semakin tidak berdaya dalam keadaaan seperti ini. Rusdi bisa bersikap manis seperti ini padanya. Sungguhnya semua terjadi seperti mimpi.
"Kiara cobaain ini rotinya, enak tau!" Rusdi menyondorkan roti stoberi kemulut Kiara. Kiara sempat ingin memuntahkan makanan itu dari mulutnya namun, mulutnya langsung di bungkam oleh Rusdi. Kiara yang sangat membenci stoberi dan kini Rusdi memaksanya untuk makan. Terpaksa ia harus mengunyah makanan itu karena tangan Rusdi tak lepas dari bibirnya sebelum makananya habis. Lagi lagi keduanya sempat saling tatap.
"Enakan?" ujar Rusdi sumringah dna Kiara malah tertawa lebar, ternyata stoberi tidak seburuk yang di pikirkanya. Buah ini memiliki rasa yang cukup enak di mix dengan roti, rotinya juga terasa sangat empuk, perpaduan yang sangat sempurna apalagi ia memakanya di hadapan dan di suapi langsung oleh lelaki yang disukainya. Ingin rasanya Kiara agar hari ini terlalu begitu saja. Rasanya terasa sangat indah walau sebelumnya ia hampir mati di buat oleh preman beg*s itu.
"Makanya jangan sok jual mahal!"
"Rus, lho ngkpp Bro?" tanya Evandi yang tiba tiba saja masuk kedalam ruangan mereka tampa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Kiara hanya dapat menarik nafasnya panjang, Evandi pasti akan menyalahkanya dan kini ia hanya menundukan penglihatanya kearah lantai.
"Gue ngkpp kok Bro untung ada Kiara yang sejak tadi jagain sekalian ngurusin gue!" balas Rusdi menepuk bahu kanan Evandi dengan lembut. Evandi langsung menatap kearah Kiara dan kemudian membuang arah pandanganya dari wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah merawat Rusdi dengan baik sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan ini!" ucap Evandi dengan nada datar. Rusdi terkejut bukan main mendengar ucapan sahabatnya ini.
"Kenapa kamu mengusirnya?"
"Aku sudah ada, aku yang akan merawatmu!"
"Van, lho ngk bisa bersikap seperti ini!"
"Ini semua karena ulah dia jadi, wajar saja dia yang sejak tadi merawat kamu dan kamu juga harus tau kalau wanita ini juga yang memiliki niat agar Lendra, sahabat kita kehilangan seluruh harta miliknya dan kita jangan sampai masuk kedalam pengaruh dia, bisa jadi dia berniat untuk mengusai seluruh kekuasaan keluarga Delino karena ialah staf yang mengetahuk banyak tentang perusahaan!"
"Van, kamu tidak boleh bicara seperti itu!"
"Lho jahat banget ya Van, setega itu lho padahal Kiara itu gadis yang baik tapi lho bisa berbuat seperti itu!"
"Dia licik Rus, dia yang bantu Om Delino buat pengalihaan nama perusahaan dan lho belain dia sedangkan temen lho bakal kehilangan semuanya karena dia. Kenapa, lho sudah suka sama dia karena diakan selalu ngejar kamu, kalau kamu suka silahkan kejar, tidak perlu hiraukan sahabat kamu yang sedang kesusahaan di rumah sakit!"
"Kiara yang membantu pengalihaan nama perusahaan, dia harus menjadi peran jadi lalu, bagaimana kabar om Delino yang menginginkan semua ini, apakah Om Delino orang jahat yang tidak peduli dengan anak. Pasti ada alasan om Delino di balik semua ini dan gue ngk yakin Kiara sejahat itu dan gue bakal buktiin semua itu!"
__ADS_1
"Lho masih aja ngebelain dia, Lendra sahabat lho. Kenapa lho suka sama dia?, jangan karena cinta lho di butain dengan semuanya!"
"Maksud lho apaan? Gue ngk pernah suka sama Kiara dan lho harus tau gue ngk di sini profesional tampa membela lho atau pun Kiara. Lho ngk perlu teriak teriak kalau gue suka sama Kiara karena gue dari dulu sampai kapan pun tidak akan pernah menyukai Kiara!"
Kiara yang masih berada di depan pintu, menitihkan seluruh air matanya. Dadanya terasa sangat sesak. Baru saja ia merasakan kebahagian kini semuanya kandas secara bersamaan. Dituduh, dan kini ia mendengar kalimat paling menyakitkan yang keliar dari mulut lelaki yang amat di cintainya.
"Ternyata tidak pernah ada aku di hati kamu, Rus, sejahat itu kamu keaku, aku yang mencintaimu sedalam itu tapi, sesakit itu yang kamu berikan!" Kiara segera melangkah kakinya menjauh dari tempat ini dan berlari bersama isak tangisnya. Rusdi menyadari Kiara yang baru saja meninggalkanya. Ia ikut mengejar Kiara. Evandi hanya terdiam ditempatnya seraya menatap kepergian keduanya. Ia sangat yakin jika Rusdi memiliki perasaan yang dalam pada Kiara. Belum sembuh dari sakitnya, Rusdi bela belain mengejar wanita itu.
"Kiara!" panggil Rusdi. Kiara menolehkan pandanganya sekilas dan kemudian melanjutkan larinya. Ia sudah tidak ingin lagi untuk sekedar menatap wajah Rusdi. Hatinya terlalu sakit, harapanya terlalu tinggi, sudah saatnya untuk sadar.
Brughhhhh
Tubuh Rusdi terjatuh kejalanan, imun tubuhnya terasa sangat lemah hingga tidak dapat menopang badanya. Kiara mendengar suara jatuhan itu langsung berlari kearah Rusdi. Rasa sakitnya tiba tiba saja menghilang melihat Rusdi yang melemah. Sesakit apa pun hatinya, tetap ia tidak tega memberikan pria itu dalam kesusahaan.
"Pak, Pak, Pak!" Kiara menguncangkan tubuh Rusdi dengan kencang, mata pria itu terpejam, Kiara semakin di buat panik.
"Evan, Evandi, Evandi, Pak Rusdi pingsan!" teriak Kiara dengan keras berharap agar lelaki itu keluar dan membantunya.
__ADS_1
"Pak, sadar Pak, Pak!" teriak Kiara lagi.