
Sesuai rekomendasi Dokter yang meminta Lendra untuk banyak berada di bawah terik matahari pada pagi hari. Kini lelaki itu berada dihalaman rumah sedangkan Tania membersihkan rumah mereka. Lendra tidak hanya sekedar berjemur, ia memainkan ponselnya dan melihat hal hal terbaru di handphonenya. Beberapa kali pula ia melihat postingan Safania yang menunjukan kemesraanya bersama lelaki barunya.
Demi menghindari sakit hatinya. Lendra hanya mengabaikanya dan melihat berita baru lainya. Terlintas di pikiranya mengapa ia tidak memanfaatkan ketenaraanya saja sebagai pengusaha muda. Dengan beberapa perusahaan yang pernah dipimpinya membuat banyak wanita sempat mengaguminya.
"Mengapa tidak dibuat sebagai peluang saja?" pikirnya kala menyadari kesempatan itu. Toh ia juga memiliki modal bukan?, selain tampan, ia juga sudah tidak asing dimata publik. Ia juga memiliki handphone dan laptop sebagai medianya. Apalagi dengan kondisinya saat ini yang sudah tidak mungkin untuk bekerja keras sebelum kesehatanya membaik.
"Mas ini minumnya sudah aku buatkan!" teriak Tania dari depan pintunya dengan tangan yang membawa nampan ditanganha yang juga berisikan makanan ringan.
"Tania!" panggil Lendra kembali.
"Ada apa Mas?" tanya Tania menaikan sebelas alisnya.
"Papa ngasih kamu uang berapa?" pertanyaan Lendra sontak membuat Tania terkejut seakan suaminya tidaklah menaruh kepercayaan padanya.
"Boleh ngk sisa uangnya kita pakai buat modal?" tanya Lendra setelah menghampiri Tania yang masih mematung.
"Kamu mau buat usaha apa Mas?"
"Gimana kalau kita memanfaatkan media sosial buat kehidupan hari, selain kerjanya santai kita juga dapat bekerja di rumah saja jadi, aku juga bisa bekerja dan kamu juga tidak perlu jauh jauh kekantor Vania!" usul Lendra. Tampa berfikir Tania langsung mengelengkan kepalanya pertanda ia tidak menyetujui ide suaminyabyang dianggapmya konyol.
"Ngk usah deh Mas, kerja seperti itu hanya dapat dilakukan sebagai pekerjaan sampingan karena pekerja seperti itukan hanya menjanjikan jika kita memiliki banyak followers sedangkan kamu baru memulainya sebaik kita buat usaha lain deh Mas!" ujar Tania sembari menyeruput minumanya.
"Tan kalau kita komitmen dan fokus dengan pekerjaan ini Insya Allah menjanjikan kok!" Lendra berusaha menyakinkan.
"Mas, aku setuju dengan ide kamu tapi sebaiknya itu sebagai pekerjaan sampingan saja dan kita buat usaha lain juga. Aku tidak yakin dengan pekerjaan seperti itu dapat menghidupi kita sedangkan kamu baru memulainya!"
"Tania, kamu lupa siapa suami kamu?"
"Pak Lendra seorang Ceo besar dengan tiga perusahaan namun, sekarang perusahaan tersebut disita oleh orang tua hanya beralaskan modal berasal dari mereka!" ujar Tania disertai dengan tawa renyah. Tawa itu baru berhenti ketika Lendra menatapnya dengan tajam.
"Coba kamu searcing, siapa suami kamu ini!"
"Malas ogah, ngapain juga aku searcing, sudah ada di hadapan aku juga!"
"Tania asal kamu tau suami kamu ini banyak menjadi idaman wanita wanita di luar sana!" puji Lendra penuh keanggkuhan. Tania memasang wajah menjijikan dan seolah olah ingin muntah dihadapan suaminya.
"Iya kamu terkenal Mas di perusahaan kanu tapi bukan berarti kamu juga terkenal di media sosial. Jangan ngawur deh!" tawa Tania meledak.
__ADS_1
"Kamu ini sibuk ngapain sih selama gadis?" Lendra memasang tatapan intens. Ia paling tidak suka di sepelekan seperti ini. Tania mengerti dengan hal itu namun, ia memilih untuk tetap tertawa karena momen seperti ini sangat jarang terjadj atau mungkin tidak akan terjadi kembali.
"Jelasnya aku tidak menghayu seperti kamu, Mas!"
"Tania, aku bertanya serius jangan menyepelekan ku seperti ini!"
"Aku sibuk bekerja dan kegiatan yang lainya!"
"Coba kamu buka ponsel kamu dan tulis nama aku!"
"Akun kamu yang mana yang harus aku buka Mas buat melihat banyaknya fans cewek kamu itu?" ujar Tania dengan nada yang masih meledek Lendra.
"Terserah!" singkatnya.
"Mas!"
"Ha!"
"Ini serius?, lelaki yang nikahi aku punya ribuan fans dan terutama dan kamu hawa!, bagaimana bisa?"
"Mas ini seriusan medsos kamu?, Banyak sekali followers kamu!" ujar Tania heboh sembari mengejar Lendra yang sudah lebih dulu masuk kekamar.
"Mas, kamu marah sama aku?, yaudah deh aku minta maaf tapi, jangan ngambek seperti itu dong!" ucap Tania dengan nada manjanya dan menarik lengan kiri suaminya yang pada saat itu Lendra hendak naik keatas ranjang.
"Tania lepas saya mau tidur!"
"Mas jangan ngambek dong, Maaf!"
"Lepasin Tania!"
"Mas maaf dong!"
"Lepasin, saya mau tidur!"
"Dokter bilang kalau dipagu hari kamu harus banyak gerak jangan malah tiduran nanti makin lama tau sembuhnya!" Tania memanyunkan bibirnya. Hal itu tentu tidak dapat meluluhkan hati Lendra yang sudah lebih dulu merasa kesal padanya.
"Mas maaf atuh!"
__ADS_1
"Tania!"
"Huek huek huek!"
Lendra hanya dapat menarik nafasnya gusar. Tania kembali mual sudah dapat dipastikan istrinya sedang sakit. Ia harus kembali menghampiri Tania diwastafel dapurnya dan memberikan Tania minuman hangat yang diambilnya dari dispenser.
Lendra meminta istrinya untuk mendudukan diri sejenak di kursi meja makan. Tania tampa memberikan alasan segera melaksanakan perintah suaminya.
"Aku tidak apa apa Mas!" ujar Tania sebelum Lendra melontarkan pertanyaan yang akan menanyakan keadaanya saat ini.
"Kita kerumah sakit!"
"Tidak, aku tidak kau Mas. Ini hanya masuk angin, aku tidak ingin bertemu Dokter dan aku juga tidak ingin mengomsumsi obat obat. Besok atau lusa ini juga sudah membaik!"
"Tania kenapa kamu tidak bisa mematuhi perintah suami kamu?"
"Bukan tidak bisa Mas, kamu terlalu berlebihan ini hanya sakit biasa dan kemungkinan hanya masuk angin!"
"Kamu kenapa sih susah banget di bilangin?"
"Kamu yang terlalu berlebihan Mas!"
"Tania!"
"Mas!"
"Tania!"
"Kak Lendra!"
Entah mendapatkan informasi dari mana tiba tiba saja Naila sudah berada didalam rumah mereka dengan membawa bingkisan dan juga beberapa kantong plastik yang berisikan buah buahan. Gadis kecil itu langsung berdiri membelakangi Tania dan menatap intens kearah kakak kandung.
"Berani ya Kakak marahin kak Tania. Jangan sementang sekarang Kakak hanya tinggal berdua dengan kak Tania, Kakak bebas memarahi kak Tania karena sudah tidak ada yang membelanya. Dimana pun kalian berada aku akan terus jagain kak Tania!" tegas Naila pada Lendra dengan jari telunjuk yang mengarah pada wajah lelaki itu.
Apaasn sih Dek?" tingkat kekesalan Lendra kian memuncak. Belum selesai dengan masalah tadi kini Tania tidak mau menuruti permintaanya ditambah adiknya yang sok tau urusan mereka. Ia menyingkirkan jari telunjuk Naila yang tepat mengenai hidungnya.
"Apa apaan?, Kakak sadar ngk sih Kakak itu sudah keterlaluan sama kak Tania bahkan saat keadaan Kakak seperti ini pun dia masih mau menemani Kakak dan sekarang Kakak masih tega memarahinya. Aku ngk nyangka Kakak sekejam itu menjadi seorang suami!"
__ADS_1