Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 79 - Makanan


__ADS_3

Tania membantu supir yang membawa mereka keapartemen yang juga sudah disiapkan oleh mertuanya. Ia membawa beberapa barang yang dapat diangkutnya agar meringankan sedikit pekerjaan supir itu dan seperti biasa Lendra sudah berjalan lebih dulu dengan tangan kosong.


"Biar saya saja Bu, Saya tidak enak jika harus mengusahkan atasan saya," ujar supir itu seraya mengeluarkan koper dari dalam bagasi mobil.


"Kita sama sama manusia Pak, tidak ada pembeda antara kita dan saya juga orang baru kok dikeluarga pak Lendra!" balas Tania sembari menarik beberapa barang yang  bisa di turunkan dari dalam mobil.


Tania berulang kali menghirup udara segar yang ada disekitarnya, jika didaerahnya waktu seperti ini pasti udara sudah tercemar sedangkan disini udaranya masih terasa sangat sejuk, selain bersih tempatnya juga sangat bagus untuk dijadikan destinasi. Sebenarnya ke Bali bukanlah hal pertama kali bagi Tania, dulu ia sangat sering datang kedaerah sini bersama orang tuanya, bahkan dulu Fadli dan Nisha mempunyai beberapa angkringan dan apartemen di sini.


Namun, karena pada saat itu Tania sedang sakit keras dan harus di rawat di ibu kota, mereka harus pindah kejakarta karena tak ingin sesuatu buruk terjadi pada anaknya, Fadli memutuskan untuk fokus pada kondisi kesehatan putrinya dan ia sudah tidak memiliki waktu untuk mengurus usahanya yang ada di Bali dan ia memutuskan untuk menjual sumber pundi pundi uang yang selama ini memenuhi kebutuhannya dan membuat usaha baru di sekitaranya.


Semakin panjang perjalanan Tania, ia semakin tidak asing dengan sekitarnya, ia seperti pernah ketempat ini, namun ia juga ragu, tapi dari segi bangunanya, ia benar benar seperti mengenalinya namun, masih ada keraguan di hatinya.


Tania masuk kedalam salah satu kamar yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka dan didalam sudah ada Lendra yang terbaring diatas kasur yang sedang memainkan ponselnya, sepertinya suaminya ini sedang bermain game tampak dari ia memiringkan ponselnya.


Tania menatap ruangan apartemen ini, ia melihat adanya bingkai fotonya yang terpajang ditempat ini dan beberapa foto Lendra. Mertuanya benar benarnya menyiapkan dengan sangat matang hingga mendekor ruangan ini seestetik mungkin. Beruntung rasanya memiliki keluarga baru seperti keluarga Delino walau sikap suaminya yang kadang membuatnya lelah sendiri dengan kehidupannya.

__ADS_1


Namun, sayangnya diantara foto itu tidak ada fotonya berdua dengan Lendra karena sejak awal menikah Tania dan Lendra memang belum melakukan sesi potret karena diacara pernikahaanya Tania kabur.


"Mas mau makan apa?" tanya Tania setelah meletakan koper yang dibawanya didekat lemari besar.


"Aku sudah memesanya secara online," jawab Lendra dengan pandangan yang masih terfokus pada latar ponselnya.


Perjalanan yang tidak dekat membuat tubuh Tania mulai merasakan lelah, pinggangnya mulai terasa encok, ia meresahkan sejenak tubuhnya diatas ranjang, disebelah Lendra seketika pria itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Tania dengan tatapan yang sulit diartikan dan ia segera menjauhkan tubuhnya dari Tania.


"Ngapain kamu?" tanya Lendra.


"Oh iya, kamu jangan berharap ya kita melakukan apa pun ditempat ini, kita kesini hanya untuk memenuhi keinginan papa dan mama agar mereka cepat sembuh dan segera kembali kerumah bukan untuk melakukan hubungan suami istri." ujar Lendra yang langsung meninggalkan Tania dan berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya.


"Dan satu lagi kita tidak tidur dalam satu kasur antara kamu dan aku nanti ada yang tidur disofa dan yang sudah jelas itu kamu!" ujar Lendra yang kembali menghampiri Tania dan kembali masuk kedalam kamar mandi.


"Segitunya kamu keaku Mas, apa aku terlalu menjijikan buat kamu hingga kamu menjauhi ku seperti bangkai yang ada di depan mata mu," ucap Tania menatap sendu kearah pintu kamar mandi. Jika tidak mengingat kebaikan mertua dan adik iparnya mungkin ia tidak akan bertahan hingga sejauh ini dan paling utama jika bukan karena ilmu agama yang di punyanya, ia sudah pasti lebih dulu menggugat Lendra atas perbuatanya lelaki itu yang tidak pernah bersikap adil padanya.

__ADS_1


Tania memang tidak begitu mengharapkan adanya kenangan indah dari honeymoon mereka sekarang karena ia sangat mengetahui kalau Lendra sangat tidak menginginkan hal ini. Ia hanya sedang memikirkan bagaimana nanti kecewanya mertuanya saat mengetahui mereka pulang tampa membawa kabar baik, bahkan Lendra saja tidak menyentuh tubuhnya, padahal Delino dan Liora sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu dari mereka. Tania tidak dapat membayangkan bagaimana raut wajah mertuanya.


Ia tidak ingin larut dalam memikirkan hal ini yang hanya akan membuat pusing kepalanya dan tidak akan merubah takdirnya yang ada membuat sakit hatinya saja, toh sikap Lendra juga tidak akan berubah. Ia memilih untuk mengeluarkan semua pakaian pakaian gang berada didalam koper dan memasukanya kedalam lemari.


Tania mendengar adanya suara bel yang berbunyi dari luar pintunya, sepertinya makanan pesanan Lendra sudah datang. Ia segera menghampiri kurir yang mengantarkannya dan tampa bertanya dan perintah dari Lendra ia segera membuka dan menghilangkan makanan itu ke piring namun, alangkah terkejut Tania saat melihat makanan yang di pesan oleh Lendra hanya ada seporsi makanan yang berlaukan udang yang tidak di sukainya. Sebegitu bencinya suaminya padanya hingga untuk memesankan makanan saja ia tidak mau.


Matanya berkaca kaca menatap makananya itu, bukan karena ia merasa lapar atau menginginkan makanan namun, rasa sakit yang dirasakanya karena sedikit pun Lendra tidak menaruh peduli padanya. tapi ia tidak boleh egois, ia harus tetap sabar dan memperlakukan suaminya dengan baik, ia tetap menghidangkan makanan Lendra dan menyediakan minuman untuk lelaki itu.


Tak dapat mengendalikan dirinya, air matanya menetes begitu saja saat mengeluarkan minuman yang juga di pesan oleh pria itu dari dalam plastik, tapi ia merasa heran kenapa Lendra memesan dua botol minuman sedangkan makananya hanya seporsi, tapi mungkin saja lelaki ini tidak dapat makan jika minumannya hanya sedikit pikir Tania.


Melihat pintu kamar mandi mulai terbuka Tania segera menghapus air mata yang membasahi wajahnya dan ia langsung naik keatas kasur dan tidur membelakangi Lendra serta menutup tubuhnya dengan lembut tebal yang ada didalam kamar ini agar suaminya tidak mengetahui jika ia baru saja menangis.


Lendra menatap sekilas kearah Tania dan melihat makananya sudah tertata dengan rapi diatas lantai. Pasti Tania yang sudah menyiapkan pikirnya karena memang hanya ada ia dan Tania yang berada di tempat ini. Perutnya juga mulai terasa lapar, ia segera duduk di dekat makanan itu. Lendra juga terkejut saat melihat makanan yang sudah di pesannya kenapa makananya hanya sedikit padahal tadi ia memesan dua porsi nasi dan empat menu lauk. Mungkin saja Tania sudah makan lebih dulu, pikirnya lagi dengan mulai memasukan makanan itu kedalam mulutnya.


Namun, Lendra terdiam sejenak, tidak mungkin Tania lantang memakan makanannya tampa izin terlebih dulu dan tidak mungkin pula Tania memakan makanan sebanyak itu dalam waktu singkat.

__ADS_1


__ADS_2