
"Siapa yang datang Bi?" tanya Tifani pada Narsi yang kini sudah kembali kedalam kamar Tifani.
"Non Vania Bu sama Den Rafa, ada temen juga!" jawab Narsi.
"Syukurlah jika Rafa dan Vania sudah baikan!"
Kepala Evandi mulai terasa sakit dan nyeri kini semakin menghampirinya. Ia terlalu memaksakan mengingat perihal foto yang di simpanya. Rasa penasaraan itu terus menghantuinya.
"Akkkhhhhhh!" teriak Evandi memegangi kepalanya, tapi matanya masih saja menatap foto foto itu. pikirannya masih saja mengingat orang itu.
Mendengar Evandi berteriak kesakitan, Sari segera berlari menuju kamar majikanya itu dan melihat kondisi Evandi. Sesampainya di ruangan itu Sari segera merebahkan tubuh Evandi di atas kasur dan mengambil obat serta segelas air putih untuk minum pria itu.
"Den kepalanya masih sakit?" tanya Sari setelah melihat kondisi Evandi lebih tenang dari sebelumnya.
"Sudah mendingan Bi!" jawabnya sembari memijat kepalanya yang masih terasa berdenyut.
"Den kenapa? Den ingat sesuatu?"
Evandi memberikan ponselnya pada Sari dan menunjukan foto yang sejak tadi di pandang olehnya dan seketika seuntai senyum terbit di bibir Sari melihat foto gadis yang di tunjukan oleh Evandi.
"Dia siapa Bi?" tanya Evandi binggung karena Sari hanya terdiam dan senyum tidak karuan.
"Dia sahabat Den juga, sahabat banget malah!"
"Cuma sahabat Bi?" tanya Evandi menaikan sebelah alisnya karena rasanya tidak mungkin baginya jika hanya sahabat ia menyimpan foto orang itu sebanyak itu.
"Den juga menaruh rasa ke wanita itu tapi Den tidak pernah mengungkapkanya, Den selalu menyuruh Bibi untuk mendoakan Den agar berjodoh dengannya namun, kenyataannya dia sudah menikah tampa sepengetahuan Den, dan ketika mengetahui hal itu, Den langsung menyusirnya dari rumah Den!"
"Kenapa dia bisa menikah tampa sepengetahuan saya, Bi?"
"Bibi juga tidak mengetahuinya secara pasti, yang jelas hari itu Den membawanya kerumah ini dalam keadaan pingsan dan mengunakan baju kebaya dan ketika dia sadar, dia bercerita jika ia sudah menikah dan lari dari pernikahaanya dan Den langsung mengusirnya tampa memberikanya waktu untuk menjelaskan semuanya!" jelas Sari.
__ADS_1
"Apakah pernikahaan tetap berlangsung setelah dia menikah?"
"Pernikahaannya tetap berlangsung dan sah makanya Den langsung mengusirnya!"
"Kenapa saya bisa sejahat itu ya Bi?"
"Mungkin Den syok mendengarnya!"
"Tapi kata Rusdi, paginya sebelum kejadian saya, Lendra sedang melangsungkan pernikahaanya?"
"Maksud Den?"
"Apa jangan jangan pria yang menikahi wanita ini Lendra?"
"Tidak mungkinlah Den, jika Den Lendra pria itu, tidak mungkin Widya kabur, Den Lendrakan orang baik!"
"Jadi wanita ini namanya Widya, Bi?" Sari hanya mengangguk.
Pencarian keberadaan Tania kembali di lakukan, kali ini tidak hanya Rafa yang pergi mencarinya Vania, Nadya dan Vandir ikut dalam pencarian ini dan Vania sengaja meninggalkan Tifani di rumah agar mamanya itu tidak kelelahaan.
"Insyallah!" Vandir.
"Kok aku ngerasa ya Nadya dan ayahnya ini baik banget, jarang loh ada orang baik sekarang. Apa mungkin ya Rafa dan Nadya sudah saling kenal sejak lama?" gumam Vania menatap Rafa dan Nadya secara bergantiaan dan kemudian hanya mampu menghela nafasnya panjang.
"Sudah dong Ma, mukanya jangan di cemberuti gitu terus!" goda Delino pada Liora yang sejak tadi memasang wajah jeruknya dan mencolek ujung hidung wanita yang duduk di hadapanya itu.
"Mama tuh kesal Pa sama Lendra, bisa bisanya dia mempersilahkan wanita itu makan bersama dengan kita, ada istrinya lagi, dia apa tidak menghargai Tania? Mama sebagai sesama wanita mengerti, apa yang menantu Mama rasakan dan Mama ngk akan membela anak Mama jika dia salah!" cerocos Liora.
"Andai Mama tau jika wanita itu juga istri mas Lendra. Apa Mama masih memihak ke aku?" gumam Tania.
"Kakak kenapa?" tanya Naila melihat Tania yang sempat melamun.
__ADS_1
"Hm ... ng ... ngkpp kok!"
"Kamu beneran ngkpp?" Delino.
"Ngkpp kok Pa!"
"Dari pada Mama marah gak jelas gini mending Mama marahi anaknya langsung!" saran Delino. Delino beranggapan jika Tania sempat terdiam karena masih memikirkan Lendra dan merasa sakit hati terhadap anaknya itu.
"Iya, ya, Mama harus marahi tuh anak!"
"Aaaaaaaaaaa!"
Hampir saja Rafa tertabrak mobil yang melintas di depanya, untung saja ia cepat memutar setirnya dan mengambil jalur lain, walau pada akhirnya menabrak pohong rindang. Kepala Rafa mengenai setir hingga mengeluarkan darah segar, dengan cepat Vandir langsung menarik tubuh pemuda itu keluar dari mobil. Nadya juga mengambil kota p3k yang ada di dalam mobil Rafa dan membantu ayahnya membersihkan luka di kening Rafa.
Rusdi memukul setir mobilnya dengan keras saat melihat kejadian yang ada di hadapanya karena ulahnya. Ia kini menyadari karena mengendarai mobil dalam keadaan yang masih belum stabil membuatnya tidak fokus dan justru malah membahayakan orang lain. Ia hanya terdiam di kursi mobilnya dengan detakan jantungnya yang lebih kencang dari sebelumnya dan berusaha untuk menetral tubuhnya dahulu.
"Heyyy, Keluar loh!" teriak Vania memukul kaca mobil Rusdi dengan keras. Setelah menghela nafas panjang Rusdi membuka kaca mobilnya dan melihat seorang wanita yang sedang marah padanya.
"Loh lihat karena ulah loh!" bentak Vania menunjuk kearah Rafa yang sedang di tangani oleh Vandir dan Nadya.
"Orangnya meninggal?"
"Loh ngedoain pacar gue meninggal?"
"Bu ... bu ... bukan gitu!" ucap Rusdi terbata bata yang kini sudah keluar dari dalam mobil karena Vania menarik rambutnya dari kaca mobilnya.
"Loh kalau ngk bisa bawa mobil mending sewa supir aja deh!" ucap Vania seraya menarik tubuh Rusdi ke tempat Rafa tergelatak di lantai.
"Luka sudah di obati dan darahnya juga sudah berhenti mengalir, sebaiknya sekarang kita harus membawa Rafa kerumah sakit!" ucap Vandir yang langsung membopong tubuh Rafa dan membawanya masuk kedalam mobil Rusdi dan yang lain mengikuti langkahnya dari belakang.
"Kalian bawa Rafa kerumah sakit, masalah mobil biar saya yang menanganinya!" ujar Vandir setelah keluar dari mobil Rusdi.
__ADS_1
"Ayah hati hati ya!" dan Vandir hanya tersenyum.
"Kalau ada apa apa sama pacar gue, loh tanggung jawab!" teriak Vania yang duduk di kursi belakang dengan memangku tubuh Rafa. Rusdi melihat tatapan tajam yang di lontarkan wanita itu padanya hanya dapat terdiam.