Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 60 - Aku bukan kawanan mereka


__ADS_3

Vandir yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri di bawa kerumah sakit oleh pihak polisi sedangkan  preman lainya sudah di masukan kedalam jeruji besi. Vandir saat ini sedang di tangan oleh seorang Dokter dan dua orang Suster yang menbantunya serta dua orang polisi hang mengawalnya.


Perlahan Vandir membuka matanya secara perlahan dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Samar samar gelap hal pertama yang di lihatnya, kemudian ia mengecek kedua matanya mengunakan tangannya, akhirnya penglihatanya kembali terang seperti sedia kala. Vandir terkejut dengan kehadiran dua polisi yang berada di hadapanya. Sepintas kepalanya kembali mengingat jika ia terakhir kali sedang menghadapi preman preman yang akan melukai anaknya.


"Mana Nadya, Anak ku!" teriak Vandir yang hendak meninggalkan tempat ini dan melepas selang infus yang berada di tanganya. Namun, salah satu polisi itu segera menarik tangan Vandir agar tetap terbaring di ranjangnya dan tidak membiarkan lelaki ini untuk melarikan diri.


"Mana anak saya Pak?" tanya Vandir menatap kedua Polisi itu dengan seksama berharap ada jawaban yang akan melegakan pikiranya.


"Bapak sebaiknya tidak perlu bersandiwara seperti ini, Bapak hanya perlu memulihkan kondisi Bapak dan setelah itu Bapak ikut kami untuk menemui sekawanan Bapak yang sudah lebih dulu kami tahan!" jelas Polisi satunya lagi sembari membantu Vandir itu memasang kembali infus itu ketanganya.


"Sekawanan? Maksud Bapak apa? Saya tidak memiliki sekawanan dan tadi saya sedang menolong anak saya!" jelas Vandir yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Polisi ini yang seakan akan ia adalah orang yang bersalah akan kejadian ini.


"Sebaiknya sekarang Bapak fokus pada kesehatan Bapak dahulu!" ucap Polisi satunya lagi.


"Pak Rafa, wanita yang bersama Bapak tadi sekarang sudah sadarkan diri!" lapor Fikri pada Rafa yang sejak tadi hanya menunggu di depan ruangan Vania. Rafa menoleh pada karyawan itu. Ia juga harus melihat kondisi Nadya, tapi ia juga tidak tega untuk meninggalkan Vania walau pun gadis itu masih di tangani oleh Dokter.


"Pak, Beliau mencari keberadaan Bapak!" ucap Fikri lagi yang menyampaikan pesan Nadya. Karena Rafa yang hanya menjaga Vania, Fikri memutuskan untuk menunggu Nadya sadar di dalam ruanganya dan alhamdulilah tidak perlu waktu yang lama gadis yang di jaganya itu akhirnya, tersadar dari pingsanya.


"Bapak lihat saja dulu kondisinya biar saya yang menjaga ibu Vania di sini!" ujar Fikri lagi. Ia mengerti dengan tatapan Rafa yang terus saja tertuju pada ruangan Vania, tidak mungkin lelaki ini tega untuk meninggalkan kekasihnya.


"Baiklah saya akan melihat Nadya, kamu di sini jaga Vania dan panggil saya jika ia sudah sadar!" pinta Rafa yang kemudian meninggalkan pegawai kantornya itu. Fikri mendudukan bokong di kursi yang berada di depan ruangan Vania. Rasanya hari ini ia terlalu letih dan kecapekan, tubuhnya sangat sedikit beristirahat. Fikri memutuskan untuk menuturkan sejenak tubuhnya di atas kursi ini sembari menunggu kehadiran Rafa kembali ketempat ini.


Di depan ruangan Nadya, Rafa melihat tiga bawahan Fikri sedang berjaga di depan pintu ruangan Nadya. Tampa berkata dan menyapa ketiga orang itu Rafa segera masuk kedalam ruangan Nadya. Dan betul saja Nadya sudah sadar dan kini wanita itu sedang melakukan pergerakan sepertinya Nadya ingin mengambil gelas yang berisi air putih di atas meja yang berada di sebelah ranjangnya.

__ADS_1


"Awhhhhh!" gadis itu hampir saja terjatuh dari ranjangnya karena tanganya yang belum sampai meraih gelas itu namun, ia sudah berada di ujung ranjangnya dan gelas itu berada di ujung meja yang membuat semakin kesulitan untuk meraihnya namun, tenggorokannya sudah semakin kering.


"Ini!" ujar Rafa yang sudah berdiri di depan Nadya dan memberikan gelas yang ingin di ambil oleh Nadya dan memberikannya pada gadis itu. Nadya menatap wajah tampan Rafa yang tampak lesu dan kelelahan bahkan rambutnya saja sudah acak acakan.


"Ini gelasnya!" ulang Rafa pada ucapanya karena Nadya yang tidak segera mengambilnya dan hanya menatap pada gelas yang di berikanya.


"Terima kasih!" ucap Nadya yang kemudian meneguk air itu hingga habis tampa jeda. Tenggorokannya benar benar sangat kering dan ia kembali menyerahkan gelas itu pada Rafa.


"Gimana kondisi kamu?" tanya Rafa dengan nada dinginnya dan duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Nadya setelah meletakan gelasnya kembali ketempatnya sedia kala.


"Aku sudah sedikit membaik!" ucap Nadya dengan bibir kering memutihnya. Wajahnya masih terlihat pucat dan matanya masih tampak menyimpan kesakitan yang di rasakanya.


"Tubuh kamu masih terasa sangat dingin!" ujar Rafa setelah mengecek suhu badan Nadya di bagian kening, pergelangan tangan dan leher Nadya dan Nadya hanya dapat tersenyum dengan perhatian kecil yang di berikan Rafa padanya.


Rafa mulai menyadari sejak berada di rumah sakit ia tidak melihat keberadaan Vandir. Fikri juga tidak ada memberikan  laporan tentang pria itu, ia hanya menyampaikan tentang Nadya saja.


"Om vandir?"


"Iya, Ayah kemana?" tanya Nadya yang mulai memperhatikan sekelilingnya namun, tidak di temukanya sosok cinta pertamanya itu.


"Kamu tenang dulu ya, aku tanyakan dulu pada Fikri!" ucap Rafa yang segera keluar dari ruangan Nadya dan menghubungi kontak Fikri setelah berada di depan pintu ruangan Nadya. Setelah perbincangan yang hanya beberapa detik lewat sambungan udara, Fikri langsung menghampiri Rafa keuangan nadya di rawat, sesampainya di ruangan Nadya, Fikri segera memerintahkan anak buahnya untuk bergantian menjaga di ruangan Vania.


"Kemana Pak Vandir?" tanya Rafa.

__ADS_1


"Pak Vandir? Siapa beliau?" tanya Fikri kembali bertanya karena ia memang tidak mengenali sosok yang di maksud oleh Rafa.


"Pak Vandir adalah orang tua dari wanita yang kita tolong, Sekarang Pak Vandirnya kemana?" tanya Rafa lebih tegas dari sebelemunya. Fikri mulai tersadar jika di tempat kejadian ada tiga orang yang terluka, Vania di bawa oleh Rafa langsung, ia membawa gadis yang saat ini sedang di jenguknya dan satu seorang lelaki paruh baya yang juga tak sadarkan diri, di tinggalkan di tempat kejadian karena ia berfikir jika lelaki termasuk sekelompok orang yang ingin menyerang.


"Kami meninggalkanya di tempat kejadian Pak!" jawab Fikri tertunduk takut, sudah pasti Rafa akan marah besar padanya.


"Bod*h!" celutuk Rafa yang kembali masuk kedalam ruangan Nadya.


Fikri segera menempatkan posisinya. Ia kembali keruangan Vania dan menemui bawahanya. Ia mengajak kedua bawahanya untuk kembali ketempat kejadian dan satu bawahanya di perintahkanya untuk tetap menjaga Vania.


Nihil, perjalanan yang cukup jauh tidak membuahkan hasil bagi mereka, tempat kejadian sudah sepi, tidak ada seorang pun yang tertinggal, lalu kemana orang yang di maksud oleh Rafa. Tidak mungkin ia berjalan sendiri karena tadi beliau masih dalam keadaan pingsan sekali pun ia sudah sadar pasti tubuhnya masih terasa sangat lemah.


"Tidak ada orang di sini Bos!" lapor bawahanya pada setelah mengelilingi tempat ini. Fikri masih berusaha menyapukan pandanganya di tempat ini, barang kali ia dapat menemukan jejak kepergian lelaki ini. Jika ia kembali tampa membawa kabar pasti Rafa akan semakin marah padanya.


"Kelilingi seluruh kota ini untuk mencari lelaki itu!" perintah Fikri.


"Pak, Saya ingin keluar dari tempat ini, Saya ingin bertemu dengan anak saya, kemana dia?" tanya Vandir kembali pada seorang orang Polisi itu.


"Bagaimana Pak?" tanya Polisi itu pada temenan Polisinya yang baru saja memasuki ruangan Vandir dari ruang administrasi dan ia juga membawa beberapa obat di tanganya.


"Bapak ini sudah boleh pulang tetapi ia harus mengkonsumsi obat obat dari rumah sakit!" ujar Polisi satunya lagi.


"Berarti saya sudah boleh pulang?" tanya Vandir antusias.

__ADS_1


"Bapak ikut kita kekantor Polisi untuk bergabung dengan teman teman Bapak yang lain yang sudah kami tahan lebih dulu!"


__ADS_2