
"Kamu kenapa kesini?" tanya ibu itu pula gantian bertanya.
"Saya ingin melakukan hal yang sama dengan Ibu. Saya sudah tidak sanggup dengan pernikahaan saya. Suami saya semakin tidak menghargai keberadaan saya. Saya juga sudah melakukan hal yang sama seperti Ibu mencoba untuk bertahan bukanya, berubah suami saya justru semakin merendahkan saya. Saya lelah Bu!" jawab Tania sendu.
"Kamu masih muda pilihlah jalan hidup terbaik menurut hati kecil ku, jangan lupa libatkan Tuhan agar kamu di beri petunjuk biar kamu tidak salah dalam memilih!" ujar ibu itu menepuk bahu Tania dengan lembut.
Tania kini hanya seorang diri duduk di kursi tunggu itu. Ibu itu sudah pergi meninggalkanya bersama dua anaknya. Di pandanginya dari kejauhan dua anak yang mengandeng tangan ibunya. Tubuhnya masih sangat kecil, wajahnya masih terlalu imut tapi, ia harus menjadi anak yang terlahir dari keluarga broken home. Setelah kepergian ibu itu, Tania semakin yakin untuk mengugat suaminya sebelum ia memiloki keturunan dsri Lendra. Lebih baik dari sekarang ia menyandang status sebagai janda dari pada nanti ketika sudah memiliki keturunan anaknya harus terpisah dari orang tuanya.
"Ya Allah beri aku petunjuk atas takdir ku agar aku tidak salah dalam memilih jika, Mas Lendra bukan takdir maka, mudahkanlah urusan ku untuk mengakhiri pernikahaan kami dan ampunilah aku karena sudah melakukan hal yang sangat engkau benci!" ucap Tania menatap langit langit ruangan ini dan setetes air mata tampa terasa membasahi pipinya.
***
"Lho ruangan kak Lendra kok kosong ya?, kak Vania dan kak Tania kemana?" Naila memperhatikan seluruh ruangan Lendra, tidak di temukanya seorang pun yang berada di tempat ini. Di bukanya gorden jendela Lendra yang tertutup namun, tanda tanda keberadaan seseorang tidak di temukanya. Tidak ada bekas makan di sini lalu, kemana kakak dan iparnya?.
"Kak Tania!"
"Kak Lendra!"
"Kak Vania!"
__ADS_1
Di lihatnya ponsel Lendra yangvmasih tergelatak di sofa. Benda milik kakaknya masih berada di ruangan ini jadi, tidak mungkin jika mereka sudah pulang lebih dulu tapi, kemana mereka dan kenapa mereka tidak mengajak atau pun memberitau padanya dahulu. Naila sengaja datang kembali keruangan Lendra untuk memberitau kakaknya jika, mama mereka sudah sadar dan kini Liora sedang memanggil nama Tania.
"Kak Tania!"
"Maaf Dek, ada yang bisa yang saya bantu?" tanya seorang Suster yang kini menghampirinya dengan membawa sebuah map berwarna hijau tua. Ia melihat Naila yang tampak gelisah dan mondar mandir di depan ruangan Lendra.
"Suster kakak saya kemana ya sebelumnya, ia berada di ruangan ini dan kini tidak ada seorang pun yang berada dalam ruangan ini?"
"Pasien atas nama Lendra sedang berkunjung keruangan pak Delino, Dek!"
"Delino, Sus?" Suster itu hanya mengangguk.
Atas pemintaan Naila, Suster itu mengantar Naila ke ruangan Delino di rawat yang di dalamnya sudah ada kakaknya, Safania dan Vania namun, ia masih belum dapat menemukan keberadaan Tania. Ia menyapukan seluruh pandanganya keseluruh sudut ruangan tapi, tetap saja ia tidak melihat sosok kakak iparnya.
"Kakak juga belum tau, kita tunggu saja sampai papa sadar!"
"Kak Tania mana?, kenapa kak Safania ada di sini?" tanya Naila langsung tampa menunggu pertanyaan pertamanya di jawab. Naila juga mulai tersadar dengan keberadaan Safania. Sebelumnya ia bertemu dengan Safania yang kata security yang berjaga di rumah sakit ini ia sudah mencelakai seseorang lalu, kenapa Safania sekarang berada di sini?. Apakah masalahnya dengan orang itu sudah seleaai?. Naila menatap sinis kearah Safania. Safania hanya membuang arah pandanganya ke tempat lain. Ia sudah terbiasa menatap wajah seperti ini tapi, ia juga tidak butuh restu dan doa dari keluarga suaminya. Selama Lendra masih memiliki rasa padanya, selama itu pula ia masih aman dan ia tidak perlu memikirkan cara untuk mendapatkan uang.
"Kenapa Kak Safania di sini bukanya, Kakak harus bertanggung jawab dengan orang yang Kakak dorong?" seketika Lendra langsung menatap Safania dengan tajam. Kata mendorong yang keluar dari mulut adiknya cukup mengejutkanya. Jika benar Delino terluka karena di dorong berarti perbuataan ini ada unsur kesengajaanya dan security itu juga tadi berkata Safania sempat melarikan diri dan tidak ingin bertanggung jawab.
__ADS_1
"Naila kamu dari mana saja kok baru datang?" tanya Safania berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan agar orang yang berada dalam ruangan ini tidak terus terusan memandang kearahnya.
"Harusnya Naila yang nanya Kak, kok baru datang. Kak Lendra sudah sejak tadi di rumah sakit dan Kakak sebagai istri yang di cintai oleh kak Lendra justru baru datang, kemana saja?"
"A ... ak .... u ... aku ... tad ... tadi!"
"Sudahlah Kak sebaiknya Kakak keluar dari ruangan papa. Naila tidak ingin melihat kakak dan Naila juga yakin jika papa sadar dan di tanya papa menginginkan keberadaan Kakak disini atau tidak, Papa pasti akan menyuruh Kakak untuk keluar!" ujar Naila mendorong punggung belakang Safania agar segera pergu dari dalam ruangan orang tuanya.
"Naila!" bentak Lendra dengan keras. Naila melepaskan tanganya dari tubuh Safania dan menoleh pada Lendra yang menatapnya dengan penuh kemarahaan. Dengan mengerakan kursi rodanya, Lendra menghampiri adik dan istrinya yang sudah sedikit menjauh darinya.
"Sopankah kamu bersikap seperti itu pada orang yang lebih tua dari kamu?" tanya Lendra dengan kedua bola mata melotot menatap adikya itu. Naila justru semamin menginteskan pandanganya pada Safania yang memasang wajah penuh kegembiraan karena ia yang mendapat pembelaaan dari kakaknya.
"Naila hanya tidak ingin meluhat orang ini ada di ruangan papa!" tegas Naila.
"Safania hanya ingin bertanggung jawab jadi, biarkan dia menjaga dan merawat papa hingga papa sembuh dan kembali kesedia kala!"
"Apa? Jadi, orang ini yang sudah mencelakai papa?" ingin rasanya Naila menjambak dan menarik rambut wanita ini hingga terlepas dari kepalanya. Ia sudah sempat memegang ujung rambut Safania namun, dengan cepat Lendra menepis tangan adiknya itu sebelum perkelahian benar benar terjadi.
"Orang ini yang sudah mencelakai orang tua Kak dan Kakak masih bisa ngebelain dia? Apa sih yang Kakak lihat dari perempuan seperti dia, wanita bermuka dua. Sudah jelas Kakak mengetahui dia pelakunya dan kakak masih nyuruh aku buat sopan sama wanita tidak hati seperti dia?. Dia sengaja ngelakuin ini semua dan Kakak masih bisa sekekeh itu mencintainya setelah ia mencoba untuk lari dari tanggung jawab. Naila salut sama Kakak, perasaan Kakak luar biasa sampai kakak ngk bisa bedain mana yang tulus dan mana yang ada maunya!"
__ADS_1
"Naila!"
"Kenapa Kak, apa yang Naila bilang benarkan?"