
Hari telah berlalu, Malam telah pergi kini datanglah pagi bersama embun yang membuat setiap orang malas untuk melakukan aktivitas.
"Pa, Ma ini Tania bawakan sarapan!" ujar Tania dengan membawa nampak yang berisikan bubur putih untuk kedua mertuanya diikuti oleh Lendra dan Naila yang berdiri dibelakangnya. Rusdi dan Evandi mulia kembali bekerja dan Rusdi yang harus membantu Evandi mengerjakan pekerjaan sekaligus membantu sahabatnya ini untuk memulihkan kembali ingatanya.
Kondisi Liora yang sudah membaik, Dokter pun sudah mengizinkannya untuk kembali keruanganya yang satu ruangan dengan suaminya.
"Papa biar aku yang suapin ya!" ucap Naila yang langsung merebut satu mangkuk putih yang dibawa Tania dan berdiri disebelah ranjang Delino.
"Kalau gitu, Mama, biar Lendra yang suapin ya!" ucap Lendra yang tak ingin kalah dari adiknya dan ia juga langsung mengambil mangkuk yang tersisa diatas nampan Tania.
"Pa enakan buburnya? Kak Tania lho Pa yang masakin kata Kak Tania biar mertuamya cepat sembuh dan kembali kerumah!" ucap Naila membanggakan.
"Pantes saja rasanya enak, tidak seperti masakan rumah sakit, ternyata menantu kesayangan Mama yang masak!" Puji Liora yang berhasil membuat Tabia tersenyum malu.
"Lendra gimana yang Papa bilang semalam? Papa mau kalian melaksanakannya hari ini juga!" ucap Delino. Liora dan Naila yang tidak mengerti dengan maksud suami dan Papanya menatap terkejut pada lelaki yang sedang berbicara ini dan Lendra yang sudah mengetahui arah pembicaraan Delino juga dibuat terkejut, ternyata Papanya ini masih ingat dengan ucapannya semalam dan masih pagi begini beliau sudah mengingatkanya lagi.
"Iya Pa nanti Lendra dan Tania melaksanakan permintaan Papa tapi tunggu Papa dan Mama keluar dari rumah sakit ya, kalau Lendra perginya sekarang terus siapa yang jaga Papa?" ucap Lendra sembari meletakan mangkuk buburnya diatas meja karena isinya juga sudah habis dilahap Liora.
"Anak Papakan bukan kamu saja, ada Naila yang menjaga Mama dan Papa, nanti Papa juga bisa hubungi Rusdi atau Evandi untuk membantu Naila mengurus kami atau Papa juga juga kok memerintahkan bawahan Papa untuk menjaga Papa, kamu tidak perlu mencari alasan karena Papa sudah menyiapkan semua jawabannya!" ujar Delino.
"Papa minta apa ke Kakak Lendra dan Kak Tania? Kenapa mintanya ngk ke Naila saja? Naila jugakan anak Papa, jangan karena Kak Lendra yang lebih tua, Kak Lendra mulu yang dipercaya!" ucap Naila dengan polosnya dan mengerutkan wajahnya.
"Emang kamu bisa nurut permintaan Papa?" tanya Delino dengan memasang wajah usilnya.
"Papa minta apa ke Lendra, Pa?" tanya Liora yang ikut penasaran dengan perbincanganan ketiganya.
"Papa mau cucu dari anak dan menantu Papa, kamu bisa Naila?" tanya Delino yang langsung mengarahkan pandanganya kearah Naila yang memasang wajah terkejut, tidak mampu dan langsung mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau gitu kalian harus honeymoon!" ucap Liora antusias.
"Itu yang Papa minta ke mereka semalam!" ujar Delino.
"Kalau Tania setuju saja Pa, tapi Tania harus bilang juga ke Vania dulu dan Tania juga harus melihat kondisi Vania dulu Pa karena Vaniakan baru saja kehilangan Tante Tifani!"
"Inaillahi wa innaillahi rajiun!" ucap Delino dan Liora serempak.
"Yasudah sekarang kalian berangkat jenguk Vania biar Naila yang jaga Mama dan Papa biar nanti sore kalian bisa berangkat!"
"Ma tidak hari ini juga Ma!"
"Mas sebaiknya kita turuti saja permintaan Mama!" ucap Tania tersenyum.
"Naila sependapat sama Mama biar Naila ada kawan main, sekarangkan Kak Lendra sibuk banget pasti jarang ada waktu buat Naila, jadi kalau Kak Lendra dan Kak Tania punya anak, akukan jadi tante dan punya kawan main dirumah!"
"Naila!" ucap Lendra yang langsung menatap Naila dengan tajam.
"Tania saja setuju masak kamu anak Mama ngk mau!"
"Yasudah Ma Lendra setuju!"
"Yuk jenguk Vania!" ucap Lendra yang langsung memutar tubuhnya dan menarik pergelangan tangan Tania. Tania tersenyum melihat tangan Lendra yang menempel ditanganya tampa disadarinya ia tersenyum melihat hal itu. Terlalu munafik jika Tania mengatakan ia tidak bahagia diperlakukan baik oleh Lendra yang sudah berstatus sebagai suaminya.
"Silahkan!"
Bagaikan masih tertidur dipagi hari Tania merasa jika ia sedang bermimpi. Lendra membukakan pintu mobil untuknya sambil tersenyum lebar seperti ini, senyum Lendra terlihat sangat manis dan siapa pun wanita yang melihat pasti akan langsung jatuh hati padanya, jika setiap hari bersikap seperti ini.
__ADS_1
"Makasih Mas!" ucap Tania membalas senyuman Lendra dan masuk kedalam mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Lendra sembari menghidupkan mobilnya dan memfokuskan pandanganya kearah jalanan.
"Kita jenguk Vania Mas!"
"Iya aku tau, aku nanya kita kemana jenguk Vania!"
"Kita kerumah saja Mas!"
"Kalau menurut aku sih kamu hubungi dia dulu biar kita tau tujuan kita kemana takutnya dia tidak dirumah apalagikan dia baru kehilangan Mamanya, bisa jadi dia sedang kerumah temanya untuk melepas kesedihanya!"
"Kamu benar Mas, aku hubungi Vania dulu ya!" ucap Tania merogoh sakunya untuk mengambil benda yang ingin digunakanya dengan mata yang tidak lepas dari wajah Lendra. Lendra memang lelaki yang memiliki paras tampan, ketampananya diatas rata rata apalagi ketika lelaki ini tersenyum. Bersikap dingin seperti ini saja ia aura tampanya sudah keluar.
"Vania ngk ngangkat telponya Mas!"
"Ya sudah kita langsung kerumahnya saja!"
"Kamu kenapa sih ngelihatin aku mulu dari tadi!" kesal Lendra setelah beberapa menit terjadi keheningan diantara mereka dan mulai merasa risih dengan tatapan Tania yang selalu tertuju padanya.
"Kamu tampan Mas!" jujur Tania.
"Tidak perlu kamu bilang, aku sudah tau dan sudah banyak yang mengakuinya!" sombong Lendra tetapi tetap mengunakan nada dinginnya dalam bicara.
"Andai saja aku yang menjadi Safania dicintai hebat oleh mu pasti aku adalah wanita paling bahagia didunia ini Mas, bolehkah aku merebut mu dari Safania?, tapi rasanya atau terlalu naif jika mengharapkan cinta mu yang tidak akan mungkin untuk ku miliki karena aku sendiri tau bagaimana kamu mencintai Safania begitu dalam, sedangkan aku hanya pajangan dalam kehidupan kamu, aku juga tidak dapat memastikan sampai kapan aku bertahan diposisi ini!" gumam Tania yang segera memalingkan wajahnya dari Lendra dan menatap kearah depanya.
"Kenapa berhenti menatap ku?" tanya Lendra menghentikan laju mobilnya dan kini pria itu yang menatap kearah Tania yang memasang wajah lesuhnya.
__ADS_1
"Ternyata kamu tidak setampan yang aku pikirkan!" elak Tania.